
Setelah mereka selesai sarapan, Pak Bayu dan Bu Naina pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk melaksanakan tugas mereka sebagai seorang dokter.
"Yun, kami berangkat dulu, ya. nanti siang kamu tidak perlu repot-repot memasak begitu juga nanti malam, biar ibu membeli makanan di luar untuk makan malam kita bersama," pesan Bu Naina pada Yuyun sebelum dia berangkat ke rumah sakit.
"Baiklah, Bu, kalau begitu." tujuan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Mama Diska.
Setelah itu mereka pun menaiki mobil, Pak Bayu pun melajukan mobilnya manajer rumah sakit.
Hanya butuh waktu 15 menit mereka sudah sampai di rumah sakit, sesampai di rumah sakit Pak Bayu langsung menuju ruangannya begitu juga dengan bu Naina langsung menuju ruangannya.
Pak Bayu akan sibuk seharian karena hari ini banyak jadwal operasi yang harus dilaksanakannya.
Sementara itu Bu Naina tidak terlalu banyak pekerjaan karena pasien yang datang hari ini tidak terlalu banyak.
Saat jam istirahat, Bu Naina melangkah menuju kantin yang ada di rumah sakit untuk mengisi perutnya yang kosong karena sudah waktunya untuk makan siang.
Tanpa disadarinya seorang pria mengikuti langkah Bu Naina menuju kantin.
Bu Naina pun memesan makanan yang diinginkannya lalu memilih duduk di bagian pojok kantin tersebut agar dia dapat menenangkan diri dari kegalauan hatinya saat ini.
Saat menunggu pesanannya, seorang pria datang menghampiri Bu Naina dengan senyuman yang lebar di wajahnya.
"Bolehkah aku ikut bergabung di sini?" tanya Ferdy pada wanita yang dulu pernah menjadi wanita yang dicintainya.
Naina kaget melihat sosok pria yang pernah masuk ke dalam kehidupannya di masa lalu kini berdiri tepat di sampingnya.
"Mhm, bo-boleh." Naina terpaksa membolehkan Ferdy duduk bersamanya.
"Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Ferdy pada Naina.
Sewaktu berjumpa dengan Naina waktu itu, dia tidak bisa berbicara banyak dengan Naina karena menghargai Bayu sebagai sahabatnya.
"Alhamdulillah, aku baik," jawab Naina seadanya.
__ADS_1
Ferdy memperhatikan paras cantik wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
Dia masih teringat kejadian puluhan tahun yang lalu, dia harus melepaskan wanita yang dicintainya itu karena Naina dijodohkan dengan pria lain yang tak lain tak bukan adalah sahabatnya sendiri yang mana baru diketahuinya saat Bayu dan Naina pindah ke kota Padang.
"Ternyata usia tidak mengubah paras cantikmu, kecantikanmu masih sama sewaktu kita masih kuliah," ujar Ferdy memuji Naina.
"Ferdy, aku mohon jaga ucapanmu. Ingat ada batasan yang harus kita jaga," ujar Naina pada mantan kekasihnya itu.
"Hei, santai saja, Nai. Aku tahu batasanku. Aku hanya ingin memuji kecantikan istri sahabatku," ujar Ferdy.
Naina hanya hanya diam mendengar ucapan Ferdy.
"Permisi, Dok. Ini pesanannya," ujar si pelayan yang mengantarkan makanan yang dipesan oleh Naina.
"Terima kasih," ucap Naina dengan senyuman ramah.
"Eh, Kak saya tolong pesan menu yang sama dengan dokter Naina," ujar Ferdy pada si pelayan tersebut.
Setelah itu si pelayan pun melangkah menuju dapur untuk memasak pesanan yang diminta oleh dokter Ferdy.
"Sepertinya kamu bahagia dengan Bayu, aku bersyukur kamu bisa menjalani hidup tanpa aku, tapi sayang hidupku hampa setelah kamu tak ada lagi dalam hidupku," tutur Ferdy mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Ferdy memang pernah menikah, tapi pernikahannya tak berlangsung lama karena wanita yang menjadi istrinya selingkuh.
Alasan perselingkuhan mantan istrinya adalah kurang kasih sayang yang diberikan oleh Ferdy terhadapnya, dia beralasan Ferdy tidak menyayangi dan mencintainya karena masih ada wanita lain yang mengisi hati Sang suami.
Puluhan tahun telah berlalu hati Ferdi masih teruntuk pada wanita yang bernama Naina yang mana wanita itu kini sudah sah menjadi istri sahabatnya.
Naina hanya diam mendengar penuturan dari mantan kekasihnya itu.
"Andaikan waktu itu aku bisa memilikimu mungkin semua kekayaan dan harta yang melimpah aku miliki menjadi sempurna dengan hadirnya seorang wanita yang kucintai." Ferdy terus mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini pada mantan kekasihnya.
"Bagiku harta kekayaan dan tahta yang kini aku miliki jauh dari kata sempurna karena aku tidak dapat memiliki cinta," ujar Ferdy lagi.
__ADS_1
Perkataan yang dilontarkan oleh Ferdy membuat hati Naina merasa terluka, dia merasa bersalah telah meninggalkan kekasihnya demi perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Saat itu Naina tidak memiliki pilihan lain, karena ayahnya mengancam akan bunuh diri jika dia tidak mengikuti perintah sang ayah.
Naina sebagai wanita yang polos dan mencintai keluarganya rela menghapus rasa cinta terhadap kekasih yang ditinggalkannya lalu menikah dengan pria yang sudah memiliki istri tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka.
Naina mengetahui bahwa suaminya memiliki istri selain dirinya saat Bayu meminta izin untuk pergi dalam beberapa waktu menemui istri pertamanya.
Sebagai seorang istri Naina merasakan firasat yang tidak baik, ternyata dia melihat dengan mata kepalanya bahwa sang suami memiliki wanita lain selain dirinya.
Awalnya Naina berpikir bahwa suaminya berselingkuh dengan seorang janda yang sudah memiliki anak, tapi setelah sang suami menjelaskan kenyataannya Naina memutuskan untuk menemui istri pertama Bayu dan berharap sanggup tinggal bersama dengan istri pertamanya karena Naina merasa kasihan pada gadis kecil yang bernama Zharin.
Saat Sarah dan zarin pergi meninggalkan sang suami, Naina berjuang mati-matian meraih hati suaminya hingga akhirnya mereka hidup bahagia.
Naina tidak menyangka Ferdy tersiksa dengan keputusan yang sudah diambilnya, dia ikut merasakan sedih yang kini dirasakan oleh pria yang sempat mengisi relung hatinya.
"Ini semua adalah takdir, kita sebagai seorang hamba harus pasrah dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah," ujar Naina berharap Ferdy bisa melupakan dirinya.
"Aku tahu ini semua adalah takdir untuk kita, Allah sudah mengambil keputusan untuk tidak mentakdirkan kita hidup bersama, tapi apakah takdir itu tidak mengizinkan aku dan kamu kembali berteman?" tanya Ferdy pada Naina.
Dokter yang terlihat masih tampan di usia 50 tahun itu berharap Naina mau menjalin persahabatan dengannya agar hari-harinya kembali berwarna.
"Sekadar berteman itu wajar saja, Aku tidak akan melarang kamu berteman denganku, hanya saja aku berharap kamu tahu batasan-batasan yang harus kita jaga," ujar Nayla memberi kesempatan kepada Ferdy untuk dekat dengannya.
"Benarkah?" Ferdy tak menyangka mau memberi ruang untuk dirinya.
"Sebagai seorang teman tak akan menjadi masalah," ujar Naina dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Hal itu membuat hati Ferdi merasa bahagia, dia merasa hidupnya yang hampa kini kembali berwarna dengan hadirnya sosok teman yang bernama Naina.
"Terima kasih, Naina. Ternyata kamu tidak pernah berubah, kamu masih sama seperti waktu yang aku kenal," ujar Ferdi dengan senyuman yang sulit diartikan.
Bersambung...
__ADS_1