Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 56


__ADS_3

"Lokasi teman papa itu ada di luar pulau Jawa," jawab Pak Bayu jujur.


"Di mana, Pa?" tanya Diska semakin penasaran.


"Di Kota Padang," jawab Pak Bayu.


Diska saling berpandangan dengan Rama. Rama senang jika kedua mertuanya pindah ke Padang, dan dia juga berharap Diska juga pindah ke kota Padang.


"Lalu bagaimana keputusan papa?" tanya Diska penasaran.


"Papa masih mencari lowongan yang ada di Kota Bandung atau daerah Jawa," jawab Pak Bayu.


"Oh, ya udah. Kalau gitu papa dan mama istirahat saja dulu, semoga ada jalan keluar dari masalah ini," ujar Diska.


"Iya, Sayang. Kamu jangan khawatir dengan kami, mama sama papa tidak apa-apa, kok. Mungkin ini ujian buat keluarga kita, hanya sabar dan berserah diri pada Allah agar kita bisa menjadi lebih baik," ujar Pak Bayu berlapang dada.


Diska tersenyum mendengar ucapan Papanya, 3 tahun terakhir kedua orang tuanya semakin ta'at dalam beribadah sehingga masalah yang mereka bisa tenang dengan ujian yang tengah mereka hadapi.


"Ya udah, kalau begitu aku pamit dulu ya, Pa, Ma," ujar Diska pada kedua orang tuanya.


Sudah waktunya dia berangkat ke rumah sakit, sejak hadirnya Rama, Diska selalu berangkat ke rumah sakit dengan diantar oleh Rama, meskipun Diska bisa mengendarai mobil sendiri, tapi Rama tidak mengizinkan Diska pergi seorang diri.


Dia ingin menjadikan Diska seorang ratu yang harus dijaga. Setelah mengantar Diska Rama akan sibuk bermain dengan putranya. Begitulah kegiatan mereka setiap hari.


"Mhm, memang bisa ya, setelah kita mengabdi bertahun-tahun di rumah sakit itu diberhentikan begitu saja?" tanya Rama pada Diska saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Rama merasa curiga dengan pemberhentian mertuanya secara bersamaan.


"Aku juga enggak ngerti, Bang. Huhft." Diska menghela napas panjang.


"Kalau mama sama papa pindah ke Padang, kayaknya aku juga mau ikut sama mama dan papa pindah kerja ke Padang," ujar Diska lagi.


"Serius, Sayang?" tanya Rama antusias.


Rama jadi berharap kedua orang tua Diska memilih pindah ke Padang.


"Mhm, selama ini kenapa Mama dan papa tidak buka klinik?" tanya Rama pada Diska.


"Mama dan papa tidak mau disibukkan dengan mengurus klinik setelah mereka bertugas di rumah sakit, mereka tidak ingin terlalu lelah dan capek mencari uang," jawab Diska.


"Mhm, bagaimana kalau seandainya kita mendirikan klinik di desa atau di Ujung Gading? Dengan ada klinik Papa dan Mama kamu tidak perlu bekerja dengan orang lain," ujar Rama memberi usulan.


"Mhm, mendirikan sebuah klinik bukan hal yang mudah karena banyak hal yang harus diurus," ujar Diska.


"Belum biaya yang harus dikeluarkan, pasti banyak banget," ujar Diska.

__ADS_1


"Mhm, begitu." Rama hanya mengangguk paham.


Diska tida bisa terlalu ikut campur urusan kedua orang tuanya.


Mereka pun terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.


Rama menghentikan mobilnya di depan rumah sakit.


"Sayang, nanti dijemput seperti jam biasanya kan?" tanya Rama.


"Iya, seperti biasa. Kamu hati-hati di jalan, ya," ujar Diska.


Sebelum turun dari mobil, Riska meraih tangan suaminya lalu menyalami mencium punggung tangan.


Rama mengecup lembut puncak kepala sang istri, meluapkan rasa sayang yang ada di hatinya.


Mereka terlihat sepasang suami istri yang sangat bahagia. Setelah berbagai masalah yang mereka hadapi sebelum akhirnya bersatu membuat keduanya mulai dewasa dalam menghadapi permasalahan kecil yang terjadi di antara mereka.


"Bye," lirih Diska setelah membuka pintu mobil.


Dia turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan Rama pun kembali mobilnya meninggalkan Rumah sakit tempat sang istri.


saat Diska melangkah menuju ruang kerjanya, tidak sengaja berpapasan dengan Rezi dan Zharin.


Sejak adanya perjanjian di antara dokter tampan dan gadis pesisir itu, Rezi selalu masuk ke dalam ruang kerjanya bersama si gadis.


Dokter tampan itu menghentikan langkahnya tepat di depan si dokter cantik.


"Hai, Dis." Rezi tersenyum pada wanita yang masih ada di hatinya.


Zharin melihat tatapan sang dokter tampan itu pada si dokter cantik.


Ada rasa cemburu di hati Zharin saat melihat si dokter tampan memperhatikan wajah cantik dokter yang ada di hadapan mereka.


"Hai juga, kakak apa kabar?" tanya Diska pada Rezi.


Diska ingin tetap menganggap pria yang selalu ada di sampingnya saat dirinya lemah sebagai seorang kakak.


"Aku baik," jawab Rezi.


Diska menarik tangan Rezi dan memintanya duduk di kursi tunggu yang ada di dekat mereka saat ini.


Rezi menautkan kedua alisnya, apa gerangan yang membuat Diska mengajaknya mengobrol.


"Ada apa, Dis?" tanya Rezi penasaran.

__ADS_1


"Mhm, Kamu tahu enggak apa yang sudah terjadi dengan papa dan mama?" tanya Diska pada Rezi.


Diska yakin, Rezi pasti mengetahui hal itu karena Papa Rezi bekerja di rumah sakit yang sama dengan kedua orang tua Diska.


"Apa yang terjadi dengan Om dan Tante?" tanya Rezi penasaran.


Diska kaget mendengar pertanyaan dari Rezi, dia tidak menyangka Rezi tidak tahu masalah pemberhentian kedua orang tua Diska.


"Papa dan mama diberhentikan dari rumah sakit, Kak." Diska menyampaikan apa yangs udah terjadi pada kedua orang tuanya.


"Apa? Kok, bisa?" tanya Rezi tak percaya


"Nah, itu, Kak. Aku heran dengan alasan pihak rumah sakit memberhentikan mereka," ujar Diska mengeluarkan rasa kesal di hatinya.


Rezi terlihat berpikir, sejak kemarin hingga hari ini, dia belum tahu sama sekali berita itu.


Papanya juga tidak memberitahukan dirinya tentang hal yang menimpa Pak Bayu dan Bu Naina.


"Memangnya apa alasan pihak rumah sakit memberhentikan Om dan Tante?" tanya Rezi.


"Katanya, mereka diberhentikan dengan alasan cuti salam jangka waktu yang berdekatan," jawab Diska.


"Aneh," lirih Rezi.


Rezi merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pemberhentian kedua orang tua Diska.


"Ya sudah, nanti aku coba bantu selidiki apa sebenarnya yang terjadi," ujar Rezi.


Diska mengangguk.


"Terima kasih, Kak." Diska tersenyum pada Rezi.


Setelah itu sorotan mata Diska tertuju pada Zharin yang duduk di samping Rezi.


Dia mulai mempertanyakan keberadaan Zharin bersama Rezi, seingat Diska wanita yang kini bersama Rezi adalah wanita yang ikut bersama Rezi saat acara resepsi pernikahannya.


"Eh, iya. Kenalkan, ini temanku, Zharin," ujar Rezi memperkenalkan Zharin pada Diska.


"Hah? Dia menyebutku sebagai temannya? Aku kan hanya seorang pelayan baginya," gumam Zharin di dalam hati.


Zharin merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan oleh Rezi.


"Hai, kenalkan aku adiknya Kak Rezi, walaupun kami bukan terlahir dari rahim yang sama aku sudah menganggap dia sebagai kakak kandungku," ujar Diska mengulurkan tangannya pada Zharin.


Diska berharap, Zharin bisa mengisi hati Rezi mengobati luka Rezi yang sudah ditorehnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2