
"Rezi!" panggil Pak Sulthan.
Rezi baru saja pulang dari rumah sakit, hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya di rumah sakit sehingga dia terlambat pulang ke rumah.
Pak Sulthan dan istrinya meminta Rezi untuk bergabung dengan mereka yang kini sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ada apa, Pa?" tanya Rezi pada papanya Setelah dia duduk di sofa yang berada di samping mama dan papanya.
"Rezi, apakah kamu tidak malu dengan apa yang sudah dilakukan Diska terhadap kamu?" tanya Pak Sulthan pada putranya.
Dia terlihat kesal dengan apa yang dilakukan oleh putranya, di saat harga dirinya diinjak-injak oleh seorang wanita yang selama ini dicintainya justru Rezi sibuk dengan kegiatannya setiap hari.
Seolah dia menyibukkan diri untuk menghilangkan rasa sedih yang ada di dalam hatinya.
"Pa, Diska nggak ngelakuin apa-apa terhadap aku, ini semua udah takdir Tuhan. Ya, mungkin saja dia bukan jodoh aku," ujar Rezi santai.
Dokter tampan yang sudah mapan itu tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi atas kisah cintanya.
"Tidak, Rezi. keluarga Pak Bayu sudah menginjak harga diri keluarga kita, dia sama sekali tidak menghargai Papa sebagai rekan kerjanya. mereka sudah berjanji akan menjodohkan Diska dengan kamu, dan tiba-tiba mereka menikahkan Putri mereka dengan pria kampung itu," ujar Pak Sulthan dengan penuh emosi.
Pak Sulthan masih tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh keluarga Diska.
Dia merasa selama ini keluarga Diska hanya memanfaatkan kebaikan dari putranya.
"Pa, sudahlah. Jangan bahas tentang Diska lagi. Aku sedang berusaha untuk melupakan cintaku padanya." Rezi kesal melihat sikap papanya yang masih saja menyimpan kebencian pada keluarga Diska.
"Ini tidak bisa dibiarkan," ujar Pak Sulthan masih teguh akan melakukan balas dendam pada Pak Bayu dan keluarga.
"Oh, iya. Papa perhatikan, setiap hari papa lihat kamu dengan seorang wanita yang penampilannya seperti gembel, siapa dia?" tanya Pak Sulthan pada putranya.
Dia tidak suka melihat Rezi bergaul dengan wanita yang bukan berasal dari kelas yang setara dengan dirinya.
"Mhm, itu Zharin, Pa. Teman aku, dia sedang mencari pekerjaan, makanya aku suruh dia menjadi asisten pribadiku, dia akan mengurus berbagai hal yang aku butuhkan selama berada di rumah sakit," jelas Rezi.
"Tapi, Rezi. Papa tidak suka melihat kamu bergaul dengan wanita miskin itu," ujar Sulthan tidak suka.
Rezi hanya diam, dia tak menyangka ayahnya akan bersikap seperti ini terhadap Zharin, si wanita lugu di yang selalu bersamanya.
__ADS_1
"Pa, apa perlu papa memandang seseorang dengan harta dan pangkat?" Rezi tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh papanya yang merendahkan Zharin.
"Rezi, apa yang papamu katakan ada benarnya. Tak seharusnya kamu bergaul dengan wanita kampung seperti dia." Mama Rezi pun ikut bicara menentang kedekatannya dengan Zharin.
"Pa, Ma. Aku ini sudah dewasa, aku tahu mana yang baik buat diriku," ujar Rezi kesal
Setelah itu dia pun langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya, dia kecewakan dengan pola pikir kedua orang tuanya.
Saat ini Rezi memang dekat dengan Zharin, meskipun hal itu hanya sekadar hubungan antara majikan dan pelayannya.
Rezi menawarkan pekerjaan pada Zharin sebagai asisten pribadinya.
Zharin akan menyiapkan segala kebutuhannya selama dia sudah berada di rumah sakit.
Awalnya Rezi bingung untuk menerima Zharin bekerja, tapi karena gadis itu selalu memaksa dirinya untuk memberikan pekerjaan padanya, akhirnya Rezi memberikan pekerjaan tersebut.
Zharin ingin bekerja untuk membayar hutangnya pada Rezi, yaitu semua biaya perawatan ibunya.
Padahal Rezi sudah tidak mempermasalahkan biaya tersebut, tapi Zharin tidak ingin berhutang bidi pada Rezi, makanya dia memaksa Rezi untuk memberikan dirinya pekerjaan.
Hampir seminggu, dia bersama Zharin. Hari-hari Rezi terasa berbeda, dia merasa hidupnya jadi berwarna dengan hadirnya Zharin dalam kehidupannya.
Gadis unik dan selalu bersikap apa adanya itu sudah menarik perhatiannya, cintanya pada Diska bukan berarti terhapus begitu saja, hanya saja kesedihannya sirna seketika karena terhibur dengan perilaku gadis pesisir itu.
****
Diska dan Rama sudah sampai di rumah Uci Desmi, sedangkan Mbak Yuyun dan Rudi masih belum pulang.
Tadinya Mbak Yuyun akan menemani Uci Desmi untuk keliling kampung, justru Rudi meminta Mbak Yuyun untuk ikut dengannya mencari jasa pelaminan serta orkes musik yang akan dipakai dalam acara pernikahan Rama nanti.
Mereka masih berada di daerah Silaping, sedangkan petang semakin gelap
"Mbak, kita cari makan dulu, yuk," ajak Rudi di saat dia sudah merasa lapar.
"Ya sudah, ayo," sahut Mbak Yuyun bersemangat kebetulan cacing-cacing di dalam perutnya juga sudah pada demo minta diberi makan.
"Mbak Yuyun sudah berapa lama bekerja sama Diska?" tanya Rudi pada Mbak Yuyun.
__ADS_1
"Sejak Farel lahir, jadi berapa lama aku bekerja sama nona Diska selama umurnya Farel," jawab Mbak Yuyun.
"Oh, begitu. Terus kenal Diska di mana?" tanya Rudi penasaran.
"Mhm, pertemuan kami ceritanya panjang, seandainya aku tidak bertemu dengan Nona Diska mungkin saat ini saya sudah tidak ada lagi di dunia ini," lirih Mbak Yuyun.
"Apa? Kenapa bisa?" tanya Rudi semakin penasaran tentang kehidupan wanita yang sangat setia pada Diska menjaga dan merawat Farel dengan baik.
Mbak Yuyun mengenang pertemuannya dengan Diska.
Waktu itu Mbak Yuyun sedang berdiri di pinggir jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang memiliki arus yang deras.
Saat itu Yuyun hendak mengakhiri hidupnya karena rasa kecewa yang dihadapinya.
Yuyun berjalan kaki dari desanya, dia kabur dari desa karena tidak sanggup menahan malu. Kekasihnya yang sudah berjanji akan menikahinya pergi dengan selingkuhannya di hari pernikahan yang sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak.
Yuyun masih duduk di kamar menunggu kedatangan rombongan mempelai pria, berjam-jam dia menunggu orang yang dinanti pun tak kunjung datang, hingga akhirnya dia dapat kabar dari salah satu pihak mempelai wanita bahwa calon suaminya telah pergi bersama wanita lain.
Yuyun merasa kecewa, dia sangat malu dengan apa yang sudah terjadi. Yuyun yang hanya hidup sebatang kara, urusan pernikahannya diurus oleh sepupu jauh ibunya.
Di saat itu, Yuyun dicemooh oleh beberapa orang di desanya. Dalam keadaan yang terpuruk dan hancur dia pun mendapatkan penghinaan sehingga Yuyun tak sanggup, akhirnya dia membuka gaun pengantin yang dikenakannya.
Dia mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang lusuh. Hidupnya terasa sangat hancur.
Dia keluar dari rumahnya lalu pergi begitu saja, dia malu dan kecewa.
Beberapa orang mengejarnya tapi, dia terus berlari hingga tak seorang pun dapat mengejarnya lagi, dia terus menyusuri jalanan, tanpa disadarinya kakinya telah membawa melangkah jauh dari desanya.
Di sepanjang jalan dia terus menangis meratapi pahitnya kehidupan yang harus dijalaninya.
Semalam suntuk dia terus berjalan tanpa ada rasa lelah dan takut saat itu, hingga saat kakinya terasa lelah dia pun bersiap untuk menceburkan dirinya ke dalam sungai yang ada di bawahnya.
Saat itu Diska baru saja pulang tugas luar kota, dia tak sengaja melihat Yuyun, Diska langsung meminta Rezi untuk menghentikan mobil.
Setelah itu dia menghampiri mbak Yuyun, dia menarik tangan Mbak Yuyun yang sudah berada di pagar jembatan, mereka berdua terjatuh ke aspal.
Di saat itu seketika Diska yang sedang hamil 9 bulan merasakan kontraksi.
__ADS_1
"Aauw," pekik Diska menahan rasa sakit.
Bersambung...