Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 114


__ADS_3

Sarah melihat Naina berdiri di samping Bayu, hatinya terasa sakit melihat pria yang selama ini masih dicintainya berdampingan dengan wanita lain.


Sarah tidak bisa membayangkan bagaimana wanita yang kini berdiri di samping suaminya itu menjalani hari-hari indah dan penuh kebahagiaan, sementara itu dia hidup dalam penuh kesulitan.


Ada rasa benci tumbuh di hati Sarah terhadap wanita yang telah merebut suaminya itu.


Bayu dan Naina kini melangkah mendekati Sarah yang terbaring di atas tempat tidur.


"Sarah, bagaimana keadaanmu?" tanya Bayu mengembangkan senyum manisnya untuk istri pertamanya.


"Mhm, aku baik," lirih Sarah.


Sarah terlihat jelas tidak suka dengan keberadaan Naina di sana bersama dengan Bayu.


Bayu menoleh ke arah Naina, wanita itu tersenyum manis pada Sarah.


"Mbak, maaf aku baru bisa menjenguk," ujar Naina sambil tersenyum.


"Lebih baik kamu tidak usah repot-repot datang ke sini," ujar Sarah dengan nada sinis.


Entah mengapa rasa sakit yang dulu dirasakannya kini mulai kembali terasa.


Sesaat senyuman yang tadi terukir di wajah Naina memudar begitu saja.


Pak Bayu menoleh ke arah Naina, dia mengerti perasaan istri keduanya saat ini.


"Sarah, aku mohon jangan salahkan Naina atas kehadirannya di rumah sakit ini," pinta Bayu.


"Naina datang karena dia ingin sekali bertemu denganmu," ujar Bayu lagi membela istri keduanya.


Sarah menatap tajam pada Bayu, dia seakan marah dengan pembelaan dirinya terhadap istri kedua suaminya itu.


"Maaf, jika kedatanganku ke sini membuat Mbak Sarah merasa terganggu," lirih Naina.


Sebagai seorang wanita Naina dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Sarah saat ini.


"Sayang, aku tunggu kamu di luar," ujar Naina pada sang suami.


Lalu dia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Bayu ingin menghentikan langkah Naina, tapi dia juga tidak ingin menyakiti hati Sarah.


Sarah menatapi punggung Naina yang menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


"Bu, tak seharusnya ibu seperti itu pada Mama Naina, beliau hanya ingin menjenguk ibu. Ibu yang mengajarkan aku untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain, tapi kenapa ini sekarang seperti ini?" lirih Zharin mengingatkan ibunya.


Sebagai seorang anak, wajar menasehati ibunya di saat ibunya berbuat salah.


Sarah terdiam, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Rin, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Bayu mengalihkan topik pembicaraan.


"Mhm, aku tidak tahu, Pa. Sepertinya ada suatu hal yang serius yang kini dialami ibu," jawab Zharin.


Bayu langsung menatap Rezi, dia meminta Rezi menjelaskan apa yang kini terjadi.


Rezi pun menjelaskan keadaan Sarah yang saat ini tengah mengidap penyakit bronkitis kronik, hal ini disebabkan oleh pergaulan Sarah yang bekerja dengan buruh pabrik ikan asin yang tak pernah berhenti merokok saat mereka bekerja.


"Astaghfirullah," lirih Bayu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Bayu pada Rezi.


"Saat ini, Dokter akan berusaha menyembuhkan Ibu Zharin sebisa mungkin," jawab Rezi.


"Rezi, melihat kondisi Ibu Zharin saat ini, dia harus dirawat dengan intensif. Apakah memungkinkan kita pindahkan perawatannya ke kota Padang?" tanya Bayu tiba-tiba.


Zharin menggelengkan kepalanya.


"Ini, tidak mungkin, Yah. Siapa yang akan menjaga ibu di sana?" tanya Zharin.


"Rin, ayah ingin membawa kalian ke Padang. Papa ingin bertanggung jawab atas kalian, dan papa juga tidak ingin lagi jauh dari kalian," ujar Bayu meminta Zharin mengerti situasi saat ini.


"Tapi, Yah," lirih Zharin.


Dia ingin membantah ucapan ayahnya, tapi Zharin terdiam saat melihat tatapan ayahnya yang terlihat memohon.


"Mas, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku tidak ingin ke mana-mana," ujar Sarah.


Sarah berharap Bayu mengerti dengan dirinya.


"Sarah, aku mohon. Naina sudah mengizinkan aku untuk membawamu tinggal bersama kami. Aku harap kamu mau membuka hatimu untuk menerima keberadaan Naina di antara kita." Bayu memohon pada istri pertamanya itu.


"Aku ingin kita hidup bersama dengan damai, jika di sini aku tidak bisa karena aku saat ini sudah bertugas di Padang," jelas Bayu.


Mereka pun terdiam, begitu juga dengan Rezi, jika Zharin pindah ke Padang, itu artinya dia akan berpisah dengan wanita yang dicintainya.


Rezi tak ingin banyak bicara karena dia tahu diri posisinya saat ini.

__ADS_1


sementara itu Naina duduk di sebuah bangku panjang yang ada di depan ruang rawat Sarah.


Dia memegangi dadanya yang terasa sesak, hatinya terluka mendapatkan perlakuan tidak baik dari istri pertama suaminya.


"Ya Allah kuatkan hati hamba dalam menjalani ujian yang Kini Engkau berikan kepadaku, hamba tahu Engkau memberikan ujian ini padaku karena Engkau yakin bahwa aku sanggup menghadapinya," gumam Naina berusaha menahan rasa sakit yang kini dirasakannya.


Naina masih setia menunggu sang suami menyelesaikan urusannya dengan istri dan putrinya.


Dari awal kedatangan mereka ke Bandung memiliki tujuan yaitu membawa Zharin dan ibunya ke Padang.


Mereka akan mencari rumah kontrakan yang layak untuk mereka tempati bersama.


Naina dengan susah payah memberi peluang untuk Sarah dan Zharin kembali masuk ke dalam rumah tangganya.


****


"Sayang, sebelum kita kembali ke desa. Bagaimana kalau kita cari rumah yang bisa ditempati Mama dan papa beserta Kak Zharin dan ibunya," pinta Diska saat mereka makan malam.


Hari ini Diska masih menginap di Padang karena ada urusan yang harus diselesaikannya.


"Mhm, baiklah. Bagaimana kalau kita beli rumah saja untuk mereka, supaya tidak terikat kontrak dengan orang lain," usul Rama.


Bagi seorang Rama membeli rumah besar bukanlah hal yang sulit karena tujuh turunan pun tidak akan habis sama sekali.


Dia memang tidak memiliki perusahaan besar, tapi baginya hasil sawitnya perbulan mencapai ratusan juta.


Dia tidak perlu pusing-pusing memikirkan kenaikan harga saham atau yang lainnya.


Dia cukup meminta Rudi dan Bang Husein untuk mengelola perkebunan miliknya.


Rudi dan Husein bukanlah pekerja, tapi mandor yang akan menghandle para buruh untuk merawat kebun sawit milik Rama.


"Terserah, apa kamu yakin mau membelikan rumah untuk kedua orang tuaku?" tanya Diska pada suaminya.


Diska merasa tidak enak hati jika keluarganya akan menyusahkan suaminya.


"Sayang, sejak kecil aku tidak memiliki kedua orang tua. Aku hidup sebatang kara. Dengan adanya mama dan papa aku kembali merasakan kasih sayang orang tua. Sebisa mungkin aku akan memperlakukan mereka seperti kedua orang tuaku sendiri," ujar Rama.


Diska tersenyum pada suaminya, dia semakin kagum dengan pria yang kini telah sah menjadi suaminya.


Dia sama sekali tidak menyesal dengan pilihannya menikah dengan seorang pemuda desa yang sederhana.


Niat tulusnya menikah dengan pria sederhana itu tak menyangka akan membuahkan kebahagiaan yang tak terkira.

__ADS_1


Menikah tanpa memandang harta sama sekali, kini dia bergelimang harta dari warisan yang didapat Rama dari kedua orang tuanya.


Bersambung...


__ADS_2