
3 hari berlalu.
Diska masih menikmati kebersamaan dengan Uci Desmi.
Selama 3 hari itu pula, Rama dan Rudi selalu datang makan siang hingga malam.
Ada sesuatu yang membuat Diska merasa aneh pada pria yang dicintainya itu. Selama 3 hari itu, Diska merasa Rama seperti seorang yang bebas. Dia terlihat tidak memikirkan perasaan Annisa.
Dia memilih untuk berada di rumah Uci Desmi bermain bersama Farel dari pada bersama keluarganya.
Setelah mereka baru saja selesai makan siang. Mereka bercengkrama di ruang keluarga.
Rama dan Farel terlihat semakin akrab. Sikap Rama semakin perhatian dan melimpahkan kasih sayangnya pada Farel, karena dia sendiri sudah tahu bahwa Farel adalah putranya.
Tampak 2 pria beda usia itu asyik bermain, tanpa menghiraukan keadaan di sekitar mereka.
Mereka semua sedang asyik mengobrol membicarakan berbagai hal mengenai berbagai hal yang bisa dibahas.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh." Terdengar sebuah suara dari mikrofon mesjid.
Mereka semua terdiam, menyimak pengumuman yang akan disampaikan dari mikrofon mesjid.
"Ada pengumuman apa siang hari begini? Sepertinya ada yang meninggal," tanya Uci Desmi lirih.
Tidak biasanya ada pengumuman di siang hari kecuali pengumuman kematian.
Mereka semua menantikan informasi yang akan diberikan oleh pengurus mesjid.
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, diberitahukan kepada seluruh masyarakat desa Tanjung bahwasanya salah satu warga kita telah berpulang ke rahmatullah yang bernama Annisa Maharani, putri dari Pak Didin siang ini. Sekali lagi Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, diberitahukan kepada seluruh masyarakat desa Tanjung bahwasanya salah satu warga kita telah berpulang ke rahmatullah yang bernama Annisa Maharani, putri dari Pak Didin siang ini."
Semua orang yang ada di rumah Uci Desmi saling berpandangan.
"Annisa meninggal," pekik Rudi kaget, dia tak menyangka, wanita yang lebih muda dari dirinya meninggal dunia.
Rudi menoleh ke arah sahabatnya. Awalnya Rama kaget, tapi setelah itu dia mengabaikan dan bersikap seolah tidak peduli sama sekali.
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un," ujar mereka semua.
"Umur hanya Allah yang tahu," lirih Uci Desmi.
Dia ikut kaget dengan informasi yang baru saja diberitakan.
__ADS_1
Diska menoleh ke arah Rama, dia melihat dengan jelas raut wajah Rama yang terlihat biasa saja.
"Bang, Annisa," lirih Diska pada Rama ikut sedih.
Selama 3 hari dia berada di desa Tanjung, dia masih belum mengetahui berita tentang Rama dan Annisa karena Uci Desmi tidak menceritakan masalah itu, wanita paruh baya itu memilih diam dan ingin Diska mengetahui hubungan Rama dan Annisa dari mulutnya sendiri.
"Apa sebenarnya yang terjadi antara Bang Rama dengan Annisa, dia terlihat tidak sedih sama sekali saat mendengar istrinya meninggal dunia." Diska bermonolog seorang diri.
"Mbak Yuyun, aku harus pergi ke rumah Annisa." Diska berdiri dari duduknya.
Wanita itu masih menunggu reaksi dari Rama yang masih datar tanpa ekspresi.
"Walau bagaimanapun aku pernah dekat dengannya. Uci, ayo kita ke rumah pak Didin," ajak Diska.
"Ayo," sahut Uci Desmi.
Uci Desmi ikut berdiri begitu juga dengan Rudi, sebagai salah satu warga desa Tanjung, Rudi ikut kehilangan dengan kematian Annisa yang mendadak.
Mereka pun melangkah keluar dari rumah Uci Desmi.
Langkah Diska terhenti saat dia hendak keluar dari rumah Uci Desmi.
Dia menoleh ke arah Rama yang sejak tadi hanya diam, dia seolah tidak menggubris sedikit pun berita kematian Annisa.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" lirih Diska mulai penasaran.
Pria yang dianggap Diska merupakan istri dari Annisa itu masih asyik bermain dengan putranya.
Uci Desmi dan Diska melangkah meninggalkan rumah Uci Desmi menuju rumah Pak Didin, Rudi memilih untuk berjalan kaki menemani langkah 2 wanita itu menuju rumah duka karena rumah mantan kepala desa itu tidak terlalu jauh dari rumah Uci Desmi.
Dua meninggalkan sepeda motornya di depan pekarangan rumah Uci Desmi.
"Apakah Annisa punya penyakit yang serius, Ci?" tanya Diska tak lagi bisa menahan rasa penasaran yang terus menghantui dirinya.
"Hingga saat ini, Uci tidak tahu pasti penyebab meninggalnya. Tapi, dia memang memiliki penyakit 3 tahun terakhir," jawab Uci Desmi.
"Penyakit apa?" tanya Diska ikut prihatin.
"Dia memiliki gangguan jiwa," jawab Uci Desmi jujur.
Diska menutup mulutnya tak percaya saat mendengar jawaban dari Uci Desmi.
__ADS_1
”Apakah hal ini yang membuat Bang Rama seolah tidak peduli dengan kematian istrinya?" tanya Diska lagi semakin penasaran.
Diska tak menyangka Rama akan menikah dengan wanita yang depresi.
Diska mulai ingin tahu dengan kehidupan Rama dan Diska selama dia pergi, dia yakin ada sesuatu yang tidak beres antara Rama dan Annisa.
Uci Desmi bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri tidak ingin mengungkapkan masalah yang terjadi setelah Diska pergi.
Uci Desmi tak ingin memberitahukan Diska sebelum Rama yang menceritakan masalah pernikahannya dan Annisa.
"Uci, kenapa Uci diam? Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi," pinta Diska terus menghujani Uci Desmi dengan pertanyaan sepanjang langkah mereka.
Diska terus mendesak wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya
Rudi hanya diam, dia juga enggan untuk membuka suara akan perihal yang ditanyakan oleh Diska.
Melihat Uci Desmi yang diam saja, Diska menoleh ke arah Rudi yang berjalan di sampingnya.
"Rud, kamu pasti tahu alasannya. Beritahu aku, Rud!" pinta Diska.
"Lebih baik kamu tanya langsung ke Rama, aku tidak ada hak untuk menjawabnya," ujar Rudi tegas.
Akhirnya Diska diam setelah mendengar jawaban dari Rudi.
"Mungkin lebih baik aku tanyakan langsung alasannya pada Bang Rama, mana tahu Uci Desmi dan Rudi bungkam dengan pertanyaan dariku karena mereka sudah berjanji pada Rama," gumam Diska di dalam hati.
Tak berapa lama mereka berjalan, mereka pun sampai di rumah Pak Didin.
Belum banyak orang yang datang melayat ke rumah duka, mereka semua pun masuk ke dalam rumah pak Didin.
Di dalam rumah terdapat 2 orang wanita yang tengah membacakan surah Yasin di dekat jenazah Annisa yang terbaring kaku.
Di samping wanita itu duduk ibu Annisa yang menatap kosong ke depan. Jelas terlihat ibu Annisa sangat terpukul dengan kepergian putrinya untuk selama-lamanya.
Tak jauh dari tempat ibu Annisa tampak Pak Didin duduk menundukkan kepalanya, dia juga sangat terpukul dengan musibah yang mereka alami.
Rasa sakit kehilangan orang yang disayangi kini dapat dirasakannya, yang mana dirasakan oleh Rama.
Mereka masuk ke dalam rumah lalu langsung menyalami kedua orang tua Annisa.
Uci Desmi duduk di samping ibu Annisa diikuti oleh Diska.
__ADS_1
"Apa penyebab meninggalnya?" lirih Uci Desmi.
Bersambung...