
"Bagaimana kalau kamu coba menghubungi Rudi, mana tahu dia sedang bersama Rudi," ujar Rama.
Diska pun mencari nomor kontak Rudi di ponselnya, dia mencoba menghubungi sahabat sang suami.
Drrrttt drrrttt drrrttt.
Ponsel Rudi berdering, saat Rudi dan Rama tengah bertamu di rumah Bang Benyamin.
Mereka baru saja bertemu dengan Bang Benyamin, sebelum maghrib mereka bertamu ke rumah Bang Benyamin tapi orangnya sedang tidak di rumah karena belum pulang bekerja, Rama dan Rudi pun memutuskan untuk melaksanakan shalat maghrib di mesjid sambil menunggu Bang Benyamin.
Awalnya Rama hendak memberitahukan istrinya kalau dia tengah ada urusan yang penting.
Rama ingin rumahnya cepat direnovasi agar dia dan keluarga kecilnya bisa tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Dia yakin Diska tidak akan nyaman tinggal di rumahnya yang saat ini, makanya dia ingin merenovasi rumah tersebut secepatnya.
"Ram, Diska nelpon aku." Rudi memberikan ponselnya pada Rama langsung.
Rama mengambil ponsel itu, lalu menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo," ucap Rama.
"Halo, Sayang. Kamu di mana?" tanya Diska pada Rama langsung saat mendengar dengan jelas suara sang suami dia seberang sana.
"Maaf, ya. Aku sekarang lagi di rumah Bang Bany, ada yang mau dibicarakan dengannya." Rama menjelaskan alasannya belum pulang sebelum Diska menanyakan.
"Bicarakan apa?" tanya Diska penasaran.
Sepenting itukah bertemu dengan pria yang bernama Bany itu.
"Mhm, nanti aku ceritakan kalau aku sudah pulang, ya. Ini aku sedang ngomong sama dia, kamu tunggu aku, ya," ujar Rama pada Diska.
Rama tahu saat ini istrinya pasti merasa khawatir padanya. Sejak tadi belum juga pulang.
"Ya udah, kalau gitu. Kamu udah makan?" tanya Diska penuh perhatian.
"Belum, nanti aku makan di rumah Uci Desmi saja," jawab Rama.
"Ya udah kalau begitu kamu jangan lama-lama, ya. Kasihan Farel kalau bangun nanti cariin kamu," ujar Diska pada Rama.
"Baiklah," lirih Rama.
Diska memutuskan panggilan tersebut, lalu dia pun memberitahu Uci Desmi bahwa suaminya tengah bertamu ke rumah Bang Bany.
__ADS_1
"Ngapain Rama ke rumah Bany?" tanya Uci Desmi penasaran.
"Aku juga tidak tahu, Ci. Dia sama Rudi," jawab Diska.
"Ya sudah, kalau gitu kita makan malam duluan saja, biar mereka nanti makan berdua," ajak Uci Desmi.
Wanita paruh baya itu sudah merasa lapar, dia juga yakin bahwa saat ini Diska dan Mbak Yuyun juga sudah lapar.
Mbak Yuyun pun mengangkat Farel dan memindahkan anak kecil itu ke dalam kamar agar tidak digigit nyamuk.
Setelah itu mereka pun melangkah menuju ruang makan untuk menikmati santapan malam yang sudah dibeli oleh Diska saat di perjalanan.
setelah mereka selesai menikmati santapan makan malam, terdengar suara Rama dan Rudi mengucapkan salam.
Diska langsung berdiri dan melangkah keluar untuk membuka pintu.
"Kami baru saja selesai makan malam, kamu belum makan kan, Sayang?" ujar Diska menyambut sang suami.
"Belum, kami belum makan. Saat urusan dengan bank Benyamin selesai kami langsung pamit pulang," ujar Rama.
"Ya sudah kalau begitu kalian langsung makan saja, mumpung masih panas," ujar Diska.
"Farel mana, Sayang?" tanya Rama pada Diska saat tidak melihat putranya berada di ruang makan.
"Dia belum makan 'kan?" tanya Rama penuh perhatian terhadap Putra kecilnya.
"Belum, nanti kalau dia terbangun aku akan kasih dia makan," jawab Diska.
"Ya sudah kalian makan dulu mumpung masih terhidang,"ujar Uci Desmi.
Rama dan Rudi langsung duduk di kursi yang tersedia, setelah itu Diska mengambilkan makanan untuk sang suami.
Rudi memperhatikan apa yang sudah dilakukan oleh Diska terhadap suaminya.
"Wah, ternyata enak kalau sudah punya istri. Kalau makan ada yang nyiapin," ujar Rudi menggoda sahabatnya.
"Ya iyalah makanya kalau udah pantas nikah, langsung cari jodohnya. sepertinya kamu cocok sama Mbak Yuyun," celetuk Rama asal.
Rudi pun menoleh ke arah Mbak Yuyun yang duduk di sampingnya, sementara itu Mbak Yuyun hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu mendengar ucapan dari Rama.
Diska menyenggol lengan sang suami, Rama menoleh ke arah sang istri yang kini menggelengkan kepalanya, memberi isyarat tidak boleh seperti itu.
melihat reaksi Mbak Yuyun yang kini menundukkan kepala, Rudi pun iseng ingin menguji wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana Mbak Yuyun, Apakah kamu mau jadi istriku?" ujar Rudi tiba-tiba.
Rudi menanggapi serius dengan apa yang sudah diucapkan oleh Rama.
Uci Desmi dan Diska membesarkan bola matanya tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rudi pada Mbak Yuyun.
Wanita itu pun mengangkat kepalanya menatap dalam ke arah Rudi.
Dia tidak percaya dengan mudah Rudi ingin meminangnya begitu saja.
Mbak Yuyun menatap dalam wajah Rudi yang terlihat sangat serius.
"Hah?" lirih Mbak Yuyun.
Pengasuh Farel itu kembali menatap Rudi, berusaha mencari keseriusan dari matanya.
Rudi benar-benar serius dengan apa yang telah diucapkannya dihadapan wanita yang pernah beberapa kali pergi bersamanya.
Rudi berani mengatakan hal itu karena dia merasa nyaman saat mengobrol dan berbicara dengan wanita itu.
"Udahlah Mbak, mungkin saja Rudi hanya bercanda," lirih Diska berusaha menenangkan Mbak Yuyun yang kini hatinya sudah bergejolak.
Dia teringat dengan masa lalunya yang sudah dipermainkan oleh seorang pemuda.
"Rudi kamu jangan main-main dengan ucapanmu, takutnya Mbak Yuyun mengambil hati percakapan tersebut.
"Kalau memang kami berjodoh kenapa nggak mungkin saat ini kami belum saling mencetak mana tahu setelah menikah aku dan dia bisa saling mencintai," ujar Rudi pada semua orang yang ada di sana.
seketika semua orang yang ada di ruangan itu terlihat hening mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Apa benar Rudi ingin menikahiku?" Mbak Yuyun di dalam hati.
"Tidak ada salahnya aku menjalin hubungan dengan Mbak Yuyun mana tahu rasa cintaku pada deka bisa hilang dan tergantikan oleh dia, Mbak Yuyun wanita yang baik," gumam Rudi di dalam hati.
"Astagfirullah, apa yang sudah aku lakukan? Jangan sampai hal ini akan menyakiti Mbak Yuyun," umum drama di dalam hati.
Sang Pemuda Desa itu pun merasa bersalah ucapannya barusan, Awalnya dia berniat untuk bercanda dan ternyata Rudi menanggapi hal itu dengan serius.
"Sudah-sudah, kalian makan dulu saja, kami para perempuan akan berpindah ke ruang keluarga dan menunggu kalian di sana." Uci Desmi cepat-cepat bertindak.
Dia melihat suasana di ruang keluarga mendadak jadi hening dan tegang.
Dia pun membawa Mbak Yuyun dan Diska menuju ruang keluarga, meninggalkan dua orang laki-laki tersebut yang masih menyantap makan malam mereka.
__ADS_1
Bersambung...