
Mata Ferdy tertuju pada sosok wanita yang kini sudah berumur sekitar 50 tahunan.
Dia kaget saat melihat wanita yang puluhan tahun lalu pernah mengisi hatinya.
Naina juga terpaku saat melihat pria yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya.
Mereka saling menatap.
"Oh, iya. Kenalkan ini istriku," ujar Bayu.
Dia menghampiri sang istri lalu mengajak Naina mendekati Ferdy.
Naina mengeluarkan tangannya, dia berpura-pura tidak mengenal Ferdy di hadapan sang suami.
Ferdy masih saja menatap wanita yang dicintainya beberapa tahun yang lalu.
"Fer?" lirih Bayu heran melihat temannya terpana melihat sang istri.
"Eh, maaf. Aku begitu terpukau dengan sosok istrimu yang terlihat sangat cantik," puji Ferdy.
Dia seolah-olah kini berbasa-basi menyanjung istri dari sahabatnya itu padahal apa yang diucapkannya adalah berasal dari hatinya yang paling dalam.
"Oh iya, silakan duduk!" Ferdi mempersilakan sahabatnya dan istri untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya tersebut.
"Sepertinya kamu semakin sukses ya, Fer," ujar Bayu kagum melihat kesuksesan sang sahabat.
"Biasa aja, Bay. Namanya juga penerus keluarga, aku mendapatkannya bukan hasil jerih payah aku sendiri tapi warisan dari orang tua." Ferdi tidak merasa bangga dengan apa yang kini didapatnya.
Kekayaan yang berlimpah dan kesuksesan yang ada di hadapannya saat ini semata-mata adalah perjuangan dari kedua orang tuanya, dia hanyalah seorang penerus dari semua usaha dan bisnis kedua orang tuanya.
Menurutnya tidak ada hal yang bisa dibanggakan dengan apa yang didapatnya saat ini.
"Sama aja lah, Fer. Jika kamu tidak bisa meneruskan warisan keluargamu yang saat ini ada di tanganmu maka usaha mereka tidak akan berkembang seperti yang kamu pegang saat ini," puji Bayu.
Sejak dulu hal inilah yang selalu dikagumi oleh Bayu dari sifat Ferdi.
Ferdy tidak pernah sombong dengan apa yang dimilikinya, dia selalu merendahkan diri dengan harta dan kesuksesan yang sudah dia dapat.
"Bayu Bayu, sejak dulu kamu selalu memujiku, padahal kamu adalah mahasiswa yang paling pintar seangkatan kita," ujar Ferdy.
"Ah, kamu bisa saja," lirih Bayu.
Dua sahabat itu pun mulai bernostalgia dengan apa yang pernah mereka jalani selama duduk di bangku kuliah, sehingga Naina memilih untuk dia mendengarkan cerita dua pria yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Sesaat Ferdy dan Naina melupakan kisah masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka.
"Oh, iya. Bagaimana dengan tempat tinggal kalian di sini?" tanya Ferdi setelah mereka membahas masalah pekerjaan.
"Kami akan mencari rumah kontrakan yang cocok untuk kami," jawab Bayu.
"Oh begitu, semoga saja kalian betah bekerja di rumah sakit ini kebetulan posisi dokter bedah dan dokter kandungan sedang dibutuhkan di rumah sakit ini," ujar Ferdy.
"Terima kasih ya, Fer. Seandainya kamu tidak membantu kami maka aku juga tidak tahu harus berbuat apa setelah ini," ujar Bayu.
"Kamu tenang aja, Bay. ini sudah sepatutnya aku lakukan untuk sahabatku," ujar Ferdy.
Mereka tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu. Mungkin hari ini kami akan mencari kontrakan di sini. Supaya hari Senin kami mulai bekerja di tempat yang baru ini," ujar Bayu bersemangat.
Pria paruh baya itu pun melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya dengan Naina.
Selesai berbicara dengan Ferdy, Bayu dan Naina berpamitan untuk keluar dari ruangan Ferdy.
Mereka harus siap untuk mencari rumah kontrakan yang cocok untuk mereka.
Bayu dan Naina harus bisa beradaptasi tinggal di kota Padang, karena mulai hari ini mereka akan belajar hidup jauh dari keluarga besar mereka yang ada di Bandung.
"Baiklah, kalau begitu. Hari Senin kalian sudah bisa mulai bekerja," ujar Ferdy.
Setelah itu Bayu berdiri dari sofa diikuti oleh Naina. Bayu menjabat tangan sahabatnya itu.
"Kalau ada apa-apa, kamu beritahu aku saja," ujar Ferdy sebelum sahabatnya benar-benar keluar dari ruangannya.
"Iya, terima kasih, Fer." Bayu tersenyum.
Ferdy mengulurkan tangannya ke arah Naina, wanita itu ragu untuk menjabat tangan Ferdy.
Namun, mau tidak mau dia meraih tangan Ferdy. Kenangan di masa lalu saat mereka saling mencintai melintas di benak mereka.
30 tahun yang lalu mereka sempat menjalin asmara di antara keduanya. Bayu tidak tahu hubungan Naina dengan Ferdy karena Naina merupakan junior mereka.
Persahabatan yang terjalin di antara Ferdy dan Bayu tidak membuat Bayu mengetahui bahwa istrinya saat ini adalah kekasih dari sahabatnya.
Bayu dan Naina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka dan menetap di kota Bandung, sedangkan Ferdy yang patah hati kembali ke kota kelahirannya dan mulai hidup melanjutkan bisnis kedua orang tuanya.
Dia sempat menikahi seorang wanita, tapi pernikahan mereka tak bertahan lama karena banyak hal yang tidak cocok di antara mereka berdua.
__ADS_1
Setelah urusan mereka selesai, Bayu dan Naina kembali ke hotel.
Di sepanjang perjalanan, Naina banyak diam. Saat ini hatinya tengah kacau setelah bertemu dengan Ferdy.
Naina tidak bisa membayangkan bekerja di rumah sakit milik mantan kekasihnya.
****
Rama dan Diska kini berbaring di atas tempat tidur sambil sibuk dengan ponsel di tangan mereka.
Sejak Rama menikah dengan Diska, pemuda desa itu dipaksa istrinya untuk membeli Android agar mereka dapat berkomunikasi dengan mudah.
"Bang," lirih Diska pada Rama.
"Mhm," gumam Rama.
"Coba lihat ini," ujar Diska.
Diska menyodorkan ponselnya ke arah sang suami, dia memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh Gina padanya.
Rama melihat dan membaca pesan yang dikirimkan Gina pada sang istri.
"Wah, ini bagus, Dek. Kamu pindah aja ke klinik Silaping. Kita bisa ketemu Papa dan Mama kamu lebih sering lagi," ujar Rama bersemangat.
"Maksud kamu, Bang?" tanya Diska.
"Sebaiknya kamu menerima tawaran dari Gina ini sebelum diisi oleh dokter lain, lagian di Silaping belum ada dokter kandungan." Rama meminta Diska menerima tawaran dari Gina.
Di pesan itu, Gina menawarkan Diska untuk bekerja di klinik desa Silaping, meskipun gajinya tidak sebesar gajinya di rumah sakit tempat dia bekerja, paling tidak dia bisa mengaplikasikan ilmunya sebagai seorang dokter di desa Rama.
"Kamu yakin, Bang nyuruh aku pindah ke daerah Silaping?" tanya Diska.
"Iya, Sayang." Rama langsung setuju.
Hal ini membuat Diska tahu bahwa Rama terpaksa mengikuti dirinya ke kota Bandung, padahal dia menginginkan mereka tinggal di desanya.
"Bang," lirih Diska menatap dalam pada sang suami.
Rama membalas tatapan sang istri.
"Apakah kamu merasa terpaksa tinggal di Bandung?" tanya Diska pada Rama.
Rama terdiam, dia bingung harus menjelaskan apa pada sang isteri.
__ADS_1
Bersambung...