
Pagi pukul 04.00
Rama terbangun dari tidurnya, dia menoleh ke arah sang istri. Rama tersenyum melihat wajah cantik sang istri.
Sebuah nikmat terindah dapat melihat paras cantik wanita yang dicintainya saat bangun tidur.
Rama mengecup puncak kepala sang istri sembari mengucapkan do'a-do'a terbaik di ubun-ubun sang istri.
"Alhamdulillah, aku bisa memilikimu," lirih Rama.
Diska ikut terbangun, dia melihat wajah tampan Rama tepat di depan wajahnya.
"Kamu sudah bangun?" lirih Diska dengan suara seraknya.
"Mhm," gumam Rama.
Rama mengecup lembut bi**r sang istri.
"Aku jadi ketagihan," bisik Rama di telinga sang istri.
"Ih, kamu genit," lirih Diska.
Wajahnya lagi-lagi berubah merah, di pagi buta sang suami sudah mulai menggodanya.
"Ayo kita ulangi lagi," bisik Rama menggoda sang istri.
Seketika ingatan mereka tertuju pada pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan.
Diska mendorong tubuh sang suami.
"Bentar lagi mau subuh. Kita shalat tahajud dan shalat sunat fajar dulu," ujar Diska.
Rama pun bangun, dia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Diska menatap punggung sang suami yang menjauh darinya.
Ibu satu anak itu kini tersenyum bahagia. Tak ada nikmat yang paling indah baginya selain dapat bersatu dengan pria yang dicintainya setelah 3 tahun berpisah.
"Kamu semakin genit aja," lirih Diska.
Dia pun menutup wajahnya dengan selimut, masih ada rasa malu di hatinya saat mengingat apa yang sudah dilakukannya dengan Rama tadi malam.
Setelah Rama selesai mandi, Diska pun bangun.
"Sayang, tolong ambilkan handuk, dong," pinta Diska.
Diska ingat saat ini dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya, sedangkan Rama setelah aksi panasnya langsung mengambil celana boxernya lalu tidur.
__ADS_1
Rama pun mengambilkan handuk lalu memberikannya pada sang istri.
"Terima kasih, Sayang," ucap Diska.
Diska pun melilitkan handuk itu ke tubuhnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, setelah mengenakan pakaiannya Rama langsung melaksanakan shalat sunat tahajud dan shalat sunat fajar sebelum waktu subuh masuk.
Hal ini sudah rutin dilakukannya sejak dia tinggal menyendiri di pondok buruk di tengah-tengah kebun kedua orang tuanya.
****
Seperti biasa Rezi mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter di rumah sakit.
Kali ini dia terlihat sibuk, karena banyak pasien yang melahirkan secara caesar. Sebagai dokter obgyn dialah yang akan menindak beberapa pasien tersebut.
Di rumah sakit itu, nama Rezi sudah banyak dikenal pasien karena terkenal dengan ramah dan kelihaiannya dalam menghadapi pasien.
"Wah hari ini melelahkan," ujar Rezi pada seorang perawat yang selalu mendampingi Rezi dalam melakukan tugasnya.
"Iya, Dok. Entah mengapa satu hari ini banyak pasien yang melahirkan," ujar Si perawat menanggapi ucapan Rezi.
"Oh, iya. Aku mau makan di kantin, kamu mau ikut?" tanya Rezi.
"Dokter duluan saja, saya makan siang sama pacar saya," ujar sang perawat.
Si perawat merasa bersalah pada Rezi, dia tahu kisah cinta Rezi pada Diska yang bertepuk sebelah tangan.
"Maafkan saya, Dok. Bukan maksud,--"
"Tidak apa-apa, namanya juga enggak jodoh. Cinta tidak dapat dipaksakan, daripada ujung-ujungnya menderita," ujar Rezi.
Rezi berusaha menghibur dirinya sendiri, dia tidak boleh teruskan terusan terpuruk dengan keadaan yang kini menimpanya.
"Benar, Dok. Dengan mengikhlaskan dokter Diska dengan pria yang dicintainya, dokter akan memiliki kebahagiaan tersendiri. Dan semoga dokter cepat menemukan pengganti dokter Diska." Si perawat berusaha menghibur Rezi.
Rezi tersenyum mendengar ucapan si perawat.
"Terima kasih, Bulan," ujar Rezi.
Rezi pun berdiri dia membuka jas kebesarannya lalu meletakkannya di atas kursi, setelah itu dia melangkah keluar dari ruangannya.
Dokter tampan itu terus melangkah menuju kantin rumah sakit, di saat dia melintasi gedung IGD, Rezi melihat seseorang yang perawakannya seperti dikenalnya.
Seorang gadis dengan rambut diikat asal, dengan mengenakan kemeja tidak dikancingkan, serta celana jeans yang sobek di bagian lututnya.
Gadis itu terlihat sedang menangis.
__ADS_1
"Hei, Zharin," panggil Rezi.
Zharin mengangkat wajahnya, dia melihat sosok pria yangs empat menjadi tempat dia curhat di saat hatinya hancur lebur karena patah hati.
"Re-Rezi." Wanita itu mencoba mengingat nama pria yang sudah menghibur dirinya saat dia sedih.
Zharin langsung berdiri, dia mendekati Rezi lalu memeluk Rezi dengan erat. Lagi-lagi Zharin menggunakan dada bidang pria itu sebagai tempat meluapkan keluh kesahnya.
Rezi membiarkan gadis itu meluapkan rasa sedih yang menyesakkan dadanya, dengan senang hati Rezi melakukan hal itu.
Entah mengapa dokter tampan itu merasa kasihan dan merasa dekat dengan gadis itu.
Sifat Zharin yang blak-blakan serta tingkahnya yang konyol membuat Rezi merasa terhibur dari rasa luka yang kini dirasakannya.
Zharin mengusap air matanya, dia juga menghapus ingusnya dengan kemejanya.
Rezi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zharin yang terlihat jorok di hadapannya.
Rezi mengajak Zharin untuk kembali duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu pasien.
"Apa yang terjadi?" tanya Rezi pada Zharin setelah memastikan Zharin mulai tenang.
"Ibuku, dia baru saja mengalami musibah. Saat ini dia terbaring di sana, dokter bilang harus operasi, tapi mereka tidak mau mengoperasi ibuku karena kami tidak punya uang," ujar Zharin mengadukan apa yang tengah dihadapinya.
"Apa? Musibah apa yang terjadi pada ibumu?" tanya Rezi ikut khawatir.
Dia tahu sekali, jika harus melakukan operasi harus ditindak dengan cepat, jika tidak maka bahaya bagi pasien.
"Saat ibu sedang perjalanan pulang dari pasar, dia melewati seorang pekerja pemotong rumput di pinggir jalan. Entah mengapa pisau mesin rumput itu mengenai ibuku di bagian perutnya, saat ini perut ibu dipenuhi darah," ujar Zharin menceritakan apa yang terjadi.
"Astagfirullah, ayo ikut aku," ujar Rezi.
Rezi langsung masuk ke dalam ruang IGD.
Rezi meminta bagian administrasi untuk menindak ibu Zharin secepatnya. Dia memberi jaminan bahwa dia yang akan bertanggung jawab atas biaya yang dibutuhkan saat operasi nanti.
Petugas di ruang IGD pun membawa ibu Zharin masuk ke dalam ruang operasi. Mereka pun melakukan tindakan terhadap ibu Zharin.
Rezi dan Zharin menunggu ibu Zharin yang sedang ditindak di ruang tunggu yang ada di depan ruang operasi.
"Kamu tenang saja, ya. Semoga ibumu baik-baik saja," ujar Rezi menenangkan Zharin yang terlihat cemas.
Zharin hanya diam, saat ini dia sedang memikirkan keadaan ibunya. Dia juga tengah mempertanyakan siapa sosok Rezi yang sebenarnya, sehingga dapat membantunya dengan cara yang mudah.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zharin tiba-tiba.
Zharin tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya tentang diri pria yang sudah membantunya itu.
__ADS_1
Bersambung...