Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 31


__ADS_3

"Yuk," sahut Diska.


Diska dan Rama berdiri dan melangkah meninggalkan kafe tersebut.


Mereka langsung melangkah menuju mobil yang terparkir di depan kafe, setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.


Rama melajukan mobil meninggalkan kafe lalu mengarahkan mobilnya menuju mall yang ditunjukkan jalannya oleh Diska.


Rama sudah mulai terbiasa dengan suasana kota Bandung, jadi dia tidak canggung lagi mengendarai mobil di sana, meskipun sudah beberapa tahun dia tidak mengendarai mobil.


Sewaktu dia bekerja di pemerintahan desa, Rama sering menjadi sopir yang mengantarkan pegawai pemerintahan desa ke mana pun, baik mengantarkan mereka pergi tugas luar maupun sekadar pergi jalan-jalan.


Waktu itu Rama selalu melakukan apa saja agar dia memiliki uang untuk tetap bertahan hidup.


"Kamu udah lama bisa bawa mobil, Bang?" tanya Diska penasaran pada Rama.


"Lumayanlah, dulu waktu aku masih umur 16 tahun pernah jadi Kernek bus, dari sana belajar bawa mobil. Kalau sopirnya mengantuk, ya sang supir nyuruh aku gantiin dia. 2 tahun bekerja jadi Kernek, pak Didin nyuruh aku ikut sekolah paket biar punya ijazah, setelah itu aku kerja di pemerintahan desa sama pak Didin," cerita Rama mengingat sulitnya kehidupan yang harus dilewatinya sejak kedua orang tuanya meninggal dunia.


Diska mengangguk paham mendengar cerita Rama.


"Seandainya waktu itu kamu tidak mendiamkan aku, mungkin aku tidak akan pernah terpikirkan untuk menggarap kebun orang tuaku, dan aku tidak akan bisa seperti sekarang ini," ujar Rama mengenang masa-masa pahit perjalanan cinta mereka.


Diska mengingat kenangan itu, tak hanya Rama yang merasakan sakit, tapi Diska juga merasa sakit dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka waktu itu.


Wajah Diska berubah menjadi sendu, rasa sakit itu kembali muncul di benaknya.


Rama melihat raut wajah sang calon istri, dia pun tersenyum.


"Di balik apa yang sudah kita jalani ini, semua ada hikmahnya. Dengan berbagai cobaan yang sudah kita lewati sebelum bersatu, semoga cinta kita akan bertahan hingga maut memisahkan kita," ujar Rama.


"Saat itu, kita sama-sama sakit dan terluka, semoga pernikahan kita akan mengobati luka yang sudah kita hadapi," ujar Rama lagi.


Diska menoleh ke arah Rama, dia menatap dalam pria yang kini fokus mengendarai mobil dan sesekali menoleh padanya.


"Kamu benar, Bang. Semoga apa yang sudah kita lewati menjadi penguat hati kita dalam menjalani kehidupan rumah tangga nantinya," lirih Diska.


Diska setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rama.


Rama tersenyum pada Diska, lalu dia pun membelokkan setir mobil masuk ke kawasan mall.


Rama memarkirkan mobil di basemant gedung mall.


Setelah itu mereka turun dari mobil, dan masuk ke dalam mall.


"Dek," lirih Rama di saat mereka sedang berjalan-jalan mengelilingi beberapa toko di mall.


"Mhm," gumam Diska.

__ADS_1


"Aku boleh minta sesuatu, enggak?" tanya Rama.


"Mhm, apa?" tanya Diska balik.


"Boleh, enggak?" tanya Rama lagi.


"Iya, apa? Kamu mau minta apa?" tanya Diska sambil menghentikan langkahnya.


Rama tersenyum melihat wajah Diska yang kini cemberut, raut wajah ibu satu anak itu sangat menggemaskan membuat Rama ingin mencubit pipinya, tapi dia ingat bahwa mereka belum muhrim.


"Mhm, aku mau kamu memilih alat shalat yang paling nyaman dan paling bagus," jawab Rama sambil tersenyum manis.


"Mhm, kenapa harus yang bagus?" tanya Diska.


"Mhm, supaya kamu nyaman memakainya dalam beribadah nantinya, dengan begitu aku juga mendapatkan pahala ibadah yang kamu lakukan," ujar Rama singkat.


Diska terharu mendengar apa yang diucapkan oleh Rama.


Diska dapat merasakan banyak perubahan yang terjadi pada diri sang pemuda desa itu, Diska dapat merasakan bahwa Rama menjadi lebih baik dan lebih bijaksana serta dia juga bertambah sholeh.


Diska tersenyum lalu mengangguk.


"Ayo, kita ke toko itu," ajak Diska sambil menunjuk ke arah sebuah toko yang dipenuhi dengan berbagai macam model perangkat alat shalat.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam toko yang ditunjuk oleh Diska.


Pramuniaga itu menyambut kedatangan Rama dan Diska dengan senyuman yang mengembang.


Sang pramuniaga memperhatikan sosok Rama yang berdiri di samping Diska, dia merasa Rama tidak cocok bergandengan dengan Diska yang terlihat cantik dan elegan sedangkan penampilan Rama sangat sederhana.


Diska melihat raut wajah si pramuniaga yang terlihat merendahkan sosok calon suaminya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Diska kesal.


"Itu, pacarnya, Mbak?" tanya Si pramuniaga dengan tatapan remeh.


"Ini calon suami saya, memangnya kenapa?" tanya Diska kesal.


"Mbaknya dipelet, ya. Kok mau sih sama cowok seperti dia?" bisik Si pramuniaga di telinga Diska.


Entah mengapa emosi Diska langsung naik mendengar ucapan si pramuniaga yang merendahkan Rama.


Memang penampilan Rama terlihat biasa saja, bukan seperti seorang Sulthan yang berduit banyak.


Plak.


Diska langsung melayangkan tamparan di wajah si pramuniaga karena wanita itu sudah menghina Rama secara tidak langsung.

__ADS_1


Rama kaget dengan apa yang dilakukan oleh Diska.


"Dek, kamu kenapa?" lirih Diska.


"Hei, Mbak. Jangan kurang ajar, ya!" bentak si pramuniaga tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan Diska padanya.


"Kamu yang harus jaga sikap dan mulut kamu!" bentak Diska tidak mau kalah.


"Lho? Aku ngomong apa adanya, kok. Memang benar yang saya bilang, Mbak cantik-cantik levelnya sama gembel," ujar si pramuniaga semakin panas.


"Jaga mulutmu!" bentak Diska sudah bersiap untuk menampar mulut comber si pramuniaga.


Beruntung Rama memegangi tangan calon istrinya, dia menahan Diska agar tidak mengamuk lagi.


"Dek, udah. Kamu kenapa, sih?" tanya Rama bingung melihat wanita yang dicintainya tiba-tiba emosi tingkat tinggi seperti itu.


"Ini ada apa?" tanya seorang wanita dengan gaya modis dan berwibawa.


"Ini, Bu. Mbaknya nampar saya," ujar si pramuniaga mengadukan apa yang sudah dilakukan Diska terhadap dirinya.


"Saya tidak akan menampar dia kalau mulutnya tidak kurang ajar!" bantah Diska.


"Maaf, Nona. Apa yang sudah dilakukan karyawan saya?" tanya si wanita yang terlihat sudah berumur itu dengan penuh kharisma.


"Maaf, Nyonya. Karyawan anda ini sudah lancang menghina calon suami saya," jawab Diska berusaha menahan emosinya karena saat ini Rama sedang berusaha menahan dirinya.


"Maksud, Nona?" tanya si wanita yang kemungkinan pemilik toko itu.


"Tanyakan saja pada karyawan anda. Kalau mencari karyawan usahakan yang memiliki attitude," ujar Diska.


"Ye, anda saja yang tidak sopan. Seharusnya anda bersyukur sudah saya ingatkan, mana tahu anda dipelet sama cowok gembel itu," ujar si pramuniaga tidak mau kalah.


Dia menunjuk ke arah Rama yang berpenampilan sederhana, dan wajah tampannya pun tertutup karena wajahnya yang gelap ulah sering bekerja di bawah terik matahari.


"Anda dengar Nyonya? Dia sudah berani menghina calon suami saya," ujar Diska penuh penekanan.


"Kalau anda tidak memecat wanita ini, maka saya akan viralkan bahwa toko ini memiliki karyawan yang tidak memiliki attitude," ujar Diska mengancam si pemilik toko.


Beberapa orang yang ada di sana sudah merekam kejadian tersebut.


Rama terlihat pusing dengan apa yang terjadi.


"Maafkan karyawan saya, Nona. Baik, saya akan memecatnya." Si pemilik toko menoleh ke arah karyawannya.


"Kamu saya pecat sekarang juga," ujar si pemilik toko pada pramuniaga tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2