
Pakaian Zharin basah karena tumpahan kuah sup yang tengah dipegangnya.
Zharin mengabaikan pakaiannya yang kotor, matanya kini tertuju pada Pak Bayu yang ada dihadapannya.
Seketika jantungnya kembali berdetak dengan kencang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Pak Bayu pada Zharin.
Zharin hanya diam, dia sibuk mengontrol jantungnya yang berdetak tak wajar.
"Pakaianmu, kotor," ujar Pak Bayu lagi.
Pak Bayu merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis yang kini berdiri di hadapannya. Dia teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu.
"Rin, kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Rezi saat menyadari insiden yang dialami oleh Zharin.
"Mhm, aku harus ke toilet," ujar Zharin.
Gadis itu langsung melangkah menuju toilet.
Rezi pun meletakkan makanan yang ada di tangannya di atas meja, lalu dia pun langsung melangkah mengejar Zharin.
Pak Bayu menatap heran pada Rezi yang terlihat akrab dengan wanita yang sudah 2 kali menabrak dirinya.
"Siapa gadis itu?" gumam Pak Bayu di dalam hati.
Dia mulai penasaran dengan sosok gadis yang bersama Rezi, Pak Bayu mengira bahwa wanita itu adalah kekasih Rezi.
"Semoga kamu bisa melupakan Diska dan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari putriku," lirih Pak Bayu memandangi punggung Rezi yang semakin menjauh dari posisinya.
Diska juga melihat kedekatan Rezi dan Zharin. Dia merasa ada sesuatu di antara mereka berdua.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rezi saat Zharin baru saja keluar dari toilet.
"Aku baik-baik saja," jawab Zharin.
"Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Zharin pada Rezi, dia mulai tidak nyaman berada di tempat itu.
"Baiklah, ayo kita pulang," ujar Rezi.
Dia pun langsung membawa Zharin keluar dari ballroom, dan membawa gadis itu pulang.
****
__ADS_1
Resepsi sudah selesai, Rama dan Diska akan berangkat ke desa Rama besok pagi.
Selesai acara resepsi pernikahan mereka langsung kembali ke rumah karena banyak perlengkapan yang harus disiapkan untuk keberangkatan besok.
Rama dan Diska akan berangkat terlebih dahulu karena ramah harus mempersiapkan acara yang akan diadakan di desanya.
Sementara itu kedua orang tua di skak akan menyusul satu hari menjelang hari acara resepsi pernikahan di desa.
Mereka akan berangkat ditemani dengan Mbak Yuyun dan Farel.
Sebelum tidur, Diska sudah meminta Mbak Yuyun untuk mempersiapkan berbagai perlengkapan Farel.
Begitu juga Diska, malam ini dia sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke desa Rama.
Entah mengapa Diska sudah tidak sabar untuk berangkat ke desa Tanjung karena dia sudah sangat merindukan Uci Desmi, wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Rama menghampiri istrinya yang kini sedang menyusun pakaian ke koper.
Rama melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang masih ramping.
Diska menoleh ke arah sang suami, dia menatap dalam pada suaminya.
"Abang yakin mau bantuin aku?" tanya Diska pada sang suami.
"Ya," jawab Rama sambil mengembangkan senyum manisnya.
"Mhm," gumam Rama sambil cemberut.
Diska kembali melanjutkan pekerjaannya meskipun sang suami tidak mau melepaskan dirinya.
"Abang sayang, kalau kamu seperti ini terus kapan akan selesai pekerjaanku," ujar Diska pada Rama.
"Mhm, aku cuma tidak mau kamu lelah," ujar Rama memberi alasan.
Rama dapat merasakan istrinya yang sudah lelah menjamu tamu di saat resepsi, dan kini setelah berada di rumah, dia tidak langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan pakaian yang akan dibawa besok.
"Iya, Bang. Aku cuma tidak mau besok pagi repot, jadinya banyak barang yang ketinggalan," ujar Diska.
Dia sengaja menuntaskan menyimpan barang-barang yang akan dibawa malam ini agar esok pagi dia tidak terlalu repot.
"Makanya aku mau bantuin kamu," ujar Rama ingin sekali membantu sang istri tapi dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.
"Mhm, sudahlah, semuanya hampir selesai. Ayo, kita tidur," ajak Diska
__ADS_1
Diska pun menghentikan pekerjaannya, jika terus-terusan diganggu oleh sang suami maka semua pekerjaannya tidak akan selesai hingga esok hari.
Mereka melangkah menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuh di atas tempat tidur.
Rama langsung menarik tubuh sang istri, dia memeluk erat tubuh istrinya. Saat ini, memeluk Diska sebelum tidur menjadi sebuah keharusan untuk dilakukannya.
****
Keesokan harinya, Diska bangun lebih awal dari biasanya. Riska melanjutkan pekerjaannya yang kemarin malam sempat tergantung karena oleh sang suami.
Setelah semua barang-barang siap Diska pun langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena sebentar lagi waktu subuh akan masuk.
"Dek, kamu sudah bangun?" tanya Rama saat sang istri baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, Bang. kamu mandi dulu sana biar kita bisa salat subuh bareng," ujar Diska pada sang suami.
tak menunggu lama Rama bangkit dari posisi berbaringnya dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar dapat shalat subuh berjamaah dengan sang istri.
"Apakah semua barang-barang kita sudah siap?" tanya Rahma saat mereka selesai shalat subuh.
"Sudah," jawab Diska.
"kamu memang istri paling baik sedunia," udah lama memuji sang istri.
"Ish, gombal. Ayo kita turun ke bawah sekaligus sarapan agar kita bisa berangkat lebih cepat dan tidak ketinggalan pesawat." Diska mengajak sang suami untuk sarapan pagi sebelum mereka berangkat.
Saat mereka memasuki ruang makan, Pak Bayu dan Bu Naina sudah duduk di kursimu meja makan mereka sudah siap untuk menyantap sarapan pagi.
mereka akan langsung menuju rumah sakit setelah mengantarkan drama Denis ke bandara.
Keberangkatan mereka kali ini sudah dipersiapkan oleh Rama, dia sudah membeli tiket untuk berangkat ke Sumatera Barat dan dia juga sudah memesan mobil untuk membawa mereka menuju Desa sehingga mereka tidak perlu menunggu jadwal keberangkatan bus menuju Desa saat mereka sampai di Bandara Internasional Minangkabau.
Rama dan Diska ikut duduk di kursi meja makan bergabung dengan kedua orang tua Diska.
"Apakah kalian sudah siap untuk berangkat?" tanya Bu Naina memastikan bahwa putrinya sudah menyiapkan semua barang-barang yang mereka butuhkan untuk nanti berada di desa.
"Sudah, Ma. sama perlengkapan Kamu sudah siap dan perlengkapan Farel juga sudah disiapkan oleh Mbak Yuyun, saat ini Mbak Yuyun sedang memandikan Farel," jawab Diska.
"Hari ini Kami tidak bisa mengantarkan kamu menuju bandara, kalian akan diantarkan oleh Pak Ujang," ujar pak Bayu.
"Iya, Pa." Diska mengangguk.
Setelah itu mereka pun menyantap hidangan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
Usai mereka menghabiskan makanan yang ada di piring mereka masing-masing, Pak Bayu dan Bu Naina bersiap untuk berangkat menuju Rumah sakit tempat mereka bekerja.
bersambung...