Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 73


__ADS_3

"Mhm, mungkin aku akan mencoba menjalin hubungan dengannya." Mbak Yuyun sudah mengambil keputusan.


Semalaman suntuk dia memikirkan perihal ini, lalu dia pun meminta petunjuk pada Allah dalam menentukan pilihan, akhirnya saat bangun tidur Mbak Yuyun merasa yakin dengan keputusannya.


Hal yang dipertimbangkan oleh Mbak Yuyun adalah selama dia bersama dengan Rudi, dia merasa senang dan nyaman.


Mungkin saat ini belum ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Rudi, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba mencintai.


"Baguslah kalau begitu, nanti biar Uci Desmi yang bilang sama Rudi, sekaligus Uci akan menasehati dia, buat Uci Rudi dan Rama hampir sama, mereka sama-sama anak Uci," ujar Uci Desmi senang mendengar penuturan Mbak Yuyun.


****


Hari ini, Zharin akan mulai bekerja di sebuah kantin yang ada di rumah sakit. Rezi mencarikan pekerjaan untuk gadis pekerja keras itu.


Dia tidak ingin keahlian Zharin dalam memasak tidak dilatih, dia ingin gadis itu meraih mimpinya sebagai seorang chef setidaknya bisa menjadi juru masuk sebagai permulaan.


"Tak seharusnya kamu repot-repot mencarikan pekerjaan ini untukku," ujar Zharin pada Rezi merasa terlalu banyak menyusahkan dokter tampan nan baik hati.


"Tidak masalah, aku senang bisa membantumu," ujar Rezi.


"Ya sudah, nanti sore aku akan jemput kamu ke sini, aku harus melanjutkan pekerjaanku," ujar Rezi berpamitan pada Zharin setelah mengantarkan gadis itu ke kantin tempat dia bekerja.


"Iya, jangan lupa. Makan siangnya di sini," ujar Zharin bahagia.


Zharin sudah terbiasa berkomunikasi dan bergaul dengan dokter tampan itu, apalagi saat ini sang dokter sudah sangat dekat dengannya.


Zharin pernah mengharapkan cinta Rezi, tapi saat Rezi melihat Diska dengan tatapan penuh cinta, dia sadar diri. Dia tidak boleh berharap terlalu jauh, kini pria itu sudah membantunya mencari pekerjaan.


"Gimana, Dok? Sepertinya semakin lengket saja sama gadis pekerja keras itu," goda Laura, sang perawat yang selalu berada di sisi Rezi saat bekerja.


Rezi tersenyum pada Laura.


"Dia baru saja memulai harinya pagi ini, dia sudah bekerja di kantin rumah sakit," ujar Rezi.


"Dok, aku perhatikan kalian cocok, lho." Laura menyampaikan pendapatnya.


"Apaan sih, Ra. Dia itu sudah mencintai pria lain, meskipun pria itu sudah meninggalkannya," ujar Rezi.


Wajah dokter tampan itu berubah warna merah karena malu.


"Ih, wajah dokter berubah merah. Berarti dokter memang menyukai gadis itu?" ujar Laura terus menggoda sang dokter.

__ADS_1


Rezi duduk di kursinya, pikirannya tertuju pada hari-hari yang dilewatinya bersama Zharin.


Banyak hal yang membuat Rezi merasa senang saat bersama Zharin.


"Entahlah, Ra. Aku merasa senang saat bersama gadis itu, dia memiliki aura positif buatku," ujar Rezi mengungkapkan apa yang dirasakannya pada perawat yang selalu setia berbagi cerita dengannya.


"Sepertinya, dokter memang mencintai nya. Kalau memang menyukainya, mending dokter cepat-cepat menyatakan cinta dokter entar keburu disambet orang," ujar Laura memberi saran kepada Rezi.


"Hah? Menyatakan cinta pada Zharin?" tanya Rezi memastikan.


"Iya, Dok. Apakah dokter lupa dengan apa yang sudah terjadi pada dokter sebelumnya?" ujar Laura.


Rezi menautkan kedua alisnya, dia mencerna arti ucapan Laura.


"Selama ini, dokter mencintai dokter Diska dalam diam. Sehingga dia pun pergi diambil pria lain yang baru dikenalnya, apakah dokter ingin mengalami hal itu lagi?" tanya Laura pada Rezi.


Rezi terdiam mendengar ucapan Laura, semua yang dikatakan oleh Laura ada benarnya.


"Apakah aku harus mengungkapkan perasaanku padanya?" gumam Rezi di dalam hati.


Beberapa hari terakhir, Rezi merasakan hati yang berbunga-bunga saat berada di samping Zharin.


Dia sudah mulai jatuh hati pada gadis pesisir yang pekerja keras itu.


Saat ini Rezi belum bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk perjalanan cintanya.


****


Diska dan Rama sudah sampai di klinik desa Silaping.


"Hari ini aku akan pergi ke ujung gading buat mencari sepeda motor untuk kita," ujar Rudi saat Diska sudah turun dari sepeda motor.


"Ya sudah, kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan, ya," ujar Diska.


"Iya, Sayang." Rama memberikan senyumannya.


Diska meraih tangan Rama lalu menyalaminya dan menciumi punggung tangan tangan sang suami.


Setelah itu, Diska pun masuk ke dalam klinik, sedangkan Rama melanjutkan perjalanan menuju ujung gading.


"Hai, Dis!" sapa Gina saat Gina sudah berada di dalam klinik.

__ADS_1


Gina sudah menunggu Diska sejak tadi, dia berjanji akan menemani Diska menghadap pada kepala klinik.


"Kak Gina," seru Diska


Diska melangkah menghampiri Gina, mereka pun saling berpelukan melepas rasa rindu meskipun mereka tak bertemu beberapa minggu sejak resepsi pernikahan Diska di desa.


"Aku senang, Dis. Akhirnya kamu mau menerima tawaranku," ujar Gina bersemangat.


"Iya, Kak. Kebetulan mama dan papa juga pindah ke rumah sakit yang ada di kota Padang, karena itu aku juga memutuskan untuk pindah dari Bandung ke sini," ujar Diska.


"Memang seharusnya begitu, untuk apa kamu bekerja di Bandung sedangkan orang tua kamu berada di sini. lagian kalau di Bandung Rama tidak bisa bekerja, sedangkan di sini dia bisa mengolah kebun miliknya. ya walaupun aku tahu Rama sekarang berbeda dengan Rama yang dulu," ujar Gina.


"Tapi menurut aku Bang Rama masih sama kok dengan Bang ramai yang dulu," ujar Diska menanggapi ucapan temannya.


"Iya, sifatnya memang sama dari yang dulu. tapi sekarang dia sudah menjadi Pemuda desa yang sangat kaya raya," ujar Gina.


Gina salah satu orang yang takjub dengan suratan takdir yang dipegang oleh Rama, pria yang sejak kecil hidup susah dan menderita hanya sekejap mata berubah menjadi seorang miliarder.


Rama saat ini tanpa bekerja pun dia sudah memiliki hasil setiap bulannya, dengan kebun sawit seluas 200 hektar bisa menghasilkan ratusan juta dalam satu bulan.


"Ah, entahlah, Kak." Diska hanya bisa tersenyum menanggapi pujian Gina.


"Tanpa kamu bekerja pun, kalian akan hidup bahagia, mau sawit murah atau mahal kalian akan tetap makan," ujar Gina lagi.


"Alhamdulillah, Kak. Tapi, aku mau menikah dengannya bukan karena hal itu, lho," ujar Diska.


Diska tidak ingin orang-orang menganggap dirinya hanya menginginkan harta Rama. Cintanya pada sang Pemuda Desa itu benar-benar tulus apa adanya.


"Iya, aku tahu kok. Santai aja kali," ujar Gina sambil tersenyum.


"Ayo, kita ke ruang kepala klinik," ajak Gina.


Mereka pun melangkah menuju ruang kepala klinik.


Tok tok tok.


Gina mengetuk pintu ruang kepala klinik saat mereka sudah berada di depan ruangannya.


"Masuk!" teriak seorang pria dari ruangan tersebut.


Gina membuka pintu lalu mereka pun masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Diska kaget saat melihat sosok pria yang kini duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruangan tersebut.


Bersambung...


__ADS_2