
"Semoga kamu dapat meraih kebahagiaanmu, Nak," lirih Uci Desmi sebelum masuk ke dalam rumah.
Meskipun sedih berpisah lagi dengan Diska, tapi dia merasa senang melihat Rama dan Diska yang akan bersatu.
Mobil yang disewa Rama akan langsung mengantarkan mereka menuju Bandara Internasional Minangkabau.
Rama sudah meminta Diska untuk memesan pesawat melalui aplikasi di ponselnya.
Meskipun, Rama sudah memiliki uang, tapi dia belum memiliki ponsel android yang canggih seperti yang sudah dimiliki oleh semua kalangan saat ini.
Sebelum berangkat, Rama juga sudah memberikan uangnya pada Diska untuk disimpan di rekening Diska agar semua biaya perjalanan mereka akan diambil dari uang yang tersimpan di rekening tersebut.
Diska akan membayar semuanya melalui mobile banking atau QR. Meskipun begitu Rama masih membawa uang cash di dalam dompetnya.
Mbak Yuyun terharu melihat wajah ceria Diska saat perjalanan mereka yang baru saja dimulai.
Bagi Mbak Yuyun liburan kali ini lebih berharga dari pada diajak pergi touring ke Bali atau tempat wisata lainnya.
Mbak Yuyun dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga dari kasih sayang yang diberikan Uci Desmi pada Diska dan Rama padahal mereka berdua bukanlah putra maupun putri dari wanita paruh baya itu.
Saat mereka sudah menempuh setengah perjalanan, Farel merasa mengantuk dan dia pun tertidur di dalam dekapan sang ayah, tak dapat dipungkiri lagi anak kecil itu ingin menunjukkan bahwa dia sangat membutuhkan kasih sayang dari ayah kandungnya yang selama ini tak di dapatkannya.
Meskipun selama ini Rezi selalu menjadi orang yang menggantikan sosok ayah bagi Farel tapi, Farel masih tetap merasa nyaman saat berada di dekat ayahnya.
Mbak Yuyun menoel Diska, lalu menunjuk ke arah Farel yang terlelap di dalam dekapan Rama.
"Nona, kelihatannya Farel mendapatkan kenyamanan yang tidak pernah di dapatkannya selama ini," lirih Mbak Yuyun.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah, semoga saja Mama dan papa mengerti apa yang kami butuhkan," ujar Diska penuh harap.
"Aamiin," lirih Mbak Yuyun.
Rama mendengar apa yang dibicarakan oleh 2 orang wanita yang duduk di bangku belakangnya. Dia tersenyum, dan berdoa di dalam hati agar do'a Diska terkabul.
Setelah 6 jam perjalanan, mereka hampir sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Azan dzuhur pun sudah terdengar berkumandang.
"Bang, kita shalat dan makan di mana?" tanya Rama pada sopir yang membawa mobil yang mereka tumpangi.
"Sebelum bandara nanti ada rumah makan dan di sampingnya terdapat mesjid. kita bisa melaksanakan salat zuhur di sana Dan setelah itu kita bisa makan di rumah makan tersebut," jawab sopir.
"Oh, gitu. Ya, udah kita berhenti di sana aja nanti," ujar Rama lagi.
"Oke," sahut si sopir.
"Gimana, Mbak Yuyun udah lapar?" tanya Rama.
__ADS_1
"Lumayan, tapi masih bisa ditahan kok," jawab Mbak Yuyun.
Rama menoleh pada Diska melalui spion mobil, seakan dia mempertanyakan wanita yang dicintainya itu.
"Aku juga masih bisa menahan rasa lapar," ujar Diska menjawab arti tatapan Rama di spion mobil.
"Ehem." Mbak Yuyun berdehem mengusili mereka yang saling bertatapan dari spion mobil.
Diska dan Rama tersenyum.
Farel masih saja nyenyak di dalam pangkuan ayah kandungnya hingga mobil berhenti di tempat yang dikatakan oleh sopir tadi.
"Kita shalat di sini, dan setelah itu bisa makan di rumah makan ini," ujar sopir.
"Bun-nda," lirih Farel saat dia baru saja terbangun.
Diska mengulurkan tangannya untuk memindahkan Farel ke dalam pangkuannya.
"Sama aku aja, kamu shalatlah terlebih dahulu, setelah itu aku akan shalat," ujar Rama sebelum keluar dari mobil.
"Farel sama ayah dulu ya, Nak." Rama menenangkan Farel yang mulai rewel.
Dia mengusap lembut punggung putranya.
"Ya udah, kalau gitu. Ayo, Mbak. Kita sholat duluan," ajak Diska.
Setelah Diska dan Mbak Yuyun selesai menunaikan ibadah shalat dzuhur, dia menghampiri Rama yang duduk di teras luar mesjid.
"Farel sama bunda dulu ya, Nak. Ayah mau shalat dulu," ujar Rama.
Entah mengapa dengan mudah Rama menyebut dirinya sebagai ayah bagi anak kecil yang sekarang selalu menempel dengannya.
"Eng-enggak," tolak Farel.
Farel tidak mau lepas dari Rama. Padahal saat Diska hendak shalat Farel mau ikut dengan bundanya.
"Farel, Sayang. Ayo gendong bunda, nanti setelah ayah shalat, kamu bisa sama ayah lagi," bujuk Diska perlahan.
Meskipun susah membujuk anak kecil itu akhirnya mau juga berpindah dari tangan ayahnya ke tangan bundanya.
Rama dan Diska sudah terlihat seperti sebagai orang tua yang sudah membina keluarga yang bahagia dengan hadirnya sosok Farel.
setelah mereka semua selesai salat mereka pun berpindah ke rumah makan yang ada di samping masjid tersebut.
Mereka mengisi perut mereka yang sudah terasa kosong dengan nasi padang yang terkenal dengan kelezatannya.
__ADS_1
Usai makan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional Minangkabau.
Mereka akan menaiki pesawat menuju Bandung pada pukul 15.00. bersyukur mereka sampai di Bandara pada pukul 13.30.
"Terima kasih ya, Bang," ucap Rama pada sopir yang sudah mengantarkan mereka ke bandara.
Sang sopir baru saja selesai menurunkan semua barang-barang bawaan mereka dari mobil yang disewa oleh Rama.
Sebelum sang sopir pergi Rama pun memberikan uang kepada si sopir untuk bayaran sewa mobil 1 hari yang sudah disepakati.
"Sama-sama, nanti kalau butuh mobil lagi ke kampung kabari aku saja," ujar si sopir mobil sewaan tersebut.
"Aman, Bang. Do'akan saja lancar misiku, Bang," ujar Rama pada sang sopir.
"Aamiin, semoga lancar, ya," sahut sang sopir."
Setelah itu si sopir pun masuk ke dalam mobilnya, lalu Rama dan yang lainnya pun masuk ke dalam Bandara.
Tak menunggu lama, mereka langsung melakukan check-in, Rama yang tak pernah naik pesawat hanya mengikuti prosedur yang dilakukan oleh Diska.
Setelah check-in mereka pun menunggu keberangkatan di ruang tunggu.
"Gimana, Bang? Kamu takut?" tanya Diska saat melihat wajah Rama sedikit gugup.
"Mhm, i-iya sedikit. Aku kan belum pernah naik pesawat," jawab Rama jujur.
"Anggap aja naik bus, Bang. Tenang aja, semoga kita selamat hingga tujuan kita, Aamiin." Diska berusaha menenangkan Rama.
Pengumuman keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi oleh Diska dan lainnya sudah terdengar.
Mereka pun langsung masuk ke dalam pesawat, meskipun Rama gugup dia berusaha untuk tetap tidak takut.
"Bismillah," gumam Rama di dalam hati saat pesawat mulai lepas landas.
1 jam 50 menit perjalanan, mereka pun sampai di Bandara Husein Sastranegara.
Mereka sampai Bandung saat menjelang maghrib, Diska langsung memesan go-car untuk mengantarkan mereka ke kediaman kedua orang tua Diska.
Sampai di rumahnya, Diska sangat merindukan kedua orang tuanya. Meskipun Diska tahu kedua orang tuanya akan marah padanya, tapi dia harus tetap menghadapi amarah mereka.
"Assalamu'alaikum," ucap Diska.
Seorang PRT di rumah itu keluar membukakan pintu untuk Diska.
"Nona," pekik sang PRT dengan nada yang sulit diartikan.
__ADS_1
Bersambung...