
Di sebuah pinggir pantai, terlihat seorang pria menatap jauh ke arah lautan yang luas.
Matanya yang sembab menunjukkan bahwa saat ini hatinya tengah terluka yang sangat dalam.
Pancaran matanya sendu bagaikan seorang yang kini mulai berputus asa, cinta yang dirasakannya bertahun-tahun, kini hilang begitu saja.
Wanita yang dicintainya kini telah menemukan pria yang dicintainya selama ini, selalu bertahan di samping sang wanita, menjadi orang pertama mendengar berbagai keluh kesah sang wanita. Namun, hal itu tidak membuat wanita yang dicintainya menaruh hati padanya.
Bahkan si wanita itu menolak perjodohan yang sudah dilakukan oleh kedua orang tua mereka.
Itu artinya sang wanita sama sekali tidak pernah mencintai dirinya.
Cintanya pada sang wanita bermulai sejak mereka awal kenal saat itu dia sudah duduk di bangku SMA sementara itu sang wanita masih duduk di bangku SMP.
Mereka berdua saling mengenal karena kedua orang tua mereka memiliki profesi yang sama.
Flash back on.
Diska duduk seorang diri di sebuah taman belakang rumah teman kedua orang tuanya.
Rumah itu sangat megah, yang berdiri di lahan yang sangat luas.
Bangunan yang kokoh dan megah itu memiliki beberapa kamar dan ruangan yang sangat luas, sehingga sang pemilik mengadakan acara syukuran naik jabatannya di rumah itu.
Si pemilik rumah mengundang beberapa teman dokternya dan mengajak mereka untuk menginap di sana.
"Ini, nih yang bikin aku bete ikut sama mama dan papa," gerutu Diska sambil melempar sebuah batu kecil ke sembarang arah.
"Auw," pekik seseorang dari tempat yang tidak jauh dari posisi Diska.
Diska kaget saat mendengar seseorang mengaduh menahan rasa sakit.
Dia menoleh ke arah asal suara, di sana Diska melihat seorang pria yang hampir sebaya dengannya berdiri sambil mengusap kepalanya.
Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari asal batu yang baru saja mengenai kepalanya.
Sang pria melihat keberadaan Diska di sana. dia yakin bahwa wanita itulah yang melempar batu sehingga mengenai kepalanya.
Pria itu melangkah mendekati Diska lalu dia duduk di samping wanita yang tidak dikenalnya.
"Hei, kamu ya yang melempar batu ke kepalaku?" tanya Rezi menuduh Diska secara langsung.
Rezi dapat menebak bahwa wanita itulah yang sudah melemparnya karena terlihat dengan jelas di wajah Diska yang merasa bersalah.
"I-iya, ma-maafkan aku, aku tidak sengaja," lirih Diska takut.
__ADS_1
"Hehe." Rezi tersenyum.
Dia tidak marah dengan apa yang sudah dilakukan Diska terhadapnya.
Rezi terlihat senang mendapatkan teman di tempat yang sangat asing baginya.
"Lho, kenapa kamu tersenyum? kamu enggak marah sama aku?" tanya Diska heran.
Rezi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan wanita yang yang kini duduk di sampingnya.
"Kenalkan aku Rezi," ujar Rezi sambil mengulurkan tangannya.
Diska menatap tangan pria yang ada di hadapannya sudah menggantung di depannya.
Akhirnya dia pun menjabat tangan pria itu.
"Diska," ujar Diska menyebutkan namanya.
"Apakah kamu juga merasa bosan berada di tempat ini?" tanya Rezi pada Diska menebak suasana hati gadis itu.
"Ya, begitulah," lirih Diska.
"Hal yang sama kita rasakan, kalau seandainya kita bakalan dicuekin juga kenapa kita harus dibawa ya," ujar Rezi mengungkapkan kekesalan yang ada di hatinya.
"Iya," sahut Diska setuju.
Flash back off.
"Bertahun-tahun aku memendam rasa cinta yang ada di hati ini berharap kamu membuka hatimu untukku, tapi hanya kekecewaan yang kini aku rasakan," lirih Rezi meratapi luka yang menyayat hatinya saat ini.
"Kamu memang tidak pernah mencintaiku, dan tidak pernah menganggap aku penting dalam hidupmu. Bahkan di saat berhari-hari aku tidak hadir dalam hidupmu, kamu sama sekali tidak merasa kehilangan," lirih Rezi lagi.
Sikap Diska selama ini padanya tak lebih dari seorang adik terhadap kakaknya, dia selalu manja pada Rezi, itu karena dia menganggap Rezi sebagai seorang kakak.
Buliran kini mulai jatuh membasahi pipi Rezi, dia benar-benar rapi dan tak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidupnya.
Dunianya terasa gelap sehingga tak sanggup lagi untuk melangkah menggapai asa yang lain.
"Dasar cowok bren*sek!" Seorang wanita berteriak sambil melempar batu sebesar kelereng ke arah depan.
Tanpa disadari sang wanita kalau batu yang dilemparnya mengenai seseorang.
"Aduh," lirih Rezi sambil mengusap kuduknya yang terkena batu.
Rezi menoleh ke belakang, dia menangkap sosok wanita dengan pakaian amburadul dan acak-acakan.
__ADS_1
Wanita itu mengenakan kaos longgar dengan jeans kulot yang terdapat sobekan di bagian lutut dan pahanya.
Sebuah kemeja kotak-kotak terikat di pinggangnya menunjukkan pinggangnya yang langsing.
Rambut diikat ke belakang dengan beberapa helai bagian depan keluar dari ikatannya.
"Laki-laki kurang ajar, selama ini kau anggap aku ini apa? Tempat ku berkeluh kesah? Hah?" umpat si wanita tanpa menyadari keberadaan Rezi di tempat itu.
Si wanita itu terus melangkah ke depan. Di saat itulah dia menyadari ada seseorang yang duduk di sebuah batang kelapa yang berbaring di pinggir pantai itu.
Si wanita ikut duduk di samping Rezi. Dia masih belum menyadari bahwa lemparannya sudah mengenai Rezi.
Rezi menautkan kedua alisnya melihat si wanita tidak mengacuhkannya.
"Bertahun-tahun kamu jadiin aku tempat berkeluh kesah, bertahun-tahun juga aku selalu ada di saat kamu membutuhkan! Sekarang kamu malah pergi dengan wanita lain, kamu memang brengsek," gerutu si wanita lagi.
"Kau memang menyebalkan, aku benci kamu. Benci! Mulai hari ini anggap saja aku tidak pernah ada di dalam hidupmu." Si wanita terus mencerocos mengungkapkan apa yang kini tengah dirasakannya.
"Eh, wanita ini kenapa, sih?" gumam Rezi di dalam hati.
Rezi mulai penasaran dengan apa yang terjadi pada si wanita.
Rezi terus menatap si wanita sambil mendengarkan berbagai ocehan yang keluar dari mulutnya.
"Hei!" teriak si wanita pada Rezi yang menatap dirinya.
Rezi kaget mendengar bentakan si wanita.
"Ada apa?" tanya Rezi heran.
"Berani-beraninya kamu mendengar ocehan ku!" bentak si wanita pada Rezi yang tidak ada salah apa-apa padanya.
Rezi mengernyitkan dahinya, dia mencerna bentakan sang wanita.
"Apa? Kenapa kamu nyalahin aku?" tanya Rezi bingung.
"Iya, kamu salah sudah berani mendengarkan ucapanku," bentak si wanita.
Seketika Rezi berusaha mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut si wanita.
Setiap kata-kata itu mewakilkan isi hati Rezi saat ini. Seolah-olah mereka tengah merasakan rasa sakit yang sama dan kekecewaan yang sama.
"Apakah kamu ditinggalkan pria yang sudah lama dekat denganmu?" tebak Rezi langsung.
Wanita itu menatap tajam ke arah Rezi.
__ADS_1
Bersambung...