Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 16


__ADS_3

Senyum di wajah Rama semakin mengembang.


Diska melihat senyuman itu.


"Kamu kenapa tersenyum, Bang?" tanya Diska mengernyitkan dahinya.


"Enggak apa-apa," jawab Rama sambil mengelus punggung Farel yang kini sudah membaringkan tubuhnya di atas bangku panjang itu.


Rama memiringkan tubuh Farel, agar dia bisa mengusap lembut punggung anak kecil itu.


"Eh, sepertinya Farel udah tidur," ujar Diska sambil melihat putranya yang sudah terlelap.


"Senang ya, Dek. Punya ank yang tidak rewel seperti Farel. Anaknya baik dan tidak susah diatur," ujar Rama mengalihkan pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah, Bang. Mungkin ini semua pertolongan Allah buat aku, Dia tahu aku membesarkan Farel seorang diri sambil bekerja," ujar Diska.


Rama dapat merasakan sulitnya kehidupan Diska.


"Apakah kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Rama pada Diska.


Rama ingin tahu bagaimana perasaan wanita yang dicintainya itu terhadap dirinya saat ini.


Diska menatap dalam ke arah Rama, dia masih diam. Rama juga membalas tatapan itu, kini mereka menyelami rasa yang ada di hati mereka masing-masing.


Tatapan kedua insan itu masih sama dengan 3 tahun lalu. Masih terlihat dengan jelas si mata Rama cinta teruntuk Diska, begitu juga sebaliknya tatapan cinta di mata Diska untuk Rama masih sama seperti dulu.


"Ikannya banyak juga ya, Ci." Rudi senang mendapatkan anak ikan yang banyak dari anak sungai yang tidak jauh dari pondok Rama.


"Iya, nih. Nanti kita bikin gulai pati pasti enak," ujar Uci Desmi bersemangat.


"Gulai pati, gulai apa itu, Ci?" tanya Mbak Yuyun penasaran.


Dia memang tidak tahu seperti apa gulai yang dimaksud oleh Uci Desmi dan Rudi.


"Gulainya seperti biasa, Mbak Yuyun, tapi nanti kita tambahkan gilingan kelapa. Jadi, di gulai itu ada dedak kelapanya. Nanti Mbak Yuyun coba, ya," jelas Uci Desmi menjawab pertanyaan dari Mbak Yuyun.


"Mhm, sepertinya enak," lirih Mbak Yuyun.


Rama dan Diska saling memalingkan wajah saat mendengar percakapan Rudi, Uci Desmi, dan Mbak Yuyun yang sudah datang.


"Ya ampun, Farel udah tidur aja," ujar Mbak Yuyun saat melihat Farel sudah tertidur.


Mereka kembali bergabung dengan Rama dan dan Diska.


Rama dan Diska pun menoleh kepada mereka yang baru datang.


"Banyak banget yang kalian dapat," ujar Rama.

__ADS_1


Rama yang sering mencari ikan di sana tidak pernah mendapat anak ikan sebanyak yang didapat oleh Rudi dan yang lainnya.


"Iya, Ram. Aku dapat di bagian ujung dekat air pembelahan," ujar Rudi.


"Oh, aku aja yang bisa cari di sana, jarang dapat sebanyak itu, mungkin memang rejekinya Mbak Yuyun," ujar Rama.


"Udah siang, ayo kita makan siang dulu." Uci Desmi mengajak mereka bersiap untuk makan siang.


Mereka pun bersiap-siap untuk makan, Rudi melangkah ke belakang pondok lalu mengambil daun pisang untuk piring mereka, setelah itu dia mengambil air di sebuah anak sungai yang tidak jauh dari pondok milik Rama.


"Ayo, kita makan!" seru Rudi sambil membawa wadah berisi air.


Mereka pun menikmati makan siang sederhana di kebun milik Rama.


Setiap orang menyantap makan siang mereka dengan lahap. Menu sederhana yang dimasak Uci Desmi tadi pagi.


****


Di tempat lain.


"Aku benci!"


PRANK.


"Kamu jahat!"


"Ini semua salah kamu, Pak!"


"Ini salah kalian!"


Teriakan demi teriakan terus menggema dari kamar Annisa, satu persatu barang-barang di dalam kamar Annisa terdengar hancur dan pecah.


Annisa baru saja mulai tenang, satu tahun ini kesehatan Annisa mulai membaik, tapi hari ini dia kembali mengamuk saat mendengar cerita yang beredar di desa Tanjung.


Dia mendapat kabar bahwa Diska saat ini sedang berada di desa. Dia juga mendengar kabar Rama pergi bermain ke rumah Uci Desmi.


"Annisa!" teriak Pak Didin panik menghadapi putrinya yang tiba-tiba mengamuk.


Kondisi Annisa setelah diceraikan oleh Rama sangat tragis, wanita itu tidak bisa menerima keputusan yang diambil oleh Rama malam itu.


Akhirnya dia mengalami penyakit gangguan kejiwaan.


Selama 2 tahun ini pak Didin sudah melakukan pengobatan ke sana ke mari untuk mengobati Annisa yang jiwanya terguncang karena kecewa dan patah hati.


Berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Pak Didin terhadap kedua orang tua Rama dengan mudah menyebar begitu saja sehingga banyak warga yang mencemooh perbuatan tersebut.


Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Pak Didin pun luntur begitu saja, hal ini berujung pada karir Pak Didin.

__ADS_1


Masyarakat meminta pak Didin mengundurkan diri melepaskan jabatannya. Akhirnya Pak Didin pun kini hanyalah warga biasa yang kembali bekerja serabutan di desa.


Nita buruknya yang mengincar sesuatu dari Rama menjadi petaka dalam hidupnya.


Saat ini tak banyak warga yang mau berinteraksi dengan keluarga pak Didin.


Prank buarr.


Berbagai bunyi barang-barang yang pecah di rumah pak Didin menarik perhatian warga, beberapa warga telah berdiri di depan rumah Pak Didin ingin menyaksikan kegilaan Annisa yang mengamuk.


"Parah si Nisa, sekarang bangkit lagi penyakitnya," ujar salah satu ibu-ibu yang ikut berdiri di depan rumah pak Didin.


"Padahal dia sudah mulai sembuh, tapi kabarnya dia mendengar kedatangan Bu dokter Diska ke rumah Uci Desmi, makanya dia ngamuk lagi," ujar ibu yang lainnya.


"Iya, kabarnya kemarin Rama maen ke sana sekaligus ketemuan sama Diska." Ibu yang lainnya pun ikut menimpali.


"Ini semua gara-gara bapak! Bapak pembunuh! Aku benci, Bapak! Aku benci, Ibu!" teriak Annisa lagi.


Pak Didin langsung menghampiri putrinya sambil menghindari lemparan barang-barang yang ditujukan Annisa pada dirinya.


Pak Didin memeluk tubuh putrinya.


"Bu, cepat ambilkan kain panjang!" perintah pak Didin pada istrinya.


Istri Pak Didin tergopoh-gopoh mengambil kain panjang yang ada di lemar putrinya.


"Ini, Pak." Istri pak Didin mengulurkan kain panjang pada suaminya.


Pak Didin pun mulai mengikat tangan Annisa ke tempat tidur.


Dia mengikat tangan dan kaki putrinya di tempat tidur agar tidak bisa mengamuk lagi, pak Didin juga memberikan obat penenang pada Annisa.


Setelah Annisa mulai tenang, pak Didin menghela napas panjang.


"Bu, bersihkan ini semua! Aku pusing melihat tingkah putrimu," ujar pak Didin.


Pak Didin sudah lelah menghadapi tingkah Annisa yang tidak bisa menahan dirinya.


Baru satu tahun ini dia merasakan hidup normal, tapi sekarang penyakit putrinya kembali kambuh.


Istri pak Didin mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar putrinya.


Sekejap mata kamar Annisa berserakan tak keruan, berbagai pecahan kaca bertebaran di kamar itu.


"Ya Allah, sampai kapan kau akan memberi hukuman kepada kami, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani azab ini," lirih istri pak Didin sambil menangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2