Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 47


__ADS_3

Rama menuntun Diska menuju kebunnya melintasi jalan yang berbeda dari jalan yang biasanya.


"Sekarang kita ke mana, Bang?" tanya Diska pada sang suami.


"Sebelum ke kebun tempat aku biasa bermalam, aku ingin membawamu ke suatu tempat," jawab Rama.


"Ke mana?" tanya Diska penasaran.


"Kamu tenang saja, kamu akan tahu nanti," ujar Rama.


Rama enggan untuk memberitahukan istrinya saat ini.


Diska menautkan kedua alisnya.


"Ish, kamu kenapa pakai rahasia-rahasia segala sama aku?" tanya Diska cemberut.


Rama menghentikan langkahnya, dia menatap sang istri yang kini sedang memanyunkan bibirnya.


"Hehehe, kamu lucu." Rama tertawa meledek sang istri.


"Ih, kamu jahat sama aku." Diska memasang wajahnya yang merajuk.


"Apa salahnya, sih sabar?" ujar Rama.


Dia pun bersiap menggendong sang istri.


"Apa yang kamu lakukan, Bang?" tanya Diska.


"Aku akan menggendongmu," jawab Rama.


Setelah itu dia pun mengangkat tubuh sang istri.


Diska menatap wajah tampan sang suami, dari rambut sang suami mulai menitik keringatnya.


"Bang, kamu tidak perlu gendong aku, aku jalan saja," ujar Diska pada Rama.


Diska merasa kasihan melihat sang suami yang sudah berkeringat.


"Kamu tenang saja, aku masih kuat kok gendong kamu sampai di rumah Uci Desmi nanti," ujar Rama pada Diska.


"Serius?" tanya Diska menguji kekuatan sang suami.


"Iya, serius," ujar Rama yakin.


Diska tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Aku enggak mau merepotkanmu," lirih Diska lagi-lagi dia merasa kasihan pada suaminya.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak pernah merepotkanku. Aku hanya ingin memperlakukan istriku bagaikan seorang Ratu," ujar Rama.


Diska tersenyum mendengar ucapan sang suami, lalu dia pun mengeratkan pelukannya pada sang suami.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di sebuah puncak perbukitan, di sana terlihat pohon sawit yang luas.

__ADS_1




Pemandangan yang sama sekali tidak pernah dilihat Diska selama ini.


Rama menurunkan sang istri, lalu mengajak Diska duduk di sebuah pondok yang ada di sana.


"Kamu lihat kebun sawit yang luas ini?" ujar Diska memulai pembicaraan.


"Luas banget kebun sawitnya," seru Diska kagum.


Seumur-umur yang dia tidak pernah melihat kebun sawit yang luas di hadapannya.


Di dalam pikirannya, orang yang memiliki kebun sawit sudah bisa dipastikan punya penghasilan yang terjamin.


"Apakah kamu tahu siapa yang memiliki kebun sawit yang luas ini?" tanya Rama pada istrinya.


Diska mengernyitkan dahinya, dia heran pada sang suami justru bertanya hal yang sudah pasti tidak diketahuinya.


"Ih, kamu becanda nanya sama aku, mana aku tahu yang punya kebun sawit ini,"jawab Diska sambil tersenyum.


"Mhm, yang pasti orang yang memiliki kebun sawit ini tidak perlu kerja lagi buat cari uang, dengan berdiam diri di rumah dia sudah punya penghasilan," ujar Diska.


Seketika Diska terdiam, dia teringat sesuatu.


Rama juga diam, dia hanya tersenyum mendengar ocehan sang istri.


"Sayang, jangan bilang kebun sawit yang luas ini punya kamu?" tanya Diska tak percaya.


"Tidak, aku tidak percaya kalau kebun sawit ini milik kamu, Bang. kamu dapat uang dari mana bisa memiliki kebun sawit ini? Apa jangan-jangan kamu memang sudah punya kebun sawit ini sejak dulu habis itu kamu berpura-pura sebagai pemuda yang miskin?" Diska terlihat bingung.


Rama tersenyum melihat wajah istrinya yang kini bertanya-tanya akan kepemilikan kebun sawit yang luas yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Bang, siapa yang punya kebun sawit ini ayo, dong jawab." Riska mulai mendesak sang suami untuk menjawab pertanyaannya.


"Kebun sawit ini luasnya sekitar 112 hektar, dan semuanya akan menjadi milik kamu dan Farel," ujar Rama.


"Apa?" lirih Diska.


Diska tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang suami. Dia menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak bohong kan, Bang?" tanya Diska memastikan bahwa sang suami tidak berbohong.


Rama hanya tersenyum melihat sikap istrinya yang kini tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Sayang, apakah kamu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan?" lirih Rama.


"Apakah aku pernah berbohong padamu?" tanya Rama pada istrinya.


"Tapi, Bang ini hal yang mustahil kamu bisa memiliki kebun sawit lebih 100 hektar," ujar Diska masih tidak percaya.


"Iya, Sayang, kebun ini sudah menjadi milikku, dan sebentar lagi kebun ini akan menjadi milikmu dan Farel." Rama meyakinkan istrinya.

__ADS_1


"Tapi, Bang Dari mana kamu dapat uang balik kebun sawit sebanyak ini?" tanya Diska semakin penasaran dengan sosok sang suami.


"Nanti akan aku ceritakan saat kita sudah berada di pondok kebunku," jawab Rama santai.


"Kenapa nggak diceritain sekarang saja, sih. Aku kan semakin penasaran kamu nyebelin deh, Bang," gerutu Diska.


Dia terlihat kesal dengan suaminya yang sejak beberapa minggu yang lalu masih menyembunyikan sesuatu darinya.


"Sayang, kamu sabar dulu ya sebentar lagi kamu akan tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku selama 3 tahun ini," ujar Rama membujuk sang istri.


"Iya, tapi kenapa harus nungguin nanti sih sekarang juga bisa kok ceritanya," ujar Diska sambil mengerucutkan bibirnya.


Rama tersenyum melihat sang istri yang kini cemberut.


"Kamu itu terlihat menggemaskan kalau lagi cemberut gitu, tapi sayang cantiknya hilang," goda Rama.


Rama sengaja mengalihkan pembicaraan agar sang istri tidak merajuk lagi.


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita lanjutkan perjalanan menuju kebunku," ajak Rama pada istrinya.


Dia pun berdiri, turun dari pondok tempat mereka beristirahat tadi.


Masih dengan wajah yang cemberut Riska mengikuti langkah sang suami.


"Kamu mau digendong lagi, ya?" tanya Rama pada istrinya.


Riska hanya diam dengan wajah yang masih kesal.


"Ya udah, kalau mau digendong, Ayo sini aku gendong lagi." Rama pun bersiap untuk menggendong sang istri tapi Diska mengelak lebih cepat.


"Enggak, aku bisa jalan sendiri, kok," bantah Diska.


Rama tersenyum melihat istrinya lalu dia meraih tangan sang istri, dia menggenggam erat tangan wanitanya.


Setelah itu dia pun membawa istrinya melangkah menuju kebun yang biasa ditempatinya selama ini.


Tak berapa lama mereka pun sampai di pondok yang ada di kebun Rama, pondok yang selama ini menjadi tempat bernaung Rama dalam kesepian dan kesunyian seorang diri.


Di pondok itu dia meluapkan rasa yang terpendam di hatinya selama ini, kini dia pun datang ke pondok tersebut untuk mengungkap rasa bahagia dan syukur yang kini didapatnya setelah menikah dengan wanita yang selama ini dicintainya.


Saat mereka sampai di pondok tersebut, Rama langsung masuk ke dalam pondoknya.


Sedangkan Diska berdiri diam di depan pintu.


Rama pun langsung menarik tangan sang istri dan membawanya masuk ke dalam pondok kecil itu.


Rama menyalakan sebuah lampu minyak sebagai penerang di dalam pondok itu.


Rama sengaja menutup pintu dan jendela agar tidak ada orang yang mengetahui bahwa mereka saat ini ada di dalam pondok tersebut.


Diska mengerikan dahinya melihat apa yang dilakukan sang suami saat ini, Rama terlihat jongkok di dekat tungku perapian.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" lirih Diska penasaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2