Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 37


__ADS_3

Setelah Diska mandi, dia pun mengenakan gamis santai dan memakai hijab sarung.


"Kita keluar, yuk. bersiap shalat maghrib di bawah bersama yang lainnya," ajak Diska pada Rama.


Di rumah Diska masih banyak keluarga dan kerabat dari keluarga papa dan mamanya, Diska ingin memperkenalkan suaminya kepada keluarga besarnya.


Rama mengangguk, setelah itu mereka pun melangkah menuruni anak tangga ikut bergabung dengan keluarga lainnya sambil menunggu shalat maghrib.


Saat azan maghrib berkumandang, semua orang berkumpul di sebuah ruang kosong yang biasa digunakan keluarga pak Bayu untuk shalat berjamaah jika mereka berkumpul.


Sebenarnya keluarga Pak Bayu baru sekitar 3 tahun ini mulai taat beribadah, sejak putri mereka kembali dari Sumatra barat, Diska mulai mengajak kedua orang tuanya untuk mempelajari agama Islam.


Dengan ujian yang dihadapi Diska di 3 tahun terakhir membuat kedua orang tua Diska mulai menyadari kesalahannya yang selama ini tidak mendidik putrinya dengan nilai-nilai agama.


Saat mereka melaksanakan shalat maghrib berjama'ah, Rama berdiri sebagai imam semua keluarga Diska yang berada di rumah itu.


Keluarga Diska terpukau dengan suara dan bacaan yang dilantunkan oleh Rama, sepertinya Rama sudah terbiasa menjadi seorang imam dalam shalat, meskipun dia sangat jarang menjadi imam.


Di akhir shalat, Rama membacakan do'a-do'a yang biasa dibacanya dalam shalat yang dilakukannya.


Usai shalat maghrib, mereka berpindah ke ruang makan untuk menyantap makan malam.


Hidangan makan malam ini merupakan hidangan yang sudah mereka siapkan untuk tamu tadi siang.


Diska mengambilkan nasi dan lauk untu suaminya. Hal itu dilakukannya sesuai dengan kebiasaan mamanya yang selalu mengambilkan makanan untuk papanya.


"Senang banget punya istri," bisik Rama saat Diska memberikan piring kepada sang suami.


Diska tersipu malu mendengar bisikan dari sang suami, dia merasa hal itu sudah wajib dilakukannya.


Setelah itu, Diska juga mengambil makanan untuk dirinya.


Mereka mulai menikmati makanan mereka dengan lahap, tak ada suara sedikitpun yang terdengar kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


"Pa, Ma," lirih Diska di saat mereka baru saja selesai menghabiskan makanan yang ada di piring mereka.


Semua mata tertuju pada Diska.


"Ada apa, Diska?" tanya Pak Bayu.


"Mhm, rencananya setelah kita menikah. Bang Rama juga ingin mengadakan resepsi pernikahan kami di desanya. Sekadar memberitahukan kepada penduduk desa kalau dia sudah menikah dengan aku," ujar Diska meminta izin pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Pak Bayu dan Bu Naina saling melempar pandangan, mereka kaget dengan apa yang direncanakan Rama.


"Semua biaya keberangkatan kita ke desa Bang Rama akan ditanggung, Bang Rama." Diska berharap kedua orang tuanya mau mengikuti rencana Rama.


"Kapan rencananya acara resepsi di desa Rama akan diadakan?" tanya Pak Bayu.


Dia merasa keberatan untuk berangkat ke desa Rama yang menurut cerita Diska terletak di sebuah ujung propinsi Sumatera Barat dan terpencil.


"Satu minggu setelah resepsi di sini, Pa, Ma," jawab Diska.


"Mhm, lalu kamu kapan ke sana?" tanya Pak Bayu.


"Hari Senin, Pa, Ma, setelah resepsi di sini, soalnya Bang Rama juga harus mengurusi berbagai hal yang ada di sana," jawab Diska.


"Ya sudah, nanti papa coba pikirkan," ujar Pak Bayu menanggapi permintaan Diska.


Sebagai orang tua, Pak Bayu tidak bisa menghalangi keinginan menantunya, karena walau bagaimanapun Rama memiliki kehidupan di desanya, wajar jika dia ingin mengadakan resepsi pernikahan di sana.


Semua orang masih berkumpul di ruang keluarga, Diska dan Rama memilih masuk kamar, kebetulan Farel sudah tidur karena lelah seharian tidak bisa tidur karena rumah ramai dipenuhi oleh para tamu yang datang.


Rama dan Diska langsung masuk kamar setelah memberi ucapan selamat malam pada putra mereka.


Rama sengaja mengajak Diska untuk shalat walaupun ada sesuatu yang bergejolak di hatinya saat ini.


Pikirannya sudah melayang ke mana-mana.


Sama halnya dengan Diska, meskipun malam ini bukanlah yang pertama kali mereka lakukan, tapi ada sesuatu yang berbeda menyelinap di hati mereka.


Diska mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami.


Rama terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu dia pun menunggu Diska yang berwudhu setelah dirinya.


Mereka melaksanakan shalat isya berjama'ah.


Rama juga mengajak Diska untuk shalat sunat terlebih dahulu.


Usai shalat, Rama membalikkan tubuhnya, Diska meraih tangan sang suami lalu menyalami dan mencium punggung tangan sang suami.


Rama mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang, Rama juga tidak lupa membacakan do'a terbaik di ubun-ubun sang istri agar Diska tunduk dan patuh pada dirinya sebagai seorang istri yang Sholehah.


Setelah itu, Diska membuka mukenanya, dia menggeraikan rambut panjangnya.biarkan sang suami melihat mahkota indah miliknya.

__ADS_1


Diska melipat sajadah dan mukenanya, dia juga tidak lupa merapikan sajadah dan kain sarung yang tadi dikenakan oleh Rama.


Saat Diska masih melipat sajadah, tangan Rama sudah melingkar di pinggang ramping sang istri.


Meskipun Diska sudah pernah hamil dan melahirkan body nya masih tetap ramping seperti gadis.


"Sayang," lirih Rama berbisik di telinga Diska.


Seketika jantung Diska berdegup dengan kencang, darahnya berdesir merasakan sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya.


"Mhm," gumam Diska dengan nada yang bergetar.


"Apakah kamu merindukanku?" lirih Rama sambil mengecup pundak Diska.


Wajah Diska mulai memerah menahan rasa yang bergejolak di dalam jiwanya, Diska pun membalikkan tubuhnya.


Kini mereka saling berhadapan, mata Rama tertuju pada bibir seksi yang dimiliki sang istri, Rama sudah tidak sabar untuk merasakan manisnya bi**r merah ranum milik istrinya.


Bayangan peristiwa 3 tahun silam kembali melintasi benaknya, Rama pun mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


Dalam hitungan detik, bi**r mereka saling bertaut merasakan ken**atan yang dulu pernah mereka rasakan.


Perlahan tapi pasti, mereka melangkah menuju tempat tidur dengan bi**r yang masih tertaut.


Rama mendorong tubuh Diska hingga terbaring di atas tempat tidur, dengan perlahan Rama pun memulai aksinya.


Aksi yang dulu pernah dilakukannya, kini mereka pun melepaskan rasa yang membuncah di dalam hati mereka.


Meluapkan gejolak yang membara bertahun-tahun mereka pendam di dalam hati.


Dulu mereka lakukan dalam lembah dosa, kini mereka berharap apa yang mereka lakukan menjadi ibadah dan penghapus dosa kekhilafan yang pernah mereka lakukan.


Perpisahan 3 tahun membuat mereka semakin saling terikat dalam cinta yang suci.


Mereka mulai berjanji di dalam hati akan tetap bersama dan berjuang bersama mempertahankan cinta yang ada di dalam hati mereka.


"Aku mencintaimu, Sayang," bisik Rama setelah melepaskan cintanya pada sang istri.


Mereka pun terbaring lemah setelah pergulatan panas yang mereka lakukan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2