
Usai pesta pernikahan Rama dan Diska yang diadakan di desa Tanjung, Rama dan Diska beserta keluarganya harus berangkat ke Bandung karena kedua orang tua Diska harus bekerja, begitu juga dengan Diska.
Sebelum Rama pergi meninggalkan desanya, dia pun menemui Rudi terlebih dahulu.
"Rud, gue harus berangkat hari ini," ujar Rama hendak berpamitan dengan sahabatnya.
"Kamu kapan lagi ke sini?" tanya Rudi.
Rudi khawatir sahabatnya tidak akan pernah kembali lagi ke desa, karena kebanyakan penduduk desa Tanjung yang sudah merantau keluar dari desa Tanjung mereka akan jarang pulang ke desa mereka.
"Mhm, bukan depan aku akan balik lagi ke sini. Aku harus selesaikan urusan perkebunan sawit yang dijual PT kemarin," jawab Rama.
"Oh, iya, Rud. Aku akan minta tolong sama kamu mengawasi pekerja yang mengelola kebun sawit itu nantinya," ujar Rama lagi pada Rudi.
"Kamu tenang saja, aku akan bantu kamu sebisa aku," ujar Rudi.
"Hanya kamu sama bang Husein yang aku percaya untuk menghandle kebun itu," ujar Rama lagi.
Rudi mengangguk.
Saat ini Rudi memang merasa sedih karena harus berpisah dengan sahabatnya sejak kecil, selama ini setiap ada masalah dia selalu mengadukan semua yang dihadapinya pada Rama.
"Kalau ada masalah kamu bisa menghubungi aku, atau kamu juga bisa datang ke Bandung," ujar Rama menghibur sahabatnya.
"Haha, aku cuma mau kamu tidak lupa untuk kembali ke sini," pesan Rudi.
"Mana mungkin aku bisa lupa dengan tanah kelahiranku," ujar Rama.
"Satu hal lagi, aku ingin merenovasi rumah peninggalan kedua orang tuaku, agar saat kami pulang ke desa ini kami ada tempat menginap tidak terus-terusan menginap di rumah Uci Desmi," ujar Rama.
"Bagus itu, aku setuju. Jadi, kalau kamu pulang aku tidak harus jauh-jauh ke rumah Uci Desmi," ujar Rudi senang.
Setelah selesai berbicara dengan sahabatnya, Rama pun berpamitan dengan Uci Desmi.
"Uci, terima kasih atas apa yang sudah Uci lakukan untukku selama ini. uji resmi sudah melakukan hal yang lebih dari seorang ibu padaku, jasa Uci tidak akan pernah aku lupakan," lirih Rama.
__ADS_1
Rama pun memeluk wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya, kepergiannya kali ini terasa berbeda dari yang sebelumnya.
Rama memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang kini mulai tak kuat lagi untuk bekerja.
Rama membayangkan saat ini dia tengah memeluk ibu kandungnya sendiri.
Uci desmi pun memeluk tubuh Rama, putra dari sahabatnya. Saat ini dia merasa sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang sahabat menjaga anak semata wayangnya hingga kini tumbuh dewasa dan sudah menikah.
Kali ini Uci desmi mulai menangis dalam pelukan tubuh kekar sang Pemuda desa itu. kehadiran Rama dalam hidupnya membuat dia merasa memiliki keluarga, ditambah saat ini wanita yang dinikahi oleh Rama adalah wanita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Kamu hati-hati di negeri orang ya, Nak. kamu harus bisa menggunakan uang dan harta yang kamu miliki saat ini dengan sebaik-baiknya," nasehat Uci desmi sebelum melepaskan pelukan tubuh Sang Pemuda desa.
Setelah itu Uci Desmi pun berpindah memeluk Diska, wanita kota yang sudah setahun hidup bersamanya yang juga sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Nak, Uci minta tolong sama kamu untuk menjaga Rama dengan sebaik-baiknya. Jika ada masalah, ungkapkan secara terus terang, jangan disimpan di dalam hati karena hanya kerugian yang akan kalian dapatkan." Uci Desmi pun menasehati Diska panjang lebar.
Wanita paruh baya itu tidak ingin kejadian yang menyedihkan terulang kembali di antara mereka, Uci Desmi ingin hubungan Diska dan Rama langgeng hingga maut memisahkan mereka.
"Iya, Uci. Terima kasih atas nasehat yang Uci diberikan, mulai hari ini dan selanjutnya Aku akan berusaha untuk menjauhi kejadian yang sudah pernah terjadi di antara kami," ujar Diska.
Suasana ramai di rumah Uci Desmi seketika hilang begitu saja, kini tinggallah dirinya seorang diri seperti biasanya.
****
Setelah menempuh perjalan yang panjang Keluarga Diska sampai di Bandung dalam keadaan selamat.
Setelah mereka kembali ke Bandung, mereka pun kembali melakukan aktivitas yang mereka lakukan seperti seperti biasanya.
Sebagai seorang dokter, Diska kembali bertugas di rumah sakit tempat dia bekerja, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang juga bekerja sebagai seorang dokter si rumah sakit.
Di saat semua orang sibuk dengan rutinitas mereka, Rama mulai menjalankan perannya sebagai seorang ayah bagi Farel.
Dia menjaga dan merawat Farel dengan baik sehingga pekerjaan Mbak Yuyun berkurang tidak seperti biasanya.
Hal ini membuat mbak Yuyun terlihat bingung karena tugasnya mengasuh Farel sudah tergantikan oleh Rama.
__ADS_1
Meskipun begitu, Diska tidak mau memberhentikan Mbak Yuyun bekerja, karena dia ingin wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu tetap membantunya dalam berbagai hal.
Diska pun memutuskan Mbak Yuyun tetap bekerja di rumahnya membantu bi Suti, tapi dia lebih berperan dalam berbagai hal yang menyangkut dengan Farel.
Hari ini Pak Bayu dan Bu Naina sudah bertugas seperti biasa, saat mereka sedang melaksanakan tugas.
Seorang perawat datang ke ruangan Pak Bayu.
"Maaf, Dok. Saya ingin menyampaikan pesan dari direktur. direktur Rumah sakit ingin bertemu dengan dokter Bayu," ujar si perawat tersebut.
Pak Bayu menghentikan kegiatannya sejenak. Dia terlihat berpikir apa gerangan direktur Rumah sakit memanggil dirinya.
"Baiklah, Sus, terima kasih atas informasinya," ujar Pak Bayu.
sejak kedatangan sang perawat Pak Bayu mulai tidak konsentrasi dengan pekerjaannya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres sehingga dirinya dipanggil oleh direktur rumah sakit.
"Suster, tolong pending pasien selanjutnya. Saya mulai tidak konsentrasi dengan pekerjaan hari ini, mungkin saya merasa kelelahan," ujar Pak Bayu.
"Baik, Dok." Perawat pendamping Pak Bayu dapat merasakan kegelisahan Dokter Bayu.
Dia pun menyelesaikan urusan pasien yang hanya tinggal beberapa orang lagi, sang perawat memindahkan pasien tersebut pada dokter yang lain sesuai dengan spesialis yang dipegang Pak Bayu.
Begitu juga dengan Bu Naina, dia juga mendapat panggilan dari direktur rumah sakit.
Pak Bayu dan Bu Nena kini sedang melangkah menuju ruangan direktur rumah sakit di tempat yang berbeda.
"Mama, apa yang Mama lakukan di sini?" tanya Pak Bayu heran saat mereka sudah berada di depan pintu ruang direktur rumah sakit.
"Hah? direktur Rumah sakit memanggil Mama, Pa. lalu apa yang Bapak lakukan di sini?" tanya Bu Naina.
Sepasang suami istri itu semakin bertanya-tanya tentang apa masalah yang tengah mereka hadapi sehingga direktur Rumah sakit memanggil d
mereka.
Bersambung...
__ADS_1