
Resepsi pernikahan Rama dan Diska pun diadakan di sebuah ballroom hotel.
Kedua orang tua Diska sengaja mengadakan acara resepsi pernikahan ini secara mewah karena Diska merupakan anak satu-satunya.
"Pa, aku bersyukur akhirnya Diska dapat menikah dengan pria yang dicintainya," lirih Naina sebelum mereka berangkat ke ballroom hotel.
"Iya, Sayang. Papa juga bersyukur, ternyata Rama menyiapkan semua ini untuk bertanggung jawab. Mungkin dulu dia sanggup bertanggung jawab karena dia belum mempunyai apa-apa," ujar Pak Bayu membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.
Awalnya Bayu dan Naina tidak bisa menerima Rama sebagai menantu, karena mereka takut Diska hidup menderita bersama pemuda desa itu.
Seperti yang mereka ketahui, Rama bukanlah seorang yang berpendidikan, tapi saat bertemu dengan Rama, Bayu dan Naina sama sekali tidak melihat bahwa Rama bukan seorang yang tidak bersekolah.
Sikap dan cara dia berbicara terlihat seorang yang sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang penting.
Bu Naina teringat masa-masa sulit yang harus dihadapi putrinya 3 tahun yang lalu.
"Diska kamu kenapa?" tanya Bu Naina cemas melihat putrinya yang pulang dari kampus dengan wajah yang pucat.
"Diska kurang sehat, Tante," jawab Rezi.
Rezi mengantarkan putrinya pulang ke rumah.
Saat dia mau duduk di sofa, Diska merasa mual, lalu dia berlari ke kamar mandi yang ada di dekat ruang tamu.
"Oek oek." Diska tidak dapat menahan rasa mual yang kini dirasakannya.
Bu Naina menautkan kedua alisnya, dia heran melihat keadaan putrinya yang tiba-tiba pulang dalam keadaan sakit.
Setahu Naina, sebelum berangkat ke kampus Diska baik-baik saja.
"Diska kurang sehat kenapa, Zi?" tanya Bu Naina.
"Mhm, itu itu." Rezi terlihat bingung harus mencari alasan apa pada mama Diska.
"Mhm, sepertinya Diska masuk angin, Tante," jawab Rezi.
Sebagai seorang dokter Bu Naina merasa ada yang aneh pada putrinya, tapi untuk sementara waktu dia diam saja, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan putrinya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Tante," ujar Rezi.
Rezi takut mendapat pertanyaan lainnya dari Bu Naina, akhirnya dia memilih untuk pamit.
"Oh, iya. Terima kasih ya, Nak," ujar Bu Naina.
Setelah Rezi pergi, Bu Naina langsung menghampiri putrinya.
Bu Naina pun mengambil stetoskop miliknya, lalu mengajak sang putri masuk ke dalam kamar.
Dia ingin memeriksa kondisi sang putri, agar dia bisa memberikan obat pada putrinya.
"Ayo, ke kamar," ajak Bu Naina menuntun putrinya masuk kamar.
Bu Naina memeriksa keadaan putrinya, saat Bu Naina mengecek denyut nadi putrinya, dia pun merasa sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
"Diska, apakah kamu hamil?" Bu Naina langsung menebak kondisi putrinya saat ini.
Diska terdiam mendengar pertanyaan dari Mamanya.
Setelah itu, Diska langsung memeluk tubuh sang mama
"Maafkan aku, Ma." Diska langsung menangis di dalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya.
"Apa? Kamu hamil?" Pak Bayu bagaikan disambar petir mendengar penuturan sang putri.
Pak Bayu murka, dia melangkah menghampiri Diska. Lalu pria paruh baya itu menampar putrinya, Pak Bayu mendorong Diska ke atas kasur.
Mereka semua terdiam di dalam kamar itu, mereka berusaha berpikir mencari solusi dari masalah yang dihadapi oleh Diska.
Akhirnya Pak Bayu memutuskan untuk menikahkan Diska dengan Rezi.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan siapa pun," bantah Diska.
Diska masih bersikeras untuk tidak menikah.
Bu Naina tidak kuat melihat amarah sang suami, akhirnya Bu Naina membawa sang suami keluar dari kamar Diska.
Setelah itu, mereka memutuskan Diska untuk melanjutkan sekolah profesi kedokterannya di Jakarta bersama Rezi.
Mereka memberitahu semua rekan dan keluarga bahwa Diska menikah dan pindah ke Jakarta.
Saat Farel lahir mereka pun memberitahu semua orang bahwa Diska sudah bercerai ditinggal suaminya.
meskipun berkali-kali Pak Bayu meminta Diska menikah dengan Rezi, tapi dia selalu menolaknya.
Pak Bayu membuyarkan lamunan sang istri yang tertuju pada 3 tahun yang lalu.
Bersyukur tak banyak orang yang curiga dengan kehamilan Diska sehingga nama baik mereka masih dapat terjaga.
"Eh, iya, Pa " Bu Naina berdiri.
Mereka pun melangkah keluar dari kamar.
"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Rezi pada sang istri saat mereka hendak berangkat menuju hotel tempat resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan.
"Aku bahagia," lirih Diska sambil merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Ayah, Yahku." Farel tiba-tiba datang.
Anak kecil itu menarik-narik celana Rama, dia mendorong bundanya menyuruh sang bunda menjauh dari Rama.
"Ayahku, ayahku," ujarnya lagi.
Dia merasa Diska sudah mengambil ayahnya. Dia tidak ingin Farel dekat-dekat dengan ayahnya.
"Farel enggak mau sama bunda?" tanya Diska memasang wajah cemberut.
"Aku mau sama ayah, ayahku ini," celetuknya dengan gaya yang lucu.
__ADS_1
Diska tersenyum mendengar ocehan pangeran kecilnya.
"Iya, Nak. Ini adalah ayah Farel," ujar Diska.
"Bunda Farel mana?" tanya Rama menguji pangeran kecil itu.
"Bunda, bunda Farel." Farel menunjuk ke arah Diska.
"Farel enggak mau sama bunda?" tanya Diska.
"Enggak, Farel mau ayah," jawab nya dengan nada yang lucu.
"Lihat, Bang. Sekejap kamu udah membuat Farel melupakan aku," lirih Diska sambil cemberut.
"Ya iyalah, aku kan ayah kandungnya," jawab Rama.
"Mhm," gumam Diska.
Diska tersenyum melihat keakraban Rama dan Farel.
"Gitu, ya. Kalau udah sama ayah, Farel lupa bunda." Diska memasang wajah cemberut
"Farel sayang bunda," seru Farel.
Diska dan Rama tersenyum melihat tingkah Farel.
"Diska, udah belum!" Terdengar teriakan
Bu Naina dari lantai bawah.
"Iya, Ma" sahut Diska.
"Semua orang sudah menunggu kita, ayo turun." Mereka menghentikan candaan mereka.
Setelah itu mereka keluar dari kamar dan melangkah menuruni anak tangga.
Diska melangkah di samping sang suami yang kini sedang menggendong putra semata wayangnya.
Semua keluarga dekat sudah berkumpul di lantai bawah, mereka sudah siap untuk berangkat menuju lokasi resepsi yang akan diadakan.
Pada pukul 10.00 pagi, acara resepsi pun dimulai. Tamu-tamu sudah berdatangan, mereka mulai memenuhi ballroom.
Diska dan Rama duduk bersanding di pelaminan, sementara itu Mbak Yuyun stand by menjaga Farel, tak jauh dari pelaminan.
Wanita yang berumur lebih tua dari Diska beberapa tahun itu dengan telaten menjaga Farel. Wanita itu sudah menganggap Farel sebagai putranya.
Pada saat pukul 13.00, Rezi datang dengan menggandeng seorang gadis yang penampilannya sangat menawan.
Dengan percaya diri dokter tampan itu melangkah, sambil memamerkan sosok Zharin pada semua orang.
Rezi langsung mengajak Zharin bergabung dengan beberapa rekan kerjanya, setelah itu mereka pun melangkah menaiki pelaminan
Di saat mereka baru saja melangkah naik, Zharin terhenti, dia melihat seseorang yang membuat jantungnya berdebar kencang.
__ADS_1
Bersambung...