
Mereka pun saling berpelukan, Rama kembali mempercayai sang istri, justru dia meretuki kebodohannya yang sudah memikirkan hal-hal negatif tentang istrinya.
"Ya sudah, kalau begitu, ayo kita makan aku udah lapar, nih," ajak Rama pada sang istri.
"Tadi katanya enggak mau makan, sekarang malah mau makan," ledek Diska.
"Hehe, itu kan tadi, sekarang beda dong," ujar Rama sambil tersenyum malu.
Dia malu pada istrinya, ternyata dia belum bisa bersikap dewasa seperti istrinya.
Saat ini Rama masih belum percaya diri pada istrinya karena dia hanyalah seorang pemuda desa yang tidak berpendidikan.
Sehingga di saat dia melihat istrinya dekat dengan siapa pun yang berpenampilan rapi atau berpakaian dinas, dia selalu saja merasa minder.
Diska pun berdiri, lalu mengajak Farel untuk keluar dari kamar.
Mereka pun keluar kamar lalu melangkah menuju ruang makan untuk menyantap makan malam.
Uci Desmi sudah memasak untuk makan malam mereka, wanita paruh baya itu selalu begitu. Dia sudah menganggap Rama dan Diska sebagai putra dan putrinya sehingga memasak untuk mereka bukanlah suatu hal yang memberatkan baginya.
"Sayang," lirih Diska di sela-sela mereka menyantap makan malamnya.
"Mhm," gumam Rama menanggapi ucapan sang istri.
"Lain kali kalau ada masalah apapun jangan langsung ngambek gitu, dong. tidak ada salahnya Abang membicarakan masalah itu secara langsung sama aku, agar tidak ada terjadi kesalahpahaman di antara kita," ujar Diska berharap Rama mengerti apa yang diinginkannya.
"Iya, Dek. Maafkan Abang, ya. Aku hanya takut kehilangan kamu," lirih Rama mengungkapkan apa yang ditakutkannya.
"Aku mengerti, tapi aku harap Abang juga mengerti bagaimana perasaanku," lirih Diska.
Rama tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Maaf, aku tahu aku sudah berbuat salah," ucap Rama menyesali sikapnya.
"Aku sudah memaafkanmu, Sayang." Riska mengajak lembut pipi sang suami.
"Hahaha." Farel tertawa melihat apa yang dilakukan oleh bundanya.
Sepasang suami istri itu pun menoleh ke arah putra mereka, lalu mereka tersenyum.
Terlihat anak kecil itu bahagia melihat kedekatan ayah dan bundanya.
Mereka pun tertawa bahagia, mereka dapat merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara Rudi mengucapkan salam dari luar rumah Uci Desmi.
__ADS_1
Rama dan Diska saling berpandangan.
"Sepertinya itu Rudi dan Mbak Yuyun datang," ujar Diska.
"Biar aku yang melihat keluar," ujar Rama.
lama berdiri lalu menggendong putranya membawa Farel keluar untuk membuka pintu, sedangkan Diska mulai merapikan meja makan yang sempat berantakan saat mereka makan tadi.
Dia membersihkan segala kirim kotor bekas mereka makan.
Setelah selesai membersihkan meja makan dan piring-piring kotor, Diska pun keluar ikut bergabung dengan yang lainnya, yang mana mereka kini sedang duduk di ruang tamu.
"Udah pulang, Mbak?" ujar Diska saat dia sudah berada di ruang tamu.
Mbak Yuyun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Diska.
"Apakah kalian sudah makan? Kalau belum makan, makan dulu kebetulan hidangannya masih terhidang di atas meja," ujar Diska.
"Udah, kok. Kami sudah makan di luar," jawab Rudi.
"Oh," lirih Diska.
Diska penduduk dari samping suaminya, mereka mulai mengobrol mengenai pernikahan yang akan dilaksanakan oleh Rudi dan Mbak Yuyun.
Rudi meminta pendapat Rama dan Diska dalam pelaksanaan akad nikah yang akan mereka lakukan.
"Kalian tidak usah pusing, nanti aku akan meminta bantuan teman yang bekerja di kantor camat untuk mengurus segala data-data persyaratan dalam pernikahan nanti," ujar Rama.
Tak berapa lama mereka mengobrol Uci Desmi pun datang.
"Assalamu'alaikum," ucap sang wanita paruh baya.
Dia langsung masuk ke dalam rumah karena kebetulan pintu rumah tidak tertutup.
"Udah kumpul semua, nih?" ujar Uci Desmi saat melihat semua orang sudah berada di dalam ruang tamu di rumahnya.
"Iya, Ci." Rudi tersenyum bahagia.
"Bagaimana, Rudi? Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian?" ujar Uci Desmi menyerang Rudi dengan pertanyaan.
Rudi tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
"Tenang saja, Uci. kami akan melangsungkan pernikahan secepatnya agar tidak terjadi fitnah di antara kami," jawab Rudi.
"Baguslah kalau begitu, mempercepat mewujudkan hal yang baik itu merupakan suatu kebaikan," ujar Uci Desmi.
"Apakah Uci sudah makan malam?" tanya Diska mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah, tadi kebetulan di acara rapat. panitia rapat menyediakan bubur kacang hijau, jadi Uci sudah merasa kenyang," ujar Uci Desmi.
Setelah itu mereka pun mengobrol kembali membahas acara pernikahan Rudi dan Mbak Yuyun.
Sementara itu di tempat lain, Miko sedang duduk di balkon kamarnya. Dia mengabaikan istrinya yang sejak tadi sudah menunggunya di atas tempat tidur.
Miko menatapi kendaraan yang lalu lalang di jalan depan rumahnya sambil mengenang masa lalunya yang mencintai Diska.
Miko kenal dengan Diska saat mereka Diska menjadi mahasiswa baru di Universitas yang sama dengan Miko.
Saat itu, Miko merupakan senior yang melakukan perpeloncoan untuk Mahasiswa baru.
Di saat acara perpeloncoan mahasiswa baru, semua mahasiswa dan mahasiswi baru serta senior mengadakan rihlah ke sebuah pantai.
Saat di perjalanan, Miko duduk satu bangku di bus dengan Diska.
Di saat itu, Diska tidak mengacuhkan Miko sama sekali meskipun Miko mengajak dirinya berbicara, tapi Diska tidak terlalu menghiraukannya.
Saat itu Miko merasa kesal pada Diska, sehingga dia pun mulai merancang rencana untuk mendekati Diska.
Namun, dia tidak memiliki kesempatan untuk mencari peluang mendekati Diska karena di samping Diska selalu ada Rezi.
Di saat hatinya mulai tidak dapat menahan rasa yang ada di hatinya terhadap wanita yang dicintainya itu, dia mendapati Diska tengah berjalan seorang diri, di saat itu Miko pun hendak meluapkan rasa cintanya dengan cara yang salah, sehingga Diska selalu takut untuk bertemu dengannya.
"Setelah beberapa tahun kita tidak berjumpa, kamu terlihat semakin cantik dan mengagumkan," lirih Miko.
"Apakah aku akan bisa mendapatkanmu?" gumam Miko di dalam hati.
Miko masih berharap bisa memiliki wanita yang dicintainya itu, meskipun di saat ini telah ada seorang wanita yang mendampinginya.
"Sayang," lirih istri Miko yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Miko membalikkan tubuhnya lalu menatap istrinya dengan tatapan jenuh.
Istri Miko kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan lingerie seksi berwarna merah, dia berusaha menarik perhatian sang suami yang sejak tadi mengabaikan keberadaan dirinya di kamar itu.
"Ada apa?" tanya Miko pada sang istri.
"Sayang, ayo kita tidur. Sudah malam, aku ngantuk," ujar istri Miko merengek pada Miko agar sang suami mau masuk ke dalam kamar.
"Tidurlah terlebih dahulu," ujar Miko menyuruh istrinya untuk tidur.
Istri Miko terlihat kesal, tapi dia justru menghampiri sang suami.
Sang istri mulai merangkul tubuh kekar sang suami, lalu dia pun mulai mengecup pelan bi*ir sang suami.
Di saat seperti itu, Miko mulai membalas kecupan sang istri. Entah mengapa Miko pun mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya sehingga kini mereka pun kini sudah berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Diska," lirih Miko saat hendak beraksi.
Bersambung...