Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 57


__ADS_3

Zharin menjabat tangan Diska lalu dia tersenyum pada dokter cantik yang ada di hadapannya.


Saat tangan mereka saling berjabat tangan Zharin dan Diska merasa ada sesuatu yang lain, tapi mereka tidak mengerti akan hal itu.


"Ya sudah, ayo kita masuk," ajak Rezi.


Diska mengangguk mereka pun melangkah menuju ruangan masing-masing.


Sebelum Diska meninggalkan Zharin, dia menoleh pada gadis pesisir itu. Dia memegangi dadanya.


Diska merasa dekat dengan sosok Zharin tapi dia sendiri tidak tahu pernah kenal di mana dengan gadis itu.


Setelah itu Diska dan Rezi pun melaksanakan tugas mereka sebagai seorang dokter di rumah sakit.


"Sepertinya gadis itu sangat berarti bagi kami," lirih Zharin saat mereka sudah berada di ruangan Rezi.


Perawat yang bertugas belum datang sehingga hanya mereka berdua di ruangan itu.


Rezi melihat raut wajah Zharin yang terlihat kesal bercampur sedih.


Rezi menautkan kedua alisnya, dia heran melihat ekspresi Zharin yang sedikit cemberut.


"Memangnya kenapa?" tanya Rezi pada Zharin.


"Tidak, aku bisa melihat makna tatapanmu padanya," jawab Zharin jujur.


"Sejak kapan kamu jadi tukang pembaca pikiran orang?" tanya Rezi sambil tersenyum.


Senyuman Rezi itu sudah menjadi sesuatu yang terindah di mata Zharin.


"Hahaha, aku cuma nebak saja," ujar Zharin.


"Dasar," lirih Rezi.


Rezi menatap Zharin dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan Rezi membuat gadis pesisir itu merasa grogi.


"Ya sudah, kalau begitu, aku buatkan kopi dulu," ujar Zharin berusaha menghindari tatapan Rezi.


Rezi tersenyum melihat reaksi Zharin, wajah Zharin yang berubah warna merah seketika membuat Rezi merasa terhibur.


Dia mulai tertarik dengan Zharin, tapi dia belum bisa move on dari sosok Diska. Hubungannya dengan Diska tak berselang satu bulan atau satu tahun saja, Rezi sudah mencintai Diska bertahun-tahun yang lalu.


Tidak mudah bagi Rezi untuk menghapus rasa yang ada untuk Diska.


Zharin melangkah menuju sebuah meja yang ada di pojok ruangan Rezi, di sana terdapat sebuah meja yang di atasnya terdapat tak piring kecil serta dispenser.


Gadis pesisir itu pun membuatkan secangkir kopi untuk Rezi. Sesuai kesepakatannya Zharin akan bekerja untuk Rezi.


Dokter tampan itu akan menggaji Zharin 100 ribu per hari, setengah gajinya akan dibayarkan untuk hutang Zharin pada Rezi yang telah membayarkan biaya operasi ibunya.

__ADS_1


Zharin menerima tawaran itu karena uang yang didapatnya dari Rezi lebih banyak dari bekerja di pinggir pantai menjemur ikan asin.


Ditambah pekerjaannya dengan Rezi terbilang ringan tidak seperti yang biasa dilakukannya di bawah terik matahari mengangkat keranjang ikan.


Sejak bekerja dengan Rezi, penampilannya pun mulai berubah, tidak asal-asalan seperti dia berada di pinggir pantai.


Penampilannya terlihat lebih rapi, meskipun rambutnya masih diikatnya seperti biasa.


"Ini kopinya," lirih Zharin.


Setelah itu, Zharin pun duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana, pekerjaan Zharin hanya membantu Rezi berbagai hal yang dibutuhkannya.


Sebenarnya Rezi tidak memerlukan bantuan Zharin, karena biasanya Bulan selalu membatunya, hanya saja dia ingin membantu Zharin dalam hal ekonomi.


Rezi merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani oleh gadis pesisir itu.


Zharin bisa menabungkan uang yang dihasilkannya dari bekerja bersama Rezi, sedangkan untuk makanan Zharin, Rezi selalu membelikan makanan untuk mereka gadis pesisir itu dan ibunya sebelum pulang dari rumah sakit.


****


Pada malam hari setelah selesai makan malam, Diska dan Rama bermain dengan Farel di dalam kamar pangeran kecil mereka.


Mereka bermain hingga Farel lelah dan ketiduran sambil memegang mainannya.


"Sayang, kapan Farel punya adik?" tanya Rama tiba-tiba.


"Ish, kamu." Wajah Diska seketika memerah.


Dia malu mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rama heran.


"Mhm, memangnya kamu mau punya anak lagi?" tanya Diska pada suaminya.


Rama menatap dalam pada istrinya.


"Iya, Sayang. Aku ingin merasakan memiliki anak lagi, kali ini aku ingin merasakan menjadi ayah siaga," tutur Rama jujur.


Diska terharu mendengar ucapan sang suami, seketika Diska mengingat masa-masa dia mulai mengandung Farel.


Pagi-pagi sekali, Diska terpaksa bangun karena merasa mual dan pusing.


Dia melangkah menuju kamar mandi, lalu mulai mengeluarkan isi perutnya yang tak seberapa.


Setelah itu dia sempoyongan melangkah kembali menuju tempat tidur.


Belum sampai di tempat tidur, Diska terjatuh di lantai.


Diska tak kuat lagi untuk berpindah ke tempat tidur sehingga akhirnya dia pun tidur di lantai yang dingin.

__ADS_1


Saat pagi hari, Bi Suti melihat Diska yang sudah tertidur di lantai.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya BII Suti berusaha membangunkan majikannya yang masih tertidur di lantai yang dingin.


"Bi, aku pusing," lirih Diska sambil menggigil kedinginan.


"Ya ampun, Nona." Bi Suti panik saat merasakan suhu tubuh Diska yang panas.


.


Bi Suti berteriak meminta tolong pada siapa pun yang ada di rumah itu.


Mereka pun mengangkat tubuh Diska ke atas tempat tidur.


Bi Naina langsung memeriksa kondisi putrinya, dia pun memberikan obat dan vitamin untuk Diska.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rama khawatir saat melihat buliran bening jatuh membasahi pipi dan istri.


Diska hanya diam, akhirnya Rama menghampiri istrinya lalu dia pun memeluk tubuh Diska dengan erat.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Rama mencemaskan keadaan sang istri.


Diska mengusap air matanya perlahan, lalu dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Rama dapat merasakan kesedihan yang dirasakannya saat ini.


"Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi sedih," ujar Rama merasa bersalah.


"Tidak, Sayang. Aku hanya ingat masa-masa sulit yang pernah aku jalani seorang diri," tutur Diska jujur.


"Maafkan aku, Sayang. Seandainya saat itu aku tahu kamu mengandung, aku tidak akan biarkan kamu pergi. Aku akan menahanmu untuk tetap tinggal bersama ku," ujar Rama dengan sungguh-sungguh.


Rama mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri, dia pun mengeratkan pelukannya memberikan kehangatan dan ketenangan dalam diri sang istri.


Perjalanan cinta mereka yang terlalu rumit membuat rasa cinta Rama pada istrinya semakin mendalam.


Sang pemuda des itu tidak akan pernah membiarkan wanita yang dicintainya terluka sedikitpun.


Rama akan mencurahkan kasih sayangnya pada sang istri dengan sepenuh hatinya.


Rama melepaskan pelukannya, dia menatap wajah sang istri kini matanya tertuju pada bibir indah sang istri, dia sudah tidak sabar ingin mengecap manisnya bibir indah itu.


Diska menyadari apa yang diinginkan sang suami, dia pun membiarkan Rama mendekatkan wajah tampannya ke wajahnya.


Mereka hendak menempelkan bibir mereka satu dan yang lainnya.


"Ayah, ibu,--" Terdengar suara mungil pangeran kecil mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2