
"Ka-kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rama pada istrinya.
Dia tidak menyangka istrinya akan mengikutinya keluar.
Rama pun mengajak istrinya duduk di sofa ruang tamu. Dia menggenggam erat tangan istrinya.
"Mhm, tidak ada yang apa-apa yang aku lakukan. Aku hanya memberi pelajaran kepada pria b******n yang sudah berani menyakiti dirimu," jawab Rama pada Diska.
"Tapi, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?" tanya Diska pada sang suami.
Diska takut suaminya melakukan hal-hal yang akan mengotori dirinya.
"Aku tidak melakukan apa-apa terhadap mereka, aku hanya memberi peringatan kepada istrinya untuk meninggalkan pria b******n tersebut agar pria itu sadar dengan apa yang telah dilakukannya," ujar Rama jujur.
"Tapi, Sayang. Di saat dia terpuruk pasti Dia sangat membutuhkan dukungan sang istri," ujar Diska berpendapat.
"Jadi, kamu malah membela pria itu?" tanya Rama sewot.
Rama melepaskan tangan istrinya lalu dia pun berdiri dan meninggalkan istrinya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
Rama kesal mendengar istrinya membela pria yang sudah menyakiti dirinya.
"Sayang," panggil Diska.
Diska pun ikut berdiri dan melangkah mengejar sang suami.
Rama mengabaikan panggilan sang istri, dia merasa kesal saat istrinya menganggap apa yang telah dilakukannya salah.
Rama pun terus berjalan melangkah menuju kamar mereka yang ada di lantai 2.
Saat Rama baru menginjakkan kaki di tangga pertama, Diska langsung merangkul tubuh kekar suami dari belakang.
"Heran, ternyata suamiku suka ngambek juga, nih," ujar Riska menggoda sang suami.
"Padahal aku hanya menyampaikan pendapatku, bukan membela pria b******n itu," lirih Diska dengan nada manja.
Rama membalikkan tubuhnya lalu menatap dalam sang istri.
"Lagian, apa yang aku lakukan saat ini memberi peringatan kepada semua orang bahwa mereka tidak bisa menyakiti dirimu sama sekali," ujar Rama memberi alasan apa yang telah dilakukannya.
Paling tidak setelah kejadian ini tidak seorang pun yang akan berani mengusik kehidupan istrinya dan putranya.
"Iya, aku kan hanya mengeluarkan pendapatku bukan membela pria b******n itu," ujar Diska membela diri.
"Kamu ini bisa aja," lirih Rama.
__ADS_1
Diska memeluk erat tubuh sang istri, setelah itu dia mengangkat wajahnya menatap dalam wajah tampan sang suami.
Dia masih teringat dengan wajah tampan sang suami nan lusuh saat dirinya bertemu setelah beberapa tahun berpisah, kini terlihat dengan jelas wajah itu semakin glowing dan terlihat lebih bersih dari sebelumnya.
"Apakah kamu menggodaku?" tanya Rama pada istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Menurutmu," lirih Diska dengan nada yang begitu manja sehingga Rama pun merasa sehat mulai bergejolak di tubuhnya.
Rama langsung mengangkat tubuh sang istri, dia menggendong sang istri ke dalam kamar.
"Apakah ini yang kamu inginkan?" tanya Rama setelah mereka berada di dalam kamar.
Rama membaringkan tubuh Diska di atas tempat tidur, setelah itu dia pun mulai melancarkan aksinya.
"Sayang," lirih Diska sebelum Rama memulai aksinya.
"Apa?" tanya Rama.
Seketika Rama menghentikan aksinya.
"Tidak ada," lirih Diska.
Diska hanya ingin mengerjai sang suami.
"Ternyata kamu sekarang semakin menggoda," bisik Rama.
Saat ini, Diska bagaikan candu bagi Rama, dia selalu menginginkan tubuh sang istri setiap malamnya.
****
Pukul 03.00.
Diska terbangun dari tidurnya, dia pun langsung bangkit dari posisinya, dia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berapa lama setelah Diska keluar dari kamar mandi Rama pun terbangun dari tidurnya.
Dia melihat istrinya hendak melakukan shalat sunat tahajud.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" lirih Rama dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Eh, iya. Kamu kenapa bangun lebih awal?" tanya Diska.
Biasanya Diska akan membangunkan suaminya Setelah dia selesai melaksanakan shalat tahajud dan shalat sunat lainnya.
"Tidak apa-apa, ya sudah aku mandi dulu," ujar Rama.
__ADS_1
Setelah itu Rama pun turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dia juga bersiap-siap hendak melaksanakan shalat sunat yang biasa dikerjakannya.
2 insan itu semakin hari semakin kuat menjalankan ibadah kepada Sang Khalik, mereka memiliki keyakinan bahwa harta dan kekayaan serta kebahagiaan yang saat ini mereka dapatkan adalah kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada mereka.
Setelah Diska selesai melaksanakan ibadah rutin yang selalu dilakukannya.
Dia pun keluar dari kamar dan melangkah ke dapur menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang nanti.
Diska sudah terbiasa melakukan hal ini setiap harinya, sehingga Yuyun datang ke rumah hanya untuk mengasuh Farel.
Riska tidak ingin terlalu merepotkan Yuyun, di samping menghasilkan Farel Yuyun juga membantu membersihkan rumah milik Rama, meskipun hanya menyapu dan mengepel lantai rumah.
Untuk pekerjaan lainnya dilakukan Diska sebelum dia berangkat bekerja, Diska belum menemukan asisten rumah tangga yang menurutnya cocok membantu dirinya mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Dia belum menemukan orang yang bisa melakukan pekerjaan seperti Yuyun, yang ikhlas dan baik hati.
Diska juga tidak ingin Yuyun melakukan semua pekerjaan itu, karena sejak awal, Diska hanya ingin Yuyun menjadi pengasuh Farel.
Yuyun tidak ingin terlalu memberatkan Yuyun karena saat ini Yuyun juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri dan dia juga merupakan seorang menantu yang harus menjaga ibu mertuanya yang sakit di saat Rudi pergi bekerja.
Saat Diska sibuk di dapur, Rama baru saja selesai melaksanakan shalat sunatnya.
Sebelum waktu subuh masuk, Rama pun ikut turun ke bawah. Dia ingin membantu sang istri yang kini mempersiapkan segala hal untuk dirinya dan putranya sebelum berangkat bekerja.
"Sayang," lirih Rama saat dia telah berada di dapur.
Dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Hei, apa yang kamu lakukan, Sayang?" tanya Diska pada sang suami yang kini menggodanya.
"Aku ingin terus memeluk tubuh indahmu," bisik Rama di telinga Diska.
Dia meletakkan dagunya di atas bahu sang istri, Rama mulai mengelus lembut perut Diska yang masih ramping.
"Farel kapan punya adik, ya?" bisik Diska pada sang istri.
Rama sudah tidak sabar memiliki buah hati kembali, dia ingin istrinya mengandung dan dia akan menjadi suami siaga untuk sang istri.
Rama sudah bertekad akan melakukan apa saja untuk sang istri, dia ingin menjadi suami terbaik bagi sang istri di saat istrinya mengandung buah cinta mereka.
"Sayang, Farel masih kecil," lirih Diska.
Saat ini Diska belum terlalu menginginkan seorang bayi karena dia merasa kasihan pada Farel yang selalu ditinggal saat dia pergi bekerja.
"Apakah kamu tidak menginginkan anak lagi?" tanya Rama dengan nada kecewa.
__ADS_1
Bersambung...