Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 12


__ADS_3

"Menikah dengan orang lain?" tanya Rudi.


Dia mengernyitkan dahinya, dia semakin penasaran dengan rumah tangga Diska.


"Jadi, setelah itu kami hidup berdua dengan Farel tanpa hadirnya ayah Farel bersama kalian?" tanya Rudi lagi.


Sebagai seorang sahabat dia ikut prihatin dengan apa yang dialami oleh Diska, dia ingin tahu dengan apa yang sudah terjadi pada Diska selama 3 tahun ini.


"Iya, dia sudah pergi," lirih Diska menjawab pertanyaan Rudi sambil menatap Rama.


Ingin rasanya Diska memberitahukan bahwa Rama adalah ayah kandung dari putranya.


Tapi hal itu tidak mungkin dilakukannya karena Diska tidak ingin mengungkap aibnya sendiri.


Cukup kedua orang tuanya, Rezi dan Mbak Yuyun yang tahu dosa besar yang sudah dilakukannya.


"Kamu memang wanita yang kuat, Dis. Semoga kamu dapatkan pengganti yang lebih baik dari ayah Farel," ujar Rudi sambil menoleh ke arah Rama.


Diska hanya tersenyum, Diska tidak ingin mendapatkan pengganti ayah Farel, tapi Diska ingin bersama dengan ayah Farel.


Keinginan itu hanya terungkap di hatinya, dia tidak ingin berharap lebih karena dia tidak ingin merusak rumah tangga Rama dan Annisa.


Melihat reaksi Diska saat dia mendengar apa yang diucapkan Rudi membuat Rudi yakin ada sesuatu yang disimpan oleh Diska.


Rama hanya diam sambil asyik bermain dengan Farel.


Uci Desmi menatap Rama secara bergantian.


"Kenapa kalian tidak kembali saja seperti dulu?" bisik Uci Desmi di telinga Rama.


Rama menoleh ke arah Uci Desmi. Dia menggelengkan kepalanya.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, Rudi melirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 14.30.


"Eh, Dia. sepertinya aku harus cabut dulu, aku masih ada kerjaan di kantor kepala Desa." Rudi berdiri dan siap untuk meninggalkan rumah Uci Desmi.


"Eh, Rud. Tungguin aku," ujar Rama.


Diska pun langsung mengambil Farel, dan menggendong putranya itu.


"Enggak mau!" teriak Farel.


"Omnya mau pulang, besok main lagi sama om Rama, ya." Diska membujuk putranya agar membiarkan Rama pulang bersama Rudi.


"Enggak, whuaaa." Farel kembali menangis.


"Maafkan aku, Bang." Diska meras bersalah dengan sikap Farel.


"Tidak apa-apa, mungkin dia rindu dengan sosok ayahnya," ujar Rama.

__ADS_1


Deg.


Jantung Diska berdegup kencang. Ucapan Rama menampar dirinya.


"Ya Allah, haruskah aku memberitahukan yang sebenarnya? Maafkan aku ya Allah, aku tidak ingin di cap sebagai seorang pelakor," gumam Diska di dalam hati.


Diska tidak sanggup menahan rasa sedihnya melihat Farel yang selalu ingin berada di dekat ayahnya itu.


"Farel! Kalau Farel enggak mau denger kata Bunda, nanti bunda marah." Diska membentak Farel.


Diska sengaja memarahi Farel untuk menutupi rasa sedihnya.


"Dek, kamu tidak perlu memarahi Farel," ujar Rama kesal.


Entah mengapa Rama tidak suka melihat Diska membentak Farel, ada sisi di hatinya yang membuat dia sedih melihat anak kecil itu menangis di hadapannya.


"Aden, ikut Mbak Yuyun main, yuk." Mbak Yuyun ikut turun tangan membujuk Farel.


Mbak Yuyun mengerti bagaimana perasaan Diska saat ini.


"Endak, aku ndak mau." Farel masih ngotot untuk tetap bersama Rama.


"Ram, gini aja, kamu main aja dulu sama Farel. Nanti balik dari kantor desa, aku jemput kamu lagi," ujar Rudi.


Rudi semakin curiga dengan sikap Farel, Rudi dapat melihat dengan jelas ada hal yang disembunyikan oleh Diska.


"Ya udah, deh." Rama setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rudi.


"Ya udah, om Rama masih di sini, kita main lagi, ya," ujar Rama.


Rama tidak tega melihat anak kecil itu menangis di depannya.


"Huhft." Diska menghela napas panjang.


"Nona, sepertinya Farel udah ngantuk. Aku buatin susu dulu , mana tahu dia bisa tidur," ujar Mbak Yuyun


Mbak Yuyun melangkah ke kamar, lalu menyiapkan susu botol untuk Farel.


"Bobok ama om Ama," ujar Farel tidak ingin jauh-jauh dari Rama.


"Maaf," lirih Diska.


Diska merasa bersalah sudah merepotkan Rama, dia takut tiba-tiba Annisa datang dan melabrak dirinya.


"Tidak apa-apa, aku juga menganggap dia sebagai putraku," ujar Rama jujur.


Rama memang merasa sangat dekat dengan Farel, dia merasa sangat sayang dengan anak kecil yang kini asyik bergelayut manja di tubuh kekarnya.


Berkali-kali Rama menghujani wajah pangeran mungil Diska itu dengan ciuman penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ini, Den. Aden mau bobok sama mbak Yuyun?" Mbak Yuyun membujuk Farel.


Namun, usaha Mbak Yuyun sia-sia karena Farel menjawab dengan gelengan kepala sambil bermanja-manja dengan Rama.


"Ya udah, bawa sini, Mbak," ujar Rama.


Rama meminta botol susu milik Farel. Lalu Rama membaringkan tubuhnya di atas karpet.


Uci Desmi mengambilkan bantal untuk mengalasi kepala Rama agar tidak langsung ke karpet.


"Terima kasih, Uci," ucap Rama.


Kini ayah dan anak itu sudah berbaring. Rama terlihat mengelus-ngelus lembut punggung putranya.


Setiap sentuhan membuat hati Rama merasa semakin dekat dengan putranya.


Tak berapa lama, Farel pun tertidur dengan lelap.


Setelah Farel tidur lelap, Rama mengangkat tubuh mungil Farel dan membawanya ke dalam kamar.


"Mbak Yuyun, ikut saya, yuk." Uci Desmi mengajak Mbak Yuyun untuk keluar dari rumah.


Uci Desmi sengaja mengajak Mbak Yuyun pergi agar Diska dan Rama memiliki waktu untuk berdua, agar mereka bisa bicara dari hati ke hati.


"Oh, iya." Mbak Yuyun setuju .


Mbak Yuyun mengikuti langkah Uci Desmi yang keluar dari rumah.


Uci Desmi membawa Mbak Yuyun pergi ke warung untuk membeli bahan yang akan di masak nanti malam.


Sekarang tinggallah Diska dan Rama di ruang keluarga berdua. Seketika rasa gugup menyelinap di hati mereka, mereka terdiam dalam seribu bahasa.


"Dek," lirih Rama memulai pembicaraan.


Diska menoleh ke arah Rama, di saat itu Rama menatap dalam wajah wanita yang sangat dicintainya.


"Mhm," gumam Diska.


"Kamu pasti sulit membesarkan Farel seorang diri." Rama mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Diska.


"Mhm, tidak juga, Bang. Aku merawat Farel dengan bantuan Mbak Yuyun dan kedua orang tuaku."Diska menutupi kesedihannya.


Meskipun dia membesarkan Farel dalam rasa sepi yang terus hingga di dalam jiwanya, dia terus berusaha untuk tetap tegar.


"Walau bagaimanapun, kamu pasti butuh pendamping dalam merawatnya. Kenapa kamu biarkan ayahnya Farel menikah dengan wanita lain?" tanya Rama.


Rama penasaran dengan rumah tangga yang dijalani oleh Diska. Dia ingin wanita yang dicintainya itu menceritakan pahitnya kehidupan yang dijalaninya selama ini.


"Mhm, mungkin saja aku dan ayahnya Farel tidak ditakdirkan untuk bersatu," jawab Diska.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Rama.


Bersambung...


__ADS_2