
"Lalu ke mana kita akan mencarinya?" tanya Diska.
"Mungkin dia ada di kebunnya." Rudi membelokkan sepeda motornya lalu mengarahkan sepeda motornya menuju kebun Rama.
Rudi terpaksa membawa sepeda motornya ke dalam hutan karena dia tidak ingin Diska kelelahan berjalan.
Dia melajukan sepeda motornya di jalan setapak menuju kebun sahabatnya.
Jalanan menuju kebun Rama tidak terlalu jelek jika tidak hujan, sehingga Rudi tidak mendapati kesulitan dalam melajukan sepeda motornya.
Rudi memarkirkan sepeda motornya di tempat yang datang sebelum masuk ke dalam kebun Rama.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam kebun Rama.
"Rama! Kamu di mana?" teriak Rudi saat mereka sudah berdiri di depan pondok sederhana milik Rama.
"Rama!" teriak Rudi sekali lagi.
"Kamu duduk dulu di sini aku akan lihat dia ke sana," ujar Rudi hendak meninggalkan Diska di pondok Rama.
Dia akan mencari Rama di kebun bagia belakang pondok.
"Tidak, Rudi. Jangan tinggalkan aku di sini," bantah Diska dengan wajah yang pucat.
Diska takut berada di hutan itu seorang diri.
Rudi tidak tega melihat Diska yang pucat karena takut dia tinggalkan.
"Ya sudah kalau begitu. Kita tunggu dia di sini sebentar lagi, kalau memang tidak juga datang. Berarti dia masih berada di desa." Rudi pun duduk di samping Diska.
"Dis," lirih Rudi.
"Mhm," gumam Diska sambil menoleh ke arah Rudi.
"Aku tahu, kamu masih mencintai Rama. Jika suatu hari nanti Tuhan memberi kesempatan untuk kalian bersatu, apakah kamu mau untuk menetap di sini bersama kami?" tanya Rudi.
Entah mengapa Rudi ingin sekali membujuk Diska untuk mau tinggal di desanya. Rudi seakan tidak sanggup jika Rudi pergi meninggalkan desa demi memperjuangkan cintanya terhadap Diska.
"Mhm, semua itu tergantung. Aku ingin melihat seberapa besar cinta bang Rama padaku, dan seberapa besar dia akan memperjuangkan cintanya terhadap diriku," jawab Diska.
"Cinta itu tanpa syarat," lirih Rudi.
Diska terdiam mendengar ucapan Rudi.
"Memang benar, Rud. Cinta tanpa syarat, tapi aku ingin tahu sebesar apa cinta Bang Rama padaku. Agar aku bisa memperjuangkan dirinya di hadapan kedua orang tuaku," ujar Diska memberi alasan.
Rudi pun mengangguk paham, dia mengerti apa yang saat ini ada di dalam pikiran Diska.
__ADS_1
Hampir setengah jam mereka di sana, tapi tak ada tanda-tanda Rama akan datang.
"Rama!" teriak Rudi lagi.
"Rama!" Berkali-kali Rudi manggil Rama tapi sahabatnya itu tidak juga muncul.
"Mungkin Rama tidak ada di sini," ujar Diska.
"Ayo, kita lihat Rama di desa, Mana tahu dia sudah berada di rumah Uci Desmi." Rudi mengajak Diska kembali ke rumah Uci Desmi.
Akhirnya mereka pun kembali ke desa karena Rudi yakin sahabatnya itu tidak berada di kebun.
"Ada ketemu sama Rama?" tanya Uci Desmi saat Diska dan Rudi sampai di rumahnya.
"Tidak, Ci. Dia tidak ada di rumahnya maupun di kebunnya," jawab Rudi.
"Ke mana tuh anak?" Uci Desmi heran.
Uci Desmi kasihan pada Diska, dia tahu saat ini Diska ingin tahu tentang kisah perjalanan rumah tangga Rama dan Annisa.
Menurut wanita paruh baya itu, Diska berhak tahu, agar dia bisa mengambil tindakan dalam langkah hidupnya.
"Aku juga tidak tahu, Ci." Rudi mengangkat bahunya.
"Ya udah, Rud. Kamu tolong cari Rama, kalau sudah ketemu katakan padanya bahwa Diska mencarinya ," perintah Uci Desmi pada Rudi.
"Terima kasih ya, Rud," ujar Diska sebelum Rudi meninggalkan rumah Uci Desmi.
Uci Desmi menatap kasihan pada Diska lalu dia pun menghampiri Diska.
"Bersabarlah, semoga Rudi bisa bertemu dengan Rama dan membawanya ke sini. Sekarang istirahatlah terlebih dahulu," ujar Uci Desmi.
"Iya, Uci. Aku akan beristirahat. Aku capek memikirkan semua pertanyaan yang ada di benakku." Diska pun melangkah masuk ke dalam kamar.
Di sana Mbak Yuyun terlihat tertidur dengan lelap di samping putranya. Diska pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu mulai memejamkan matanya.
****
Keesokan harinya, jenazah Annisa dikebumikan, sebagai teman Diska juga ikut mengantarkan jenazah Annisa ke pemakaman selama prosesi penyelenggaraan jenazah Annisa, Diska sama sekali tidak melihat sosok Rama.
"Kasihan nasib Annisa, gara-gara perbuatan kedua orang tuanya, dia harus menerima kebencian dari Rama." Salah seorang ibu-ibu membicarakan Annisa dan Rama.
"Lihatkan, sejak kemarin Rama tidak datang untuk melihat wajah Annisa untuk terakhir kalinya. Sepertinya Rama benar-benar membenci keluarga Pak Didin," ujar ibu yang lain lagi
Diska pun hanya diam ikut mendengarkan percakapan ibu-ibu tersebut agar dia bisa mendapatkan informasi.
Dari percakapan warga yang didengar Diska, hubungan Rama dan Annisa putus di tengah jalan karena ulah ayahnya, tapi dia masih belum tahu apa yang diperbuat Pak Didin sehingga Rama sangat membenci Annisa.
__ADS_1
Satu persatu para pelayat pun meninggalkan pemakaman. begitu juga Diska dan Uci Desmi, mereka pun mengikuti langkah para pelayat.
Di saat Diska dan Uci Desmi keluar dari pemakaman, Diska melihat sosok Rama yang berdiri jauh dari pemakaman. Dia menatap kosong ke arah pemakaman tersebut.
"Uci, itu Bang Rama. Aku akan menemuinya. Uci pulanglah terlebih dahulu," ujar Diska.
Diska meninggalkan Uci Desmi, dia melangkah menuju posisi Rama yang berdiri di pinggir jalan.
Rama melihat Diska yang kini sedang berjalan hendak menghampirinya.
"Kamu dari mana saja, Bang?" tanya Diska pada Rama.
"Mhm, aku di sini," jawab Rama santai
Sedikitpun pria itu tidak menunjukkan rasa bersalah pada Diska karena dia pergi dari rumah Uci Desmi tanpa berpamitan pada dirinya.
"Kamu menyebalkan," lirih Diska kesal.
Diska membalikkan tubuhnya, dia mulai merajuk.
"Ikut aku!" Rama menarik tangan Diska dan mengajak Diska pergi dari tempat itu.
Rama sudah meminjam sepeda motor Rudi agar di bisa nyaman membawa Diska meninggalkan tempat itu.
"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Diska saat mereka sudah berada di atas sepeda motor.
"Lihat saja nanti," ujar Rama.
Rama melajukan sepeda motor ke suatu tempat.
Rama membawa Diska ke sebuah tempat. Rama membawa Diska ke tempat mereka sudah menyatukan cinta mereka yaitu di taman bukit yang masih berada di desa Tanjung.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Diska pada Rama.
Diska takut mereka melakukan perbuatan dosa besar lagi di tempat itu.
"Ayo!" ajak Rama.
Dia melangkah menuju sebuah bangku panjang yang menghadap ke arah perkampungan.
Di sana mereka dapat melihat berapa luasnya desa Tanjung.
Diska pun mengikuti apa yang dilakukan oleh pria yang dicintainya itu.
Kini mereka berdua menatap jauh ke depan.
Bersambung...
__ADS_1