Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 111


__ADS_3

Tubuh Naina tak sampai jatuh ke tanah, sebuah tangan yang masih kokoh di usianya menyambut tubuh ramping Naina.


Naina menatap dalam pria yang kini melingkarkan tangannya di pinggangnya.


Pria itu tersenyum.


Tanpa menunggu aba-aba, Naina langsung memeluk erat tubuh pria itu.


Dia merasa bersalah pada sang pria, di malam hari tak berada di rumah.


"Papa, kapan kamu datang?" tanya Naina heran.


Rasa kesal dan menyesal kini menjadi satu, dia kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang suami.


Dia juga menyesal karena dia sudah pergi dengan seorang pria di saat sang suami tengah pergi ke luar kota.


Apalagi dia keluar rumah menyantap makan malam bersama seorang pria tanpa meminta izin pada sang suami.


"Aku baru saja datang," jawab Bayu.


Meskipun Bayu sudah tahu apa yang telah terjadi antara Ferdy dan istrinya, tapi dia berusaha menutupi apa yang sudah dilihatnya, Bayu tak ingin sang istri merasa semakin bersalah.


Wanita yang telah bertahun-tahun menemani langkah pasang surut yang dilewatinya.


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Naina pada sang suami.


"Mhm, kebetulan tadi aku lewat sini," jawab Pak Bayu asal.


Padahal Bayu melihat dengan jelas sang istri menaiki mobil milik sahabatnya, maka dari itu dia bisa sampai di tempat saat ini.


Melihat makan malam romantis yang disediakan oleh Ferdy untuk istrinya, Bayu memilih untuk meninggalkan tempat itu tanpa mendengarkan apa yang dikatakan sang istri pada sahabatnya itu.


"Aku merindukanmu," lirih Naina sambil melepaskan pelukan dari sang suami.


Hanya itu kata yang keluar dari mulut Naina.


"Iya, aku juga merindukanmu," balas Bayu.


Setelah itu Bayu mengajak Naina masuk ke dalam mobil.


Mereka pun kembali ke rumah kontrakan yang terdapat tak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja.


****


Di pagi hari yang cerah, Miko kedatangan seorang pria yang sudah berumur di sel tahanannya.

__ADS_1


"Selamat pagj, Tuan," sapa pria yang berpenampilan wibawa dan masih tampan di usianya yang sudah menginjak angka 50 tahun.


Miko hanya menatap datar pria yang kini ada di hadapannya, dia sama sekali tidak mengenali sosok pria yang kini datang mengunjunginya.


"Kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan surat ini kepada Tuan," ujar si pria itu.


Miko melirik sebuah map coklat yang kini diletakkan sang pria di atas meja yang ada di hadapan Miko.


Tak berapa lama, Miko pun mengambil map itu lalu membuka map tersebut, perlahan Miko membaca surat yang tertera di selembar kertas yang kini dipegangnya.


"Ini tidak mungkin," teriak Miko tidak terima.


Miko tak percaya sang istri berani melayangkan surat gugat cerai.


Di sana Yoland menggugat cerai sang suami dengan alasan sang suami telah mengkhianati cintanya dengan berniat melakukan pelecehan pada seorang wanita.


Yoland tidak memiliki alasan untuk bertahan dengan seorang pria yang telah mengkhianati cintanya, apalagi saat ini hampir setiap hari dirinya diteror oleh seseorang.


Orang itu menyuruh Yoland untuk meninggalkan Miko yang saat ini sangat membutuhkan pertolongan dari sang istri.


"Maaf, Tuan. Saat ini anda hanya perlu menandatangani surat ini," ujar si pria yang merupakan pengacara dari istri Miko.


"Saya tidak akan pernah menandatangani surat ini, mana Yoland? Di mana istri saya sekarang?" bentak Miko pada si pengacara.


Setelah itu sang pengacara pun berdiri lalu dia meninggalkan ruangan tersebut.


Miko kini hanya diam terpaku di tempatnya, tak berapa lama seorang pria tampan datang menghampirinya.


Miko perlahan mencoba mengingat wajah pria yang kini ada di hadapannya.


"Bagaimana? Apakah kamu puas dengan apa yang telah kamu lakukan?" tanya si pria tampan itu.


"Siapa Kau?" bentak Miko.


Miko masih berusaha mengingat wajah pria yang dia rasa pernah bertemu dengannya.


"Heh, kau tidak mengenaliku? Dari awal aku sudah memberi peringatan padamu untuk tidak berbuat jahat pada istriku," ujar Rama dengan nada sinis.


"Apa? Pria ini suami Diska?" gumam Miko di dalam hati.


Miko tak percaya, pria yang jauh lebih tampan darinya, dan terlihat lebih berkelas dengannya merupakan suami dari wanita yang selama ini diincarnya.


"Jika kamu mendengarkan ancaman dari orang-orang suruhan ku, maka hal ini tidak akan terjadi padamu," ujar Rama lagi.


Miko hanya diam tertunduk, dia tahu betul saat ini dia berhadapan dengan siapa, Miko juga teringat pada kata-kata Diska yang sudah mengancam dirinya saat Miko hendak menyakiti Diska waktu itu.

__ADS_1


"Kau tidak hanya akan kehilangan istrimu, kamu juga akan kehilangan jabatan dan hartamu," ujar Rama tegas.


Setelah itu Rama pun keluar dari ruangan itu, dia melangkah keluar dari kantor polisi.


Sebagai seorang pria yang tumbuh dengan belas kasihan para penduduk kampung, Rama tidak tega berbuat lebih lagi untuk Miko.


Dia hanya memberi pelajaran dengan memenjarakan Miko lalu menyuruh Yoland meninggalkan pria bejat itu.


Rama juga membeli rumah tempat tinggal Miko, lalu dia menyuruh Yoland meninggalkan daerah itu agar Miko tidak dapat menemuinya lagi saat pria bren*sek itu dibebaskan dari penjara.


Tak banyak yang dilakukan Rama pada Miko untuk memberi pelajaran pada pria itu, karena Rama masih memilik rasa kasihan pada pria itu.


Miko kini terdiam, lalu dia melangkah masuk ke dalam sel.


Sejak kedatangan Rama, Miko mulai menyesali apa yang sudah dilakukannya.


Dia mulai berandai-andai, tapi semuanya sia-sia, nasi telah jadi bubur. Dia tidak bisa mengembalikan waktu.


Miko menundukkan kepalanya, dia terpaku. Dia tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan dalam hidupnya.


Siang ini Diska dan Rama berkumpul di rumah kontrakan kedua orang tua Diska mereka baru saja selesai makan siang, kini mereka duduk santai di ruang keluarga sambil menonton TV yang menyangkan berita.


Yuyun dan Farel berada di kamar, karena bocah itu sudah sangat mengantuk.


Setiap kali Rama dan Diska ke Padang terpaksa Yuyun ikut dan meninggalkan sang suami di desa.


Rama sering mengajak Rudi ikut bersama mereka tapi, Rudi tidak bisa meninggalkan ibunya seorang diri di rumah.


"Ma," lirih Pak Bayu memanggil sang istri.


Pak Bayu sengaja meminta perhatian istrinya serta dan putrinya.


Semua orang kini mulai menoleh ke arah Pak Bayu.


Melihat situasi yang kini ada di hadapan mereka, Rama berinisiatif untuk mematikan TV.


Dia merasa Pak Bayu ingin membicarakan hal yang sangat serius.


"Mhm," gumam Naina menanggapi panggilan dari sang suami.


"Ada suatu hal yang harus papa sampaikan pada kalian," lirih pak Bayu.


Diska menoleh ke arah mamanya, lalu mereka pun menunggu kata-kata yang akan dikatakan oleh Pak Bayu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2