Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 66


__ADS_3

Sebelum tidur, Diska memikirkan apa yang sudah dikatakan oleh kedua orang tuanya.


"Mama dan papa mendukung aku pindah ke daerah sini. Lagian, Bang Rama juga bisa bekerja tidak hanya berdiam diri di rumah, apakah sebaiknya aku mengikuti saran dari mereka?" gumam Diska di dalam hati.


Pikirannya dan hatinya terus saja bergejolak, dia masih bimbang dengan keputusan yang terbaik untuk dijalaninya.


Diska menatap wajah tampan 2 pria yang sangat disayanginya.


Keduanya sudah tertidur lelap, mungkin karena perjalanan jauh yang telah mereka tempuh.


"Ya Allah, apa yang harus aku pilih? Aku juga kasihan melihat Bang Rama yang tidak ada kerjaan di Bandung," lirih Diska.


Dikarenakan dia tidak bisa tidur memikirkan masalah ini, Diska turun dari tempat tidur, lalu dia pun melangkah menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.


Dia pun melaksanakan shalat tahajjud serta shalat istikharah. Diska memohon petunjuk pada Sang maha mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.


Diska sudah biasa melakukan shalat istikharah di saat dia sedang bimbang, kali ini dia pun melakukan hal itu agar Allah memberikan petunjuk padanya untuk mengambil keputusan.


Usai shalat, Diska berdo'a dan memohon pada Allah agar dia diberikan jawaban atas pilihan yang membuatnya bimbang.


Rama terbangun dari tidurnya, dia menyadari Diska tak berada di atas tempat tidur, dia pun bangkit dan duduk.


Dia hendak mencari sang istri, saat dia hendak turun dari tempat tidur, dia pun melihat sang istri tengah memohon do'a pada Allah.


Rama tersenyum melihat sang istri yang kini tengah bermunajat pada sang Khalik.


Sejak 3 tahun yang lalu, sosok Diska memiliki banyak perubahan, dia semakin dewasa dan semakin Sholehah.


"Ya Allah, terima kasih engkau telah menghadirkan sosok wanita yang Sholehah dalam hidupku, meskipun kami sudah melakukan hal yang Engkau murkai, Engkau masih memberikan kenikmatan dalam hidup yang kini kami rasakan." Rama bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Tuhan padanya.


"Sayang, kamu bangun?" tanya Diska setelah melipat sajadahnya.


Diska melangkah menghampiri sang suami, lalu dia pun duduk di samping Rama.


"Sayang, kalau kamu merasa keberatan dengan saranku, aku tidak akan memaksamu untuk pindah ke desa," lirih Rama.


Rama tahu, pasti saat ini istrinya tidak bisa tidur karena memikirkan permintaan Rama padanya.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Aku akan mempertimbangkan baik buruk pilihan ini. Saat ini aku belum tahu mana yang terbaik untuk kita, semoga beberapa hari ke depan aku bisa memutuskannya agar masalah ini tidak berlarut-larut.


Rama mengubah posisinya, kini dia berhadapan dengan Istrinya, Rama merebahkan kepala istrinya ke pundak kekarnya.


"Aku tidak ingin kamu sakit memikirkan masalah ini, jika kamu memang tidak ingin pindah, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini. Aku akan tetap berada di sampingmu. Aku menikahimu karena aku ingin menjaga kalian," tutur Rama.


Diska menikmati kehangatan pelukan sang suami, dia merasakan ketulusan yang diberikan oleh sang suami.


Dia juga sadar dan mengerti dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Rama. Demi dirinya, Rama rela meninggalkan tanah kelahirannya agar bisa bersama dirinya.


Diska membenamkan wajahnya dalam dekapan hangat sang suami.


"Terima kasih, Sayang. Hal ini tidak hanya permintaan kamu, Bang. Mama dan papa juga menginginkan aku pindah ke daerah sini," lirih Diska.


"Sekarang jangan pikirkan permintaan siapa pun. Saat ini tanyakan diri kamu, kamu nyamannya di mana. Kamu sudah pernah tinggal di desa. Kamu tahu di mana kamu merasa tenang dan nyaman. Pikirkan dan rasakan dengan hati kecilmu," nasehat Rama.


Rama memberi masukan kepada sang istri, dia tidak ingin Diska semakin bingung menentukan pilihan yang harus dijalaninya.


"Ya sudah, Dek. Sekarang kamu tidur, ya. Kamu harus istirahat karena besok kita akan kembali ke Bandung," ujar Rama meminta istrinya untuk beristirahat.


"Aku mau shalat dulu, kamu tidur duluan saja, ya," ujar Rama pada Diska.


Kini dia mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mulai memejamkan matanya.


Tak berapa lama dia pun mulai tertidur dengan lelap.


Sementara itu Rama bangkit dari tempat tidur lalu dia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu, kini dia pun melaksanakan shalat tahajud dan istikharah sebagaimana yang dilakukan oleh sang istri.


Rama juga memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk jalan yang terbaik untuk mereka.


Setelah selesai shalat, Rama kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berharap masih bisa tidur untuk beberapa waktu sebelum waktu subuh masuk.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Rama dan Diska iska sudah siap untuk berangkat kembali ke Bandung.


"Ma, Pa. kami berangkat dulu, Mama dan Papa hati-hati di sini," ujar Diska berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di jalan," ujar Bu Naina melepaskan kepergian putrinya.

__ADS_1


"Diska, Papa harap kamu tidak lupa mempertimbangkan tawaran yang ada di desa tempat tinggal Rama," pesan Pak Bayu kepada putrinya.


"Farel, Salim dulu sama kakek dan nenek," perintah Diska kepada Putra kecilnya.


Farel langsung mendekati kakek dan neneknya, Bu Naina meraih cucu kecilnya lalu menggendongnya.


"Arel pamit, Nek," ucap Farel dengan nada menggemaskan.


Bu Naina menciumi pipi cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Sayang. Kalian sering-sering jenguk nenek di sini," pinta Bu Naina pada pria kecil yang kini berada di dalam gendongannya.


"Siap, Nek!" sahut Farel memasang gaya hormat.


Tingkah Farel membuat semua orang tertawa.


"Ya sudah, Ma. Pa. Kami berangkat dulu," ujar Diska berpamitan.


Rama mengambil Farel dari gendongan ibu mertuanya. Mereka pun melangkah menuju taksi yang sudah terparkir di depan hotel.


Mereka masuk ke dalam taksi tersebut, Mbak Yuyun membantu Diska mengangkat barang-barang mereka ke dalam taksi.


Taksi pun melaju meninggalkan kawasan hotel.


Sementara itu, Bu Naina dan Pak Bayu juga bersiap-siap menuju rumah kontrakan mereka.


Mereka harus membersihkan lagi rumah itu, dan mengatur semua barang-barang yang ada di sana.


Mereka juga memesan taksi untuk mengantarkan mereka menuju kontrakan baru mereka.


"Bismillah, semoga jalan yang kita pilih diberkahi Allah ya, Pa," ujar Naina saat mereka sudah berada di dalam taksi menuju rumah kontrakan baru mereka.


Pak Bayu dan Bu Naina akan memulai kehidupan baru di daerah baru, mereka bersiap-siap untuk menghadapi apa pun yang akan mereka temui di kota Padang ini.


Mereka telah meninggalkan rumah besar yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka saat berada di Bandung.


Saat ini untuk sementara waktu Diska dan Rama yang akan tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2