Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 109


__ADS_3

Sarah marah kepada putrinya, dia juga kecewa pada Zharin yang telah membela ayahnya yang baru saja dikenalinya.


"Bu, aku mohon dengarkan penjelasan Ayah terlebih dahulu. Setelah itu terserah ibu mau bersikap bagaimana pada ayah," ujar Zharin memohon pada wanita yang sudah melahirkannya itu.


Sarah terdiam. Dia menunduk, lalu Bayu pun mulai menceritakan apa yang terjadi di saat itu.


Bayu yang menikah dengan Naina karena ancaman dari kedua orang tuanya, membuat dia harus menyakiti hati Naina dan Sarah.


Sesakit hati 2 wanita itu, lebih sakit lagi hatinya. Dialah yang paling tersiksa melihat 2 wanita yang baik hati itu terluka.


"Sarah, maukah kamu mendengar alasanku?" tanya Bayu pada Saraf.


Sarah hanya diam, setelah itu Bayu mulai menceritakan alasannya menikah dengan Naina.


Semua orang yang ada di sana ikut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bayu.


Tanpa disadarinya buliran bening jatuh di pipi ibu Zharin, Sarah menangis, dia menyesali apa yang sudah dilakukannya, seandainya dulu Sarah tidak emosi dan mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.


Mungkin mereka bisa hidup bahagia berdampingan dengan Mama Diska.


"Bang," lirih Sarah pada Bayu.


Bayu pun menoleh ke arah sang istri.


"Maafkan aku," lirih Sarah.


"Sudahlah, sekarang kita mulai hidup yang baru," ujar Bayu.


Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Bayu, dia lupa dengan hati Naina yang mungkin akan terluka dengan apa yang akan direncanakan oleh pak Bayu.


"Bagaimana dengan Naina?" tanya Sarah.


Sebagai seorang wanita dia tahu sekali bagaimana perasaan Naina jika Bayu mengambil keputusan sepihak tanpa membicarakan masalah ini pada Naina.


Bayu terdiam, dia pun tampak berpikir sejenak.


"Baiklah, aku akan diskusikan masalah ini dengan Naina," lirih Bayu.


Sementara itu Naina di Padang masih sibuk dengan pekerjaannya.


Dia menyelesaikan laporan bulanan yang diminta pihak rumah sakit karena kebetulan akhir bulan.


Tok tok tok.

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu ruangan Naina, seketika Naina menghentikan pekerjaannya lalu dia berdiri dan melangkah menuju pintu.


Lalu dia pun membukakan pintu ruangannya tersebut.


"Eh, kamu," lirih Naina saat melihat sosok pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya puluhan tahun yang lalu.


"Apakah kehadiranku mengganggumu?" tanya Ferdy setelah Naina membuka pintu.


"Eh, enggak. Aku sedang menyelesaikan laporan bulanan," jawab Naina.


"Oh, Apakah aku boleh masuk?" tanya Ferdy lagi.


"Mhm, ya udah, silakan," jawab Naina.


Naina terpaksa membiarkan Ferdy masuk ke dalam ruangannya, karena saat ini Dia tidak memiliki alasan untuk menolak keberadaan Ferdy bersamanya.


Setelah itu Ferdy pun masuk ke dalam ruangan Naina, tanpa sungkan dia pun duduk di sebuah kursi yang ada tepat di depan kursi yang biasa digunakan oleh Naina.


Naina pun duduk di kursi yang biasa digunakannya, dia terdiam sejenak menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ferdy kepadanya.


Beberapa menit mereka berdua hanya duduk diam tanpa ada seorang pun yang memulai topik pembicaraan.


"Mhm, ada apa?" lirih Naina.


Naina ragu untuk mempertanyakan alasan Ferdy datang menemui dirinya.


Ferdy juga balik bertanya, karena dia sendiri. saat ini bingung harus memulai Pembicaraan mereka dengan apa, karena sejujurnya dia datang ke ruangan Naina hanya ingin bertemu dengan wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya, hingga saat ini hatinya masih tertuju pada wanita yang kini berada di hadapannya.


Naina menghela napas panjang saat mendengar ucapan Ferdy.


"Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Naina pada Ferdy.


"Eng-enggak, aku hanya ingin ngobrol saja denganmu," jawab Ferdy.


Saat ini Ferdy tahu betul bahwa sahabatnya alias suami Naina sedang tidak berada di kota Padang, sehingga Ferdy bisa dengan leluasa untuk bertemu dengan pujaan hatinya.


"Mhm, ngobrol aja. Kamu mau ngomong apa?" tanya Naina pada Ferdy.


Naina berusaha mencairkan suasana agar Ferdy tidak bersikap sungkan terhadap dirinya.


"Aku juga bingung mau ngobrol apa, bagaimana kalau kita nanti makan malam di luar?" ajak Ferdy.


Naina terdiam sejenak, di saat hatinya diselimuti kesepian, justru Ferdy hadir memberi perhatian.

__ADS_1


Naina yang saat ini bersedih karena suaminya yang belum juga kembali dari Bandung.


Janjinya Pak Bayu hanya pergi ke Bandung selama 1 atau. 2 hari, sekarang Bayu telah pergi lebih 3 hari. Bahkan saat ini Bayu terlihat sulit untuk dihubungi dan dia pun jarang menghubungi Naina karena dia sibuk mengurusi ibu Zharin yang masih sah menjadi istri pertamanya.


Naina yakin saat ini suaminya masih bersama ibu Zharin, bahkan Naina mulai curiga mereka kembali menjalin hubungan mereka yang dulu sempat terputus.


"Ya Allah, apa sebenarnya yang sedang Engkau rencanakan untuk diriku ini, Mengapa di saat hatiku kesepian kau hadirkan kembali pria yang dulu sempat aku cintai di hadapanku," gumam Naina bimbang.


"Hei, Kamu kenapa melamun? Apakah ada yang kamu pikirkan?" gaya pergi saat melihat Naina terdiam dan terpaku menatapnya dengan tatapan kosong.


"Nai," lirih Ferdy sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Naina.


"Eh, iya a-ada a-apa?" lirih Naina.


"Sepertinya kamu melamun, apa sebenarnya kini kamu pikirkan?" tanya Ferdy penasaran.


"Tidak ada apa-apa, aku tidak memikirkan apapun," jawab Naina.


"Nai, jika kamu ada masalah kamu boleh katakan padaku," ujar Ferdy menawarkan diri.


Seolah-olah saat ini Ferdy mengerti akan perasaan yang kini tengah dirasakan oleh Naina.


Naina tersenyum tipis, dia menertawakan dirinya saat ini. seketika Dia merasakan dirinya terlalu bodoh melepaskan sang suami pergi bersama wanita yang merupakan putri dari istri pertamanya.


Seandainya Naina mempertahankan sang suami untuk tetap berada di posisinya, mungkin saat ini dia tidak akan merasakan kesedihan.


"Aku tidak ada masalah apapun, saat ini aku hanya kelelahan," ujar Naina.


Naina enggan menceritakan masalah pribadinya kepada Ferdy, apalagi saat ini posisi Ferdy adalah sebagai orang ketiga di antara dirinya dengan sang suami.


"Ya sudah, kalau memang kamu tidak mau menceritakan apa masalah yang kini tengah kamu hadapi, tapi kamu tidak menolakkan ajakan makan malam dariku," ujar Ferdy masih saja mendesak Naina untuk ikut makan malam bersamanya.


"Mhm," gumam Nayla tampak berpikir.


"Ya sudah, kalau begitu aku hubungi Bang Bayu dulu," ujar Naina.


Naina sengaja berbicara seperti itu mengisyaratkan kepada Ferdi bahwa dia merupakan seorang istri yang menjaga muruah dirinya.


"Oh, silakan," ujar Ferdy.


Ferdy memberi kesempatan kepada Naina untuk menghubungi sang suami, di dalam hatinya dia berharap saat ini Bayu tidak bisa mengangkat panggilan dari sang istri.


Nayla mencoba menghubungi sang suami untuk meminta izin pada bayu bahwa dirinya akan pergi bersama sahabat dari suaminya.

__ADS_1


Benar saja berkali-kali Naina menghubungi sama suami, masih saja tidak diangkat.


Bersambung....


__ADS_2