
Detik-detik akad nikah akan dilaksanakan, Diska dan Ra sudah duduk di hadapan penghulu.
Mereka akan mengucapkan janji suci dalam menjalani hidup rumah tangga, Diska sejak tadi terlihat sangat gelisah karena dia masih belum melihat Rezi hadir di rumahnya.
"Kak, apakah semarah itu kamu padaku?" gumam Diska di dalam hati.
Sebenarnya ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Diska, dia ingin Rezi mengikhlaskan dirinya hidup bahagia dengan pria yang dicintainya.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Rama berbisik pada Diska.
"Aku belum melihat Kak Rezi datang, Bang. Aku ingin dia melihat aku menikah denganmu agar aku bisa hidup berumah tangga denganmu tanpa ada beban bersalah padanya," jawab Diska jujur.
"Pak Bayu! Pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan!" Tiba-tiba seseorang datang hendak membatalkan pernikahan Rama dan Diska.
Pak Bayu berdiri melihat tamu yang berencana ingin membatalkan pernikahan putrinya.
Pria itu menghampiri sahabatnya yang kin berdiri di depan pintu masuk dengan tatapan penuh amarah.
"Hei, ada apa ini?" tanya Pak Bayu pada rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
"Aku tidak akan membiarkan Diska menikah dengan pemuda desa itu, Diska harus menikah dengan putraku," ujar Pak Sulthan pada Pak Bayu.
"Maafkan aku, Sulthan. Kita sudah bahas hal ini sebelumnya," ujar pak Bayu pada sang sahabat.
"Kamu sudah berjanji akan menikahkan putrimu dengan putraku," bantah Pak Sulthan.
"Tapi, kamu tahu sendiri, putriku tidak mencintai putramu," ujar Pak Bayu berusaha menenangkan sahabatnya.
"Putri kamu itu seorang wanita yang tidak tahu diri, selama 3 tahun Rezi menemaninya. Tapi, dia malah memilih untuk menikah dengan pemuda miskin itu," teriak Pak Sulthan mempermalukan Rama dihadapan para tamu.
Meskipun tamu yang hadir tidak terlalu banyak, tapi ucapan pak Sulthan berhasil membuat orang-orang menilai Rama seorang yang rendah.
"Istighfar, Sulthan. Kamu tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya," ujar Pak Bayu kesal.
Namun, pak Bayu masih saja menghargai sahabatnya itu.
"Pa!" teriak Rezi yang baru saja datang.
__ADS_1
Awalnya Rezi tidak berniat untuk hadir dalam acara pernikahan tersebut. Tapi, tindakan ayahnya membuat Rezi terpaksa datang ke rumah Diska.
Semua mata tertuju pada Rezi yang baru saja datang dengan mamanya.
"Aku sudah bilang pada papa, tidak perlu memaksakan kehendak kita," ujar Rezi memohon pada papanya.
"Apa maksud kamu? Pak Bayu sudah berjanji akan membujuk Diska untuk menikah dengan kami, eh sekarang dia malah menikahkan putrinya dengan pria lain," ujar Pak Sulthan tidak terima dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
"Sudahlah, Pa. Kalau pun papa paksa Diska menikah denganku, dia tidak mengungkap hal itu maka aku juga yang akan terluka," ujar Rezi menasehati papanya.
"Tidak, beginilah cara dia berterima kasih padamu atas apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Pak Sulthan mengungkit kebaikan yang sudah dilakukan putranya pada Diska selama tiga terakhir.
Apa pun dilakukanya demi menutupi rasa malu Diska, dia menemani Diska di masa-masa sulit menjalani kehamilan. Dengan tabah Rezi menjadi orang pertama yang hadir di saat dia kesulitan.
"Pa, aku melakukan semua itu karena aku menganggap Diska sebagai seorang adik," ujar Rezi.
Rezi berusaha menguatkan dirinya yang kini masih rapuh menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.
Diska melangkah menghampiri Pak Sulthan dan Rezi yang kini berdebat.
"Om, aku tahu jasa Kak Rezi padaku benar-benar tidak bisa aku balas dengan apa pun. Tapi, bagiku Kak Rezi adalah kakak yang paling berarti dalam hidupku. Apakah aku salah tidak sanggup mencintainya seperti aku mencintai calon suamiku?" lirih Diska.
Pak Sulthan terdiam, Diska melangkah mendekati Rezi, Diska meraih tangan Rezi. Dia menggenggam erat tangan pria yang selalu merangkul, menopang tubuhnya di saat rapuh. Tangan yang telah berjasa dalam hidupnya 3 tahun terakhir ini.
"Kak, aku mohon ikhlaskan pernikahanku dengan pria yang aku cintai, kamu tahu seberapa besar cintaku padanya. Apakah kamu tidak bahagia melihat aku bersatu dengan pria yang aku cintai?" ujar Diska pada Rezi.
Dia berharap pria yang selama ini menjadi sahabat sekaligus kakak baginya mengerti dengan apa yang saat ini dirasakannya.
Rezi menatap dalam pada Diska, dia menangkap wajah wanita yang selalu ada di dalam hatinya itu.
"Aku akan bahagia jika kamu bahagia," lirih Rezi.
Setelah itu Rezi pun merangkul pundak Diska lalu menggiring Diska melangkah mendekati Rama.
"Aku serahkan kebahagiaan adikku di tanganmu, sekali saja kau menyakitinya maka kau akan berhadapan langsung denganku," ujar Rezi kepada Rama.
Dia tersenyum, meskipun hatinya menangis. Rezi berusaha tegar menatap wanita yang dicintainya bersanding dengan pria lain.
__ADS_1
"Om, nikahkanlah adikku ini dengan pria yang dicintainya," ujar Rezi.
Semua orang menatap terharu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Rezi, beberapa orang ada yang menangis melihat sikap Rezi.
Pak Sulthan hanya bisa diam, dia tak lagi bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan Diska menikah dengan lelaki pilihannya.
Rezi duduk di samping Diska, dia melihat dengan jelas pria lain mengucap janji suci dengan wanita yang dicintainya.
Diska merasa lega dengan apa yang sudah dilakukan Rezi hari ini.
"Saya terima nikahnya Diska Pramesti bin Bayu Anggara dengan mahar sebuah rumah senilai 450 juta dan seperangkat alat shalat dibayar tunai." Rama mengucapkan kata-kata kabul dalam akad.
"Sah! Sah!" sahut saksi.
"Alhamdulillah, Sah," ujar si penghulu.
Setelah itu penghulu menuntun semua yang hadir membacakan do'a kebaikan untuk kedua mempelai.
Pernikahan Diska dan Rama dinyatakan Sah. Saat ini mereka sudah terikat dalam ikatan suci cinta mereka.
Rezi ikut tersenyum saat Diska tersenyum bahagia berdiri di samping Rama.
Pria tampan itu memang tidak beruntung mendapatkan wanita yang sudah bertahun-tahun dicintainya, tapi dia tetap berlapang dada melepas cintanya bersama orang lain.
Setelah selesai acara akad nikah, Rezi berpamitan pada Diska.
"Selamat ya, Dek. Semoga kamu dan Rama bisa hidup bahagia," ujar Rezi sebelum meninggalkan tempat itu.
Pak Sulthan hanya berdiri mematung di samping istrinya.
Setelah itu Rezi membawa kedua orang tuanya pergi dari kediaman keluarga Pak Bayu.
Dia tahu kedua orang tuanya ikut merasakan kesedihan yang kini dirasakannya.
"Ma, Pa. Kalian tenang saja, aku akan mencari kebahagiaanku setelah ini, aku sudah ikhlaskan Diska bahagia dengan Rama, aku tidak ingin kebahagiaan hilang saat melihat kesedihan di wajahku." Rezi berusaha menghibur kedua orang tuanya.
Pak Sulthan dan istrinya hanya diam mendengarkan ucapan sang putra.
__ADS_1
Mereka juga sedih karena selama ini mereka sangat berharap bisa menjadikan Diska sebagai menantu.
Bersambung...