
"Pria ini,--" ucapan Zharin tergantung.
Mereka berdua kaget saat melihat pria yang ada di foto itu merupakan Papa Diska yaitu dokter Bayu
"Apakah pria yang ada di foto ini adalah Ayah Zharin?" tanya Rezi pada ibu Zharin.
"Iya, tapi Ibu tidak tahu gimana keberadaannya saat ini," jawab ibu Zharin.
Zharin menoleh ke arah Rezi, dia teringat pada pria yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang saat dia bertemu dengannya.
"Apakah itu penyebabnya jantungku berdetak dengan kencang saat bertemu dengan ayah wanita yang disukai dokter Rezi?" gumam Zharin di dalam hati.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan, Bu?" tanya Zharin pada ibunya.
"Kamu hanya perlu memberitahukan padanya bahwa kamu adalah putrinya," jawab ibu Zharin.
"Tapi, Bu. Jika ayah tidak mau mengakui bahwa aku putrinya apa yang harus aku lakukan?" tanya Zharin.
Gadis itu takut jika sang ayah tidak mengenali dirinya lagi karena mereka sudah lama tidak bertemu.
"Jika dia tidak mengakui dirimu sebagai putrinya maka mintalah padanya untuk menjadi wali dalam pernikahanmu," ujar ibu Zharin.
"Di mana aku akan mencarinya?" tanya Zharin.
Zharin menoleh ke arah Rezi, dia yakin Rezi tahu di mana papa Diska berada saat ini.
"Aku tahu di mana keberadaan dokter Bayu sekarang," ujar Rezi.
Ibu Zharin menatap tak percaya ke arah Rezi.
"Apakah kamu mengenali Ayah Zharin?" tanya ibu Zharin.
"Iya, Bu. Dokter Bayu adalah teman dekat papa," jawab Rezi.
Ibu Zharin menoleh ke arah putrinya. Dia tersenyum lega.
"Itu artinya kamu bisa menikah dengan Rezi, setelah kamu bertemu dengan ayahmu," ujar Ibu Zharin.
Ibu Zharin menyesal telah meninggalkan suaminya tanpa mendengarkan penjelasan dari sang suami, tapi penyesalan yang saat ini dirasakannya tiada guna lagi.
Makanya dia ingin putrinya menikah dengan ayah kandungnya sebagai wali nikah nantinya.
"Kalau Nak Rezi memang serius dengan Zharin bawalah Zharin bertemu dengan ayah kandungnya," ujar ibu Zharin penuh harap pada pemuda yang kini telah mengisi hari-hari putrinya.
"Ibu tenang saja, aku akan membawa Zharin bertemu dengan ayahnya Setelah dia sembuh, saat ini sering butuh istirahat," ujar Rezi.
Dua hari telah berlalu, Rezi dan Zharin akan berangkat ke kota Padang. kebetulan Rezi dipercaya memberi materi di saat acara pelatihan yang diadakan oleh dinas kesehatan.
__ADS_1
Rezi sengaja membawa Zharin, karena dia tahu saat ini papa Dika alias Ayah Zharin sudah bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di kota Padang, mereka sudah menetap di Kota Padang sejak beberapa bulan yang lalu.
"Kamu siap untuk berangkat?" tanya Rezi pada wanita yang kini mulai mengisi hatinya.
Rezi melebarkan senyumannya kepada wanita tersebut.
"Ya, tapi aku masih gugup," tutur Zharin.
Wanita itu belum pernah sama sekali menaiki pesawat, dia merasa takut untuk naik pesawat yang akan membawanya ke terbang ke atas awan.
"Kamu tenanglah aku akan selalu ada di sampingmu," lirih Rezi
Rezi menggenggam erat tangan wanita yang kini sudah menggantikan posisi di Diska di hatinya.
"Bagaimana kalau begini? Apakah kamu masih gugup?" tanya Rezi.
Zharin hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan manis dari pria yang kini sudah menggantikan posisi pria yang dulu pernah dicintainya.
Mereka kini sudah berada di atas pesawat terbang, Rezi masih saja menggenggam erat tangan gadis itu, dia sengaja menggenggam terus tangan Zharin karena dia sangat mencintai wanita tersebut.
Di saat pesawat hendak lepas landas, justru kini zarin yang menggenggam erat tangan pria yang ada di sampingnya.
"Tenanglah kamu nggak usah takut," ujar Rezi.
2 jam telah berlalu, pesawat yang di tumpangi oleh Rezi dan Zharin kini mulai mendarat di Bandara Internasional Minangkabau Sumatera Barat.
Sesampai di bandara, Rezi dan Zharin keluar mencari taksi online yang akan mengantarkan mereka ke sebuah hotel.
Saat di dalam taksi, Zharin terlihat gugup, dia belum sanggup untuk bertemu dengan pria yang merupakan ayah kandungnya.
Dia sudah membayangkan sosok pria tersebut menendang dirinya dari hadapannya.
Zharin yakin kehadiran dirinya akan merusak kebahagian ayahnya.
Kehidupan Pak Bayu dan Bu Naina kini sudah bahagia, dia tidak ingin kebahagiaan itu sirna.
Buliran bening jatuh membasahi pipinya di saat mengenang masa lalunya.
Di suatu hari saat Zharin mengikuti acara hari ayah di sekolahnya, semua teman-teman Zharin datang bersama ayah dan ibunya, sementara itu Syahrin datang hanya ditemani oleh ibunya.
"Zharin, semua orang membawa ayahnya. Kamu mana ayahmu?" tanya teman Zharin meledek Zharin yang tidak pernah membawa ayahnya setiap acara ayah yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Zharin hanya diam, dan akhirnya dia pun menangis meratapi nasibnya yang tidak memiliki seorang ayah.
"Rin, Zharin." Rezi melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zharin.
"Rin, Kamu kenapa menangis?" tanya Rezi heran.
__ADS_1
"Mhm," gumam Zharin.
Dia bingung harus menjawab apa kepada Rezi.
Rezi tersenyum, lalu dia pun menghapus air mata yang kini membasahi pipi wanita yang dicintainya.
"Kamu tidak boleh nangis seharusnya kamu tersenyum dan bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Ayah kandungmu," ujar Rezi menghibur.
Sesampai di hotel, mereka turun dari taksi, Zharin terlebih dahulu mengusap wajahnya yang sembab.
Dia harus menutupi rasa sedih yang kini melanda jiwanya.
Mereka masuk ke dalam hotel, di sana Rezi memesan dua kamar untuk mereka.
"Kamarnya terpisah?" tanya resepsionis heran melihat mereka memesan dua kamar.
"Iya, Kak." Rezi tersenyum pada resepsionis tersebut.
"Saya kira tadi suami istri," ujar si resepsionis.
"Bukan, Kak. Akan, do'akan saja kami berjodoh," ujar Rezi menanggapi ucapan si resepsionis.
Zharin hanya tersenyum malu, dia tersipu mendengar ocehan Rezi dan si resepsionis tersebut.
"Baiklah, tunggu sebentar," ujar si Resepsionis.
Setelah itu mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing, Rezi sengaja memesan kamar bersampingan.
Saat sore hari, Rezi pun membawa Zharin untuk bertemu dengan Diska yang kebetulan saat ini Diska sedang berada di kota Padang untuk mengikuti pelatihan yang juga diikuti oleh Rezi nantinya.
Mereka sudah berjanji bertemu di suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" tanya Zharin saat Rezi membawanya keluar dari hotel.
"Kita akan bertemu dengan Diska," jawab Rezi.
"Diska?" tanya Zharin.
"Iya, kemungkinan besar Diska adalah adikmu," ujar Rezi.
Zharin terdiam.
Rezi membawa Zharin ke sebuah kafe yang terletak di pinggir pantai kota Padang.
Mereka langsung masuk ke dalam kafe itu dan langsung menghampiri Diska dan Rama.
"Ayo, itu mereka." Rezi membawa Zharin ke tempat Diska.
__ADS_1
Mata Zharin tertuju pada Diska, ada amarah yang terpendam di hatinya untuk Diska.
Bersambung...