Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 22


__ADS_3

Diska mencubit pinggang Rama pelan.


"Nanti kedengaran Uci Desmi, kita juga yang malu," bisik Diska.


"Auw," pekik Rama pura-pura sakit.


"Lebay," ujar Diska dengan wajah yang menggemaskan.


Uci Desmi melihat Rama dan Diska yang kini terlihat sangat bahagia.


Wanita paruh baya itu tersenyum.


"Ya Allah, semoga mereka bisa berjodoh, persatukanlah mereka kembali," lirih Uci Desmi penuh harap.


Azan maghrib pun berkumandang, mereka semua masuk ke dalam rumah.


Mereka semua bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat maghrib berjama'ah dengan Rama sebagai imamnya.


Mbak Yuyun menjaga Farel terlebih dahulu, karena dia takut Farel akan mengganggu mereka yang sedang melaksanakan shalat berjamaah.


Usai shalat, mereka semua mengangkat tangan dan memohon pada Tuhan.


"Ya Allah, jadikanlah ini pilihan hidupku. Bantulah kami dalam menghadapi berbagai rintangan yang akan datang setelah ini, apa pun itu, teguhkanlah hati kami untuk tetap bersama demi putra kami," lirih Rama memohon pada Allah.


"Ya Allah, Alhamdulillah wa syukurillah, engkau telah menyatukan kami kembali setelah perpisahan ini. Kami mohon satukanlah hati kami, dan kuatkan kami menghadapi berbagai ujiannya nanti demi putra kami yang sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Aamiin." Diska juga memanjatkan do'a pada sang Penguasa dan Pengatur segala urusan.


"Ya Allah, satukanlah mereka. Jangan pisahkan lagi dua insan yang saling mencintai ini. Berikanlah kebahagiaan kepada mereka berdua, hanya engkau yang maha pemurah. Mudahkanlah urusan mereka hingga mereka bersatu. Aamiin." Uci Desmi juga berdo'a demi kebaikan hubungan Rama dan Diska.


Usai melaksanakan salat magrib mereka melangkah menuju ruang makan, Diska dan Uci Desmi menyiapkan menu makan malam di atas meja.


Sedangkan Mbak Yuyun menunaikan ibadah shalat magrib setelah ramah mengajak Farel untuk duduk di sampingnya di kursi meja makan.


"Farel mau makan apa?" tanya Rama pada putranya.


"Sayur bening!" sahut Farel riang.


Farel menunjuk ke mangkok yang berisi sayur bening yang sudah dibuat oleh mbak Yuyun.


Sayur bening merupakan makanan kesukaan Farel. Anak kecil itu tidak akan mau makan, jika tidak ada sayur bening menemani lauknya.


Diska tersenyum mendengar seruan putranya yang terlihat lebih riang dari pada biasanya.

__ADS_1


Memang keriangan Farel terlihat jelas jika berada di sisi ayah kandungnya.


"Iya, Nak. Nanti bunda suapi, ya," ujar Diska.


"Eng-enggak mau sama bunda, mau sama om Ama," sahut Farel menarik perhatian sang ayah kandung.


Rama dan Diska saling berpandangan, mereka tak menyangka semakin hari, buah hati merek semakin ingin selalu dekat dengan sang pemuda tampan.


"Iya, Sayang. Nanti ayah yang suapi," ujar Rama penuh kasih sayang.


Diska dan Uci Desmi mendengar ucapan tulus dari Rama. Diska menyadari yang diucapkan Rama, dia takut Uci Desmi merasa curiga terhadap mereka.


"A-ayah?" lirih Farel bingung.


"Iya, ayah. Farel mau 'kan om Rama jadi ayah Farel?" ujar Rama berusaha menjelaskan agar Uci Desmi tidak berpikiran yang aneh-aneh.


Meskipun wanita paruh baya itu sudah berfirasat bahwa Farel adalah buah cinta terlarang yang sudah dilakukan oleh Rama dan Diska.


Sejak awal Uci Desmi melihat Farel, dia yakin bahwa anak kecil itu adalah anak Rama karena Uci Desmi melihat sosok Farel sangat mirip dengan sosok Rama kecil.


"Mau, hore! Aku ada ayah!" teriak Farel riang.


"Uci, rencananya aku akan ikut dengan Diska ke Bandung. Aku akan meminta Diska secara langsung pada kedua orang tuanya. Aku akan menikah dengan Diska, Uci." Rama menyampaikan rencananya pada Uci Desmi.


Uci Desmi bahagia mendengar penuturan dari Rama.


"Uci senang jika kamu sudah mengambil keputusan, apa pun yang keputusanmu akan selalu Uci dukung, walaupun Uci akan sedih di saat kalian berdua pergi," ujar Uci Desmi tak bisa meminta mereka tinggal di desa itu.


"Terima kasih, Uci. Jika kami sudah menikah nanti, kami akan sering datang ke desa ini," ujar Diska menghibur Uci Desmi.


"Iya, Ci. Jika Uci Desmi merindukan kami, Uci bisa datang ke Bandung kapan saja Uci mau. Uci tidak perlu memikirkan biayanya," ujar Rama menambahkan.


"Iya, Nak. Uci ikut bahagia jika kalian bahagia," ujar Uci Desmi.


"Bunda, aku lapar!" seru Farel yang sudah kelaparan.


Dia membuyarkan percakapan yang sedang mereka bahas.


Semua mata tertuju pada anak kecil yang ada di ruangan itu.


"Adek Farel mau makan? Ya udah sama Mbak Yuyun aja, ya," bujuk Mbak Yuyun yang baru saja masuk ruang makan.

__ADS_1


"Enggak mau. Aku mau makan sama ayah," sahut Farel.


Dengan mudah Farel memanggil Rama dengan sebutan Ayah, tidak ada sedikitpun rasa canggung bagi anak keci yang sama sekali tidak tahu apa-apa.


Mbak Yuyun tersenyum mendengar penolakan dari Farel.


"Ya udah, kalau enggak mau. Mbak Yuyun makan sendiri, ah," ujar Mbak Yuyun.


"Ya udah, ayo makan!" ajak Uci Desmi.


Diska pun mengambilkan nasi untuk Farel, dia memberikan sepotong ikan lele serta tempe ditambah dengan sayur bening di piring putranya


Setelah itu, Diska memberikan piring tersebut pada Rama.


"Nasi kamu mau didinginkan duku, Bang?" tanya Diska setelah Rama mengambil piring yang diberikannya.


"Boleh," lirih Rama sambil tersenyum pada wanita yang sangat dicintainya itu.


Hatinya kini sangat bahagia, Rama membayangkan hidup bersama Diska dengan putra yang mereka sayangi.


Santap makan malam itu terkesan menghangatkan hati dan jiwa bagi yang berada di sana, kebahagiaan terpancar jelas di wajah Diska dan Rama yang kini sudah saling mengungkapkan rasa yang selama ini mereka pendam.


Rama menuntaskan makan malamnya setelah mbak Yuyun dan Uci Desmi mengajak Farel untuk main di ruang keluarga.


Mereka pun meninggalkan Rama yang masih makan ditemani oleh Diska yang setia menunggu pria yang dicintainya menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Dek," lirih Rama setelah Rama membasuh tangannya.


"Mhm," gumam Diska.


"Aku membayangkan kita hidup bersama dengan Farel, membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah," ujar Rama penuh harap.


Diska tersenyum, raut wajahnya sangat bahagia.


"Semoga niat baik kita ini diridhoi oleh Allah, dan dilancarkan segala halnya hingga kita dapat merasakan kebahagiaan bersama," ujar Diska menanggapi ucapan Rama.


Rama memegang tangan Diska dengan erat, dia menatap dalam mata wanita yang dicintainya itu dengan penuh kasih sayang.


"Dek, berjanjilah mulai saat ini kamu akan mengungkap apa saja yang ada di hatimu padaku, jangan ada lagi hal yang kita sembunyikan. Agar kita dapat meraih kebahagiaan bersama." Rama meminta Diska untuk selalu jujur dengan apa saja yang terjadi.


"Iya, Bang," lirih Diska.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2