Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 36


__ADS_3

Usai akad nikah, Rama dan Diska melakukan prosesi foto wedding untuk mengabadikan pernikahan mereka.


Mereka berfoto ria tak hanya berdua, mereka tidak lupa untuk mengajak pangeran kecil mereka.


"Terima kasih, Bang. Aku sangat bahagia dengan apa yang sudah kamu lakukan," ujar Diska pada Rama di saat mereka sudah selesai prosesi foto.


Sementara itu para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati makanan yang sudah disediakan oleh keluarga Pak Bayu.


Saat sore hari, para tamu satu per satu mulai sepi. Pak Bayu dan Bu Naina sengaja mengundang hanya beberapa orang penting dalam acara akad nikah putrinya, karena mereka akan mengadakan resepsi pernikahan putrinya satu Minggu lagi.


Meskipun Diska meminta pada kedua orang tuanya agar resepsi pernikahan mereka tidak diadakan dengan cara mewah, cukup sederhana sekadar memberitahukan kepada keluarga dan kerabat atas kabar bahagianya.


Pak Bayu tetap akan mengadakan resepsi pernikahan sesuai keinginannya, karena Diska merupakan putri satu-satunya maka mereka tetap akan mengadakan resepsi yang mewah.


"Sayang, kalian pasti lelah. Sekarang kalian istirahatlah dulu, mandi dan bersiap untuk shalat maghrib," ujar Bu Naina.


Wanita paruh baya itu membujuk Farel agar mau ikut bersamanya.


Bu Naina mengambil Farel dari gendongan Rama. Sejak Farel bertemu dengan Rama, anak itu seolah tidak ingin berpisah lagi dengan ayah kandungnya.


"Farel, ayah sama bunda mau mandi dan bersih-bersih dulu, Farel sama nenek, ya," ujar Bu Naina seolah mengerti dengan situasi.


Bu Naina tahu saat ini Diska dan Rama butuh ruang dan waktu untuk berduaan.


Farel mengangguk, dia pun berpindah ke gendongan sang nenek.


Rama dan Diska pun melangkah menuju kamar Diska yang ada di lantai dua. Rama menggenggam erat tangan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Jantung Rama berdebar kencang karena saat ini dia sudah sah menjadi suami wanita yang saat dicintainya.


Meskipun mereka sudah pernah melakukan hubungan badan, tapi tetap saja mereka merasa gugup.


Jika sebelumnya yang mereka lakukan adalah sebuah dosa besar, maka setelah ini mereka melakukannya untuk ibadah.


Saat mereka sudah berada di dalam kamar, Rama langsung mengunci pintu kamar.


Diska mengernyitkan dahinya, dia takut suaminya itu langsung menuntut haknya.


"Apa yang mau kamu lakukan, Bang?" tanya Diska.


Rama menatap Diska dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jangan sekarang, Bang," lirih Diska menggelengkan kepalanya.


Diska mengira sang suami akan meminta dia melakukan kewajibannya.


Rama langsung memeluk Diska dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu, aku sangat merindukanmu," lirih Rama.

__ADS_1


Rama meluapkan apa yang dirasakannya pada Diska, rasa yang tiga tahun terpendam. Rasa bahagia yang kini Allah telah meridhoi hubungan mereka.


"Aku bahagia," lirih Rama dengan nada serak.


Tanpa disadarinya, kini buliran bening mulai membasahi pipinya, sang pemuda desa itu mulai menangis.


Tangis bahagia dan rasa syukur telah diberi kesempatan untuk bisa hidup bersama wanita yang sangat dicintainya.


Diska heran mendengar suara Rama yang kini sudah menangis.


Dia berusaha melepaskan pelukan erat sang suami.


"Sayang," lirih Diska heran.


Diska bingung melihat suaminya kini menangis.


"Ada apa, Bang?" tanya Diska heran.


Diska pun menuntun suaminya untuk duduk di atas tempat tidur.


Rama masih saja menangis, kali ini dia menangis tersedu-sedu.


Akhirnya Diska pun membiarkan sang suami menangis meluapkan rasa yang terpendam di hatinya.


Setelah Rama merasa puas meluapkan rasa yang ada di hatinya, dia pun menatap Diska lalu tersenyum.


Rama mengecup lembut puncak kepala Diska.


"Tangisku merupakan tangis bahagia karena telah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa bersama dengan wanita yang sangat aku cintai," lirih Rama.


Diska terharu mendengar ucapan Rama, dia langsung memeluk tubuh sang suami dengan erat.


Penderitaan 3 tahun yang mereka rasakan kini membuat penyatuan cinta mereka menjadi nikmat terindah yang diberikan Tuhan pada mereka.


"Ya sudah, kamu mandi dulu," ujar Diska menyuruh sang suami untuk mandi terlebih dahulu.


"Bagaimana kalau kita mandi berdua," ujar Rama dengan menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


Seketika wajah Diska memerah menahan malu, wanita itu tersipu mendengar ucapan sang suami.


"Ish, kamu mesum. Gih mandi dulu sana," ujar Diska.


Diska mendorong sang suami melangkah menuju kamar mandi.


"Kamu yakin tidak mau mandi berdua?" tanya Rama lagi pada sang istri.


"Udah kamu mandi dulu sana, bentar lagi mau maghrib," ujar Diska.


Akhirnya Rama pun masuk ke dalam kamar mandi lalu dia membersihkan diri, tubuhnya terasa sangat lengket karena seharian menerima tamu undangan kedua orang tua Diska dan teman-teman Diska.

__ADS_1


Sementara itu Diska membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia merasa lelah berdiri dan duduk menjamu keluarga dan kerabat yang datang.


Meskipun lelah, Diska sangat bahagia kembali menemukan cintanya yang sempat hilang.


"Aku juga merindukanmu, Bang," lirih Diska tersenyum bahagia.


Tak berapa lama Rama di dalam kamar mandi, dia pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk putih di bawah pinggang.


Pria tampan dan sederhana itu kini memamerkan tubuhnya yang berotot. Perut kotak-kotak bagaikan roti sobek itu membuat Diska terpesona. Rama memang tidak pernah nge-gym tapi pekerjaannya selama ini sudah membentuk otot tubuhnya yang indah bagi pandangan mata setiap wanita.


Diska yang tadinya ingin mengambil pakaian Rama terdiam dan terpaku melihat pemandangan indah tubuh sang suami.


Perlahan Rama melangkah mendekati sang istri. Rama menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Diska.


"Hei, ada apa?" tanya Rama bingung melihat ekspresi sang istri.


"Eh, enggak apa-apa," lirih Diska malu.


Wajahnya berubah menjadi merah, dia sangat malu saat kedapatan tengah terpana karena tubuh berotot milik sang suami.


Diska pun langsung melangkah menuju lemari, dia mengambil pakaian Rama, mulai dar pakaian dalam dan baju kaos yang akan digunakan Rama.


"Aduh, kenapa otakku jadi traveling ke mana-mana, ish." Diska merutuki kebodohannya sambil memukul pelan kepalanya.


Tanpa disadarinya, kini Rama sudah berada di belakangnya, saat Diska membalikkan tubuh, Rama langsung menangkap tubuh sang istri.


Diska kaget dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Jangan-jangan kamu sudah tidak sabar untuk,--" bisik Rama memeluk Diska yang belum mandi.


Rama pun mulai menggoda sang istri yang kini sedang menutupi rasa malunya.


"Apaan, sih, Bang," bantah Diska.


"Kalau kamu memang mau boleh kok sekarang kita lakukan," goda Rama lagi sambil menaik turunkan alisnya.


Wajah Diska semakin memerah, otaknya kini kembali membayangkan apa yang dulu pernah mereka lakukan.


"Astagfirullah, kamu apa-apaan sih, Bang. Aku belum mandi, nih. Lepaskan, aku bau." Diska berusaha menghindari godaan Rama.


Rama pun melepaskan pelukannya, dan membiarkan Diska melangkah menuju kamar mandi.


"Dek, baju Abang jangan dibawa ke kamar mandi," ujar Rama mengingatkan Diska.


Saking malunya, Diska lupa memberikan pakaian yang sudah diambilnya tadi pada Rama.


Diska berbalik lalu memberikan pakaian sang suami, setelah itu dia langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2