
Saat mereka hendak makan siang bersama.
Uci Desmi pun pulang dari keliling kampung memberitahukan berita bahagia yang kini dirasakan oleh Rama dan Diska.
"Assalamu'alaikum," ucap Uci Desmi saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikummussalam," jawab Diska.
"Ayo Uci, ikut makan sekalian," ajak Diska saat wanita paruh baya itu sudah berada di dalam ruang makan.
Mereka pun menikmati makan siang bersama.
"Uci sudah memberitahu kabar gembira ini pada sebagian penduduk, nanti sore Uci akan jalan lagi keliling desa," ujar Uci Desmi setelah mereka selesai makan siang.
"Iya, Uci. Nanti sore aku akan pergi ke ujung gading dengan Diska. Kami bawa Farel," ujar Rama.
"Mbak Yuyun bisa temani Uci nanti sore keliling kampung, biar enggak bosan di rumah," ujar Diska.
"Iya, Nona," sahut Mbak Yuyun.
Pada sore harinya, Diska dan Rama sudah siap untuk pergi ke pasar Ujung Gading untuk menjual bongkahan emas yang mereka bawa dari kebun tadi.
Sementara itu, Mbak Yuyun dan Uci Desmi juga sudah siap untuk berkeliling kampung mengundang semua penduduk desa dalam acara resepsi pernikahan Rama dan Diska yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.
Rama dan Diska pergi ke pasar Ujung Gading menggunakan mobil temannya, dia yang akan membawa mobil tersebut.
Rama sengaja menyewa mobil temannya agar putra dan istrinya tidak kepanasan, dan juga tidak terkena debu perjalanan.
****
Di pasar Ujung Gading, Rama langsung menuju toko emas tempat dia sebelumnya juga menjual bongkahan emas miliknya, kebetulan pemilik toko adalah salah satu teman Rama.
"Wah, bongkar harta Karun lagi, nih," ujar Putra si pemilik toko mas.
"Hehehe, Alhamdulillah, Put." Rama hanya tersenyum.
Dia mengeluarkan 3 bongkahan emas yang dibawanya.
"Yang ini mau aku jual, Put. Dan yang 2 ini mau aku jadikan perhiasan buat istriku," ujar Rama pada Putra.
"Hah, gila kamu, Rama. Udah nikah aja, kapan kamu nikah? Kok enggak kasih kabar sih?" ujar Putra protes.
"Maaf, Put. Aku nikahnya baru 2 Minggu. Aku nikahnya di Bandung, Rabu d pan resepsi di rumah Uci Desmi, kamu datang, ya," ujar Rama mengundang temannya itu.
"Hahaha, selamat, ya. Insya Allah aku usahakan datang," ujar Putra.
"Oh, berarti istri kamu ini orang Bandung?" tanya Putra.
__ADS_1
"Iya, Put. Dulu dia pernah kerja di desa klinik desa Tanjung," jawab Rama.
"Wah, berarti istri kamu dokter, dong," ujar Putra takjub mendengar penjelasan Rama.
"Alhamdulillah, kami ditakdirkan berjodoh," lirih Rama.
Diska hanya diam mendengar pembicaraan mereka, saat ini masih ada pertanyaan yang tersimpan di hati putra, tapi dia tidak berani mempertanyakannya, putra takut Rama atau Diska tersinggung jika dia mempertanyakan keberadaan Farel yang ada bersama mereka.
"Oh, iya tunggu sebentar. Kita timbang duku bongkahan emas milik kamu ini," ujar Putra.
Dia pun menimbang satu buah bongkahan emas yang kini diletakkan di atas etalase.
Putra pun menimbang bongkahan emas milik Rama.
"Yang ini beratnya 214 gram, kalau kita uangkan itu artinya 214 dikalikan dengan harga emas sekarang 942.000/gram jadi total uangnya 201.558.000. Wah dalam sekejap kamu jadi orang kaya, Ram," ujar Putra menggelengkan kepalanya.
"Ini warisan orang tuaku, Put. Alhamdulillah bisa dipergunakan untuk saat ini," ujar Rama.
"Uangnya aku transfer saja, ya. Uang di brangkas tidak cukup," ujar Putra.
"Ya sudah, kirim saja ke rekening istriku," ujar Rama.
"Sayang." Rama memanggil istrinya yang duduk di kursi yang tersedia di toko tersebut.
Diska berdiri menghampiri Rama, dia menggendong Farel.
"Ada apa, Sayang?" tanya Diska.
"Oh, ya udah ini," ujar Diska sambil memberikan ponselnya pada suaminya.
Rama mengambil ponsel Diska lalu memberikan nomor yang ditunjukkan Diska pada Putra.
Setelah itu terlihat Putra mengotak Atik ponselnya.
"Sudah," ujar Putra sambil menunjukkan bukti transfer yang baru saja dilakukannya.
"Udah masuk, Sayang. Kamu coba cek dulu," ujar Rama pada istrinya.
Diska pun membuka ponselnya, dia melihat SMS banking yang masuk ke dalam rekeningnya.
"Sudah, Bang. Totalnya segini?" tanya Diska sambil menunjukkan sms yang masuk ke dalam ponselnya pada Rama.
"Iya, benar," sahut Rama sudah mengecek nominal yang ditunjukkan oleh sang istri.
"Udah, Put. Dan ini tolong jadikan perhiasan saja," ujar Rama.
"lni lumayan banyak lho, kalau dijadikan perhiasan," ujar putra.
__ADS_1
"Menurut aku mending kamu Investasikan saja di Bank. Kalau dijadikan perhiasan bisa jadi dicuri, hilang atau bagaimana. Aku hanya menyarankan saja. Dengan investasi uang segitu banyak kamu bakal dapat keuntungan setiap bulannya," ujar Putra memberikan idenya.
Rama menoleh ke arah Diska, dia ingin meminta pendapat sang istri.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Rama pada Diska.
"Ada benarnya yang dikatakan teman Abang, lagian aku juga tidak terlalu hobi menggunakan perhiasan," jawab Diska setuju dengan apa yang dikatakan oleh pemilik toko emas.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku ikut apa yang dikatakan istriku saja," ujar Rama.
Akhirnya Rama pun menjual bongkahan emas tersebut pada temannya, yang dihasilkan dari penjualan emas tersebut sekitar 600 juta lebih, semua uang itu dikirimkan ke rekening Rama.
Hal ini mereka lakukan agar uang tersebut tetap aman di dalam rekening milik Rama yang tidak memiliki ATM maupun mobile banking.
Setelah mereka selesai menjual barang berharga yang ditinggalkan oleh kedua orang tua Rama, mereka mencari beberapa keperluan yang mereka butuhkan di saat acara resepsi pernikahan nantinya.
Setelah semua itu aman, Rama dan Diska ke desa tetapi sebelum itu mereka mampir di rumah Gina.
"Assalamu'alaikum," ucap Diska saat dia sudah berada di depan rumah sahabatnya.
"Wa'alaikummussalam," jawab Gina dari dalam rumah.
Gina melangkah keluar lalu membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Diska," pekik Gina.
Gina kaget saat melihat sahabatnya kembali datang ke desa tersebut.
"Kamu di sini? Ayo masuk!" Gina menggandeng tangan Diska untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rama pun mengikuti langkah mereka menuju ruang tamu.
"Kapan kalian datang? Apakah aku bakal dapat kabar gembira?" Gina mencoba menebak tujuan kedatangan sahabatnya.
"Alhamdulillah, Gin. Kami sudah menikah di Bandung 2 Minggu yang lalu, hari Rabu depan kami akan mengadakan resepsi pernikahan di Desa Tanjung, di rumahnya Uci Desmi, jadi kedatangan kami ke sini ingin mengundang kalian untuk hadir dalam acara tersebut," ujar Rama menyampaikan tujuannya secara langsung.
"Alhamdulillah, aku senang mendengar kabar bergembira dari kalian" ujar Gina.
"Suamimu mana, Gin?" tanya Rama.
"Dia sedang keluar, tunggu sebentar ya, Aku buatkan minum, dulu." Gina hendak berdiri untuk mengambil minuman.
"Tidak usah, Gin. Tolong sampaikan saja sama suamimu, kami buru-buru, mau mampir di rumah kak Siti dulu, takut kemalaman," ujar Rama pada Gina.
Mereka tidak berlama-lama di rumah Gina karena mengejar waktu agar tidak kemalaman.
"Oh, gitu. Ya udah, kalau gitu," ujar Gina.
__ADS_1
Setelah itu, mereka pun berpamitan, lalu meninggalkan rumah Gina, lalu menuju rumah Kak Siti, kakak sepupu Rama, memberitahukan apa yang akan diadakan Rama di desanya.
Bersambung...