Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 46


__ADS_3

Tiba-tiba Mbak Yuyun menjadi grogi, dia pun bergegas masuk ke dalam rumah. Saat Mbak Yuyun hendak masuk, Rudi pun ingin masuk rumah sehingga mereka berdua saling menabrak.


"Auw," lirih Mbak Yuyun sambil mengelus lengannya.


"Eh, maaf, Mbak," ujar Rudi jadi merasa tidak enak.


Rudi pun memperhatikan sosok Mbak Yuyun yang kini menunduk malu.


"Ya, sudah. Mbak Yuyun saja yang masuk terlebih dahulu," ujar Rudi pada Mbak Yuyun.


Rudi mulai memperhatikan sosok Mbak Yuyun, sekilas dilihat Mbak Yuyun sama seperti wanita lainnya.


Penampilannya sedikit berbeda dengan Diska, wanita yang berasal dari kota, sebagai seorang baby sitter Mbak Yuyun selalu berpenampilan apa adanya, dia sudah terbiasa berpenampilan apa adanya.


Akhirnya Mbak Yuyun melangkah terlebih dahulu, mereka masuk ke dalam rumah.


Mbak Yuyun langsung bersiap untuk shalat maghrib, begitu juga dengan Diska dan Uci Desmi.


Rama masih bermain dengan Farel, karena saat ini Farel selalu ingin bersamanya.


"Bang, aku shalat duluan, ya. Kita gantian," ujar Diska saat dia sudah selesai memanaskan gulai dan sambal yang mereka beli tadi.


"Iya, kalian shalat aja dulu," ujar Rama.


Kali ini Rudi berdiri menjadi imam untuk mereka, karena Uci Desmi kedatangan tamu penting dia yang biasa shalat di mesjid kini memilih untuk shalat di rumah.


Selesai mereka shalat maghrib, mereka pun berpindah ke ruang makan.


Di sana, Uci Desmi menatap bahagia keluarga kecil Diska dan Rama. Dia bersyukur d Ngan kebahagiaan yang didapat oleh Uci Desmi.


Meskipun dia tahu, Rama akan menetap di kota, dia tidak terlalu mengambil pusing karena semua usaha Rama ada di desa Tanjung maka Rama tidak mungkin tidak kembali ke desa, tanah kelahirannya dan tempat dirinya tumbuh dewasa.


"Sayang, besok kita ke kebun, ya. Sekaligus kita ziarah ke makam kedua orang tuaku," ujar Rama setelah dia menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Diska mengangguk setuju.


"Rud, aku bisa minta bantuan. Besok kamu mengundang keluarga serta warga yang ada di desa Tanjung untuk menghadiri acara resepsi pernikahan yang akan diadakan Rabu depan?" ujar Rama meminta bantuan.


"Bisa, besok pulang dari kantor Kepala Desa aku langsung keliling, deh," ujar Rudi menyanggupi permintaan Rama.


"Mhm, terima kasih sebelumnya," ujar Rama.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Uci Desmi, Diska dan Mbak Yuyun merapikan bekas makan mereka sedangkan Rama dan Rudi mengobrol di teras rumah Uci Desmi mencari angin.


****


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rama dan Diska sudah siap untuk berangkat ke kebunnya.


Mereka akan berjalan kaki menuju kebun milik Rama.


"Mbak, aku titip Farel, ya. Kalau dia dibawa kasihan, kita kan ke sananya jalan kaki. Enggak bisa pakai sepeda motor, soalnya pagi ini Rudi masih kerja," ujar Diska pada Mbak Yuyun sebelum berangkat.


"Iya, Nona. Farel saya yang urus, Nona sama Bang Rama hati-hati, ya," ujar Mbak Yuyun.


Meskipun Mbak Yuyun memanggil Diska dengan kata Nona, tapi dia tidak memanggil Rama dengan sebutan Tuan karena Rama tidak mau dipanggil dengan sebutan Tuan, dia sadar diri bahwa dia hanyalah seorang pemuda desa.


"Iya, Mbak. Kalau urusan kami sudah selesai kami akan usahakan pulang lebih cepat," ujar Diska.


Mereka pun berpamitan pada Uci Desmi dan Mbak Yuyun sebelum berangkat. Sedangkan Farel masih tidur, Diska menyerahkan semua urusan Farel pada Mbak Yuyun.


Rama dan Diska keluar dari rumah Uci Desmi, lalu mereka melangkah menyusuri jalanan rumah penduduk.


Beberapa warga melihat Rama yang menggenggam erat tangan Rama.


Ada rasa penasaran yang menyelinap di hati mereka ingin mempertanyakan hubungan mereka yang sudah berani memamerkan kemesraan di depan warga.


"Eh, iya, Bu." Diska menyahut sapaan dari warga tersebut.


Ibu itu melirik tangan Rama.


"Ada apa, Bu?" tanya Rama tahu arah mata ibu tersebut.


"Mhm, oh iya, Bu. Aku lupa, kasih tahu ibu, sekarang ibu dokter ini sudah jadi istriku," ujar Rama dengan senyuman bahagia di wajahnya.


"Hah? Benarkah?" tanya ibu tersebut ikut senang dengan berita yang disampaikan oleh Rama.


"Kami akan mengadakan resepsi pernikahan di rumah Uci Desmi, ibu datang, ya," ujar Rama.


"Iya, insya Allah. Alhamdulillah," ujar si ibu-ibu itu.


"Kami mau ziarah ke makam orang tuaku," ujar Rama pada ibu-ibu tersebut.


"Oh, iya." Wanita itu pun mengangguk.

__ADS_1


Rama dan Diska kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kini mereka mulai menapaki jalanan setapak.


"Kalau kamu capek, kasih tahu aku, ya. Biar aku gendong," ujar Rama pada istrinya.


"Mhm, enggak kok. Aku masih kuat kok buat jalan," ujar Diska penuh semangat.


Dia terus mengikuti langkah Rama hingga mereka sampai di sebuah bukit pemakaman, di sana terdapat beberapa kuburan yang hanya diberi tanda batu dan bunga.


Diska takjub melihat pemakaman yang ada di sana, karena Diska tidak melihat di tanah perkuburan itu ada semacam keramik sebagai tanda kuburan.


Mereka hanya mengelilingi kuburan tersebut dengan beberapa batu.


Rama membawa Diska ke dua buah gundukan tanah yang di atasnya terdapat tanaman dan sebuah batu sebagai tanda kepala jenazah yang dikubur di dalamnya.


"Ini makam ayah dan Ibu," lirih Rama.


Rama menatap sendu pada gundukan tanah tersebut, dia merasa sedih saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.


Diska tahu bagaimana perasaan Rama saat ini, dia memegangi pundak Rama lalu mengelusnya pelan memberi kekuatan pada sang suami untuk tetap tegar.


Rama menoleh ke arah Diska, dia menggenggam erat tangan istrinya, lalu mengajak Diska untuk jongkok.


"Ayah, Ibu. Lihatlah, di sini aku sekarang membawa menantu kalian. Dia adalah gadis yang selama ini aku ceritakan. Sekarang aku sudah menikahnya," ujar Rama berbicara pada gundukan tanah itu.


Seolah-olah dia kini tengah berbicara dengan kedua orang tuanya, dia melakukan hal itu agar dia bisa mengungkapkan rasa bahagianya pada kedua orang tuanya yang sudah tiada.


Buliran bening mulai membasahi pipi Diska, suara lirih sang suami membuat dirinya tak kuat menahan air mata.


Diska dapat merasakan luka dan kesedihan yang dijalani Rama selama ini.


"Ibu, Ayah, aku datang untuk menemui kalian. Do'akan aku kuat dan sabar dalam menjalani rumah tangga bersama putra kalian, semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah," lirih Diska dengan suara yang mulai terisak.


"Bu, Ayah, aku sudah memulai kebahagiaanku di sini, ayah dan Ibu sudah bisa tenang sekarang. Diska akan menjagaku dengan baik," lirih Rama lagi.


Rama mengusap wajahnya yang juga basah, setelah itu dia menyiramkan sebotol air sambil membacakan do'a untuk kedua orang tuanya.


Diska mengikuti Rama yang kini mulai berdo'a.


Setelah selesai berdo'a mereka pun meninggalkan pemakaman tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2