Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 32


__ADS_3

"A-apa?" lirih si pramuniaga tersebut.


Dia tidak menyangka apa yang baru saja dilakukannya sudah menutup sumber penghasilannya.


"Iya, kamu saya pecat!" bentak si pemilik toko.


"Dek, ada apa, sih?" tanya Rama bingung.


Diska pun menarik tangan Rama menjauh dari toko itu.


Para pengunjung yang sempat melihat kejadian itu ikut bubar setelah kepergian Diska dari tokoh tersebut.


Diska membawa Rama masuk ke sebuah cafe, seketika Dia merasakan sangat haus dan butuh segelas minuman dingin untuk meredam emosi yang membuat otaknya mendidih.


Diska memesan segelas es lemon tea, dia terlihat tengah mengatur napasnya yang seakan baru saja berlari. Rama milih diam, menunggu napas Diska teratur.


"Dek, kamu kenapa tampar wanita itu?" tanya Rama lagi pada Diska, dia semakin penasaran dengan yang sudah dilakukan oleh Diska pada pramuniaga itu.


"Kamu enggak dengar apa yang aku bilang sama pemilik toko tadi?" tanya Diska kesal.


"Lho, kamu marah sama karyawan itu terus kenapa aku jadi kena getahnya?" tanya Rama sambil senyum-senyum melihat Diska yang cemberut.


"Bang, dia itu menghina kamu. Dia pake bilang Abang gembel lah, dia bilang Abang pelet aku, kan nyebelin mulut tuh cewek," ujar Diska meluapkan amarahnya.


"Dek, kalau memang Abang seperti gembel, tapi enggak seharusnya kamu tampar cewek itu. Kamu bisa ngomong baik-baik, hinaan tidak perlu dibalas dengan hinaan juga," nasehat Rama.


"Tapi, Bang. Mulut cewek beracun," ujar Diska emosi.


"Hehehe, kamu segitunya belain aku?" Rama terkekeh melihat Diska yang marah besar pada cewek itu karena dirinya yang telah dihina.


"Ya iyalah, Bang. Tidak ada seorang pun yang pantas menghina kamu, Bang. Mereka tidak tahu seberapa pentingnya kamu dalam hidupku," tutur Diska jujur.


"Memangnya seberapa penting aku dalam hidupmu?" tanya Rama menggoda Diska.


Dia menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


"Ish, kamu menyebalkan," gerutu Diska sambil mengerucutkan bibirnya.


"Menyebalkan tapi penting banget dalam hidup kamu, 'kan," goda Rama lagi.


"Ish," lirih Diska.


Rama tersenyum melihat Diska.


"Dek, lain kali kamu harus bisa menahan emosi. Hinaan tidak perlu dilawan, biarlah mereka menghina kita, cukup Allah yang tahu bagaimana diri kita, aku sudah terbiasa dihina sejak kecil, jadi penghinaan bagiku sudah makanan setiap hari, aku hanya membalasnya dengan berdo'a kepada Allah agar dinaikkan derajat di depan mereka," nasehat Rama panjang lebar.


Diska menatap dalam pada Rama, dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rama.


Diska terdiam, dia menyadari apa yang sudah dilakukannya itu merupakan sebuah kesalahan.


Ibu satu anak itu semakin kagum dengan sikap Rama yang rendah hati, dan menerima apa yang terjadi dalam hidupnya dengan lapang dada.

__ADS_1


"Terus, sekarang aku harus bagaimana?" tanya Diska.


"Ya mau bagaimana lagi, sudah terjadi. Untuk lain kali, jika ada yang menghinaku, cukup diam dan tidak usah membalas perkataan mereka," nasehat Rama lagi.


Diska mengangguk.


"Ya udah, kita cari toko lain saja," ajak Diska setelah menghabiskan es lemon tea yang dipesannya tadi.


Rama tersenyum.


"Ayo," sahut Rama.


Mereka pun kembali melanjutkan langkah mengelilingi toko yang ada di mall itu.


Diska membawa Rama masuk ke sebuah toko pakaian yang mana di sana banyak terpajang berbagai contoh mahar seperangkat alat yang dihias di dalam kotak bening.


Mereka masuk toko dan melihat-lihat beberapa mukena yang terpajang di sana.


Mata Diska tertuju pada sebuah mukena Rusia yang dibalut dengan tile cantik, berwarna putih.


"Siang, Kak. Mau lihat yang mana?" seorang pramuniaga datang menghampiri mereka dengan Ramah dan santun berbeda dengan pramuniaga sebelumnya.


"Eh, iya, Kak. Saya mau lihat mukena Rusia itu, dong," ujar Diska sambil menunjuk ke sebuah mukena yang diinginkannya.


"Oh ya, tunggu sebentar!" sahut si pramuniaga.


Wanita yang jauh lebih muda dari Diska itu mendekati mukena yang ditunjuk Diska. Lalu mengambilkan mukena tersebut dan memberikannya pada Diska.


"Wah, bahannya adem, ya," ujar Diska sangat menyukai mukena itu.


"Kamu mau yang itu?" tanya Rama pada Diska.


Diska mengangguk mengiyakan.


"Ya udah, bungkus, Kak," pinta Rama.


"Mhm, mukenanya untuk apa, Kak?" tanya si pramuniaga dengan ramah.


"Mhm," gumam Diska sambil melirik Rama.


"Untuk mahar ya, Kak?" Wanita itu mencoba menebak.


"Eh, i-iya," lirih Diska mengangguk.


Wajahnya pun berubah merah seketika karena malu.


"Oh, belum nikah, ya. Semoga lancar dan langgeng ya, Kak." Si pramuniaga itu memberikan do'a terbaik untuk Diska dan Rama.


Sepasang calon pengantin itu saling melirik, dan tersenyum.


Bagi mereka saat ini pernikahan tidak terlalu menjadi hal yang mendebarkan karena mereka sudah sempat melakukan dosa di masa lalu.

__ADS_1


"Kalau mau untuk mahar, kami bisa bikinkan bingkisannya, Kak. Biar cantik dan indah," ujar Si pramuniaga menawarkan jasa hias mahar pengantin.


"Mhm bagaimana, Bang?" tanya Diska meminta pendapat Rama.


"Terserah kamu saja," ujar Rama.


"Ya udah, tolong dihiasi ya, Kak. Tapi, bisa dikirimkan ke alamat saya 'kan, enggak mungkin kayaknya dibawa-bawa sekarang," ujar Diska.


"Oh bisa, Kak. Kami juga menerima jasa antar," ujar si pramuniaga lagi.


"Ya udah, kalau gitu. Saya ambil yang ini aja, Kak." Diska menunjukkan mukena yang dia inginkan.


"Mhm, sajadahnya mau yang mana, Kak?" tanya pramuniaga itu.


Si pramuniaga membawa Diska ke arah beberapa sajadah yang terpajang.


"Yang ini saja," jawab Diska sambil menunjuk sajadah berwarna Lilac.


"Kakaknya mau dikasih Alquran atau tidak?" tanya pramuniaga lagi.


Diska menoleh ke arah Rama meminta pendapat.


"Terserah kamu," ujar Rama pada Diska.


"Ya udah, enggak apa-apa pakai Alquran, Kak." Diska setuju.


Pramuniaga juga memamerkan beberapa Alquran yang terpajang di sana, Diska pun memilih satu warna kesukaannya.


"Baiklah, kami akan menghiasi mahar kakak. Kakak bisa melakukan pembayaran sekarang, juga bisa nanti di saat barang sudah sampai," ujar si pramuniaga.


"Mhm," gumam Diska lagi-lagi dia menoleh ke arah Rama.


"Ya udah bayar sekarang aja, tokonya amanah, 'kan?" ujar Rama.


"Insya Allah kami amanah, Bang," jawab pramuniaga itu.


"Berapa semuanya, Kak?" tanya Rama.


"Baiklah, Kak, Bang. Tunggu sebentar ya saya hitung dulu, mukenanya seharga 510 ribu, sajadahnya 220 ribu, Alquran 130 ribu jasa hias dan antar 50 ribu. Jadi, total semuanya 910 ribu," ujar si pramuniaga sambil mengotak-atik kalkulator yang ada dihadapannya.


Rama pun mengeluarkan uang dari dompetnya.


Si pramuniaga melihat dompet Rama yang tebal.


"Busyet, Abang ini kaya juga kayaknya, penampilannya seperti gembel tapi dompetnya tebal banget," gumam si pramuniaga di dalam hati.


"Baiklah, Kak, Bang. Terima kasih, Kak, Bang," ujar si pramuniaga.


"Ini kembaliannya," ujar Si pramuniaga.


Setelah itu mereka pun pulang ke rumah karena mencemaskan keadaan Farel di rumah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2