Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 55


__ADS_3

"Ya sudah, kita masuk dulu saja," ajak Pak Bayu pada istrinya.


Tok tok tok.


Pak Bayu mengetuk pintu ruangan direktu rumah sakit.


"Masuk!" teriak seseorang dengan suara baritonnya.


Pak Bayu dan Bu Naina masuk ke dalam ruangan tersebut.


Di sana tengah duduk Pak Budiman, direktur rumah sakit di kursi kebesarannya.


"Dokter Bayu dan dokter Naina, silakan duduk!" ujar Pak Budiman.


Pria yang sudah berumur itu mengajak sepasang suami istri itu duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


Pak Bayu dan Bu Naina pun duduk di sofa, tepat di hadapan Pak Budiman.


"Maaf, Pak Bayu dan Bu Naina. Saya sudah menyita waktu kalian, tujuan saya hanya minta Pak Bayu dan Bu Naina untuk datang menemui saya adalah ingin menyampaikan surat ini," ujar Pak Budiman sambil mengulurkan dua lembar surat ke tangan Bu Naina dan Pak Bayu.


Sepasang suami istri itu pun mengambil dan membuka amplop surat yang diberikan oleh Pak Budiman.


Mereka membaca isi surat tersebut dengan cermat, keduanya mengernyitkan dahinya heran saat mengetahui isi surat tersebut merupakan surat pemberhentian mereka dari pihak rumah sakit.


Pak Bayu dan Bu Naina saling berpandangan, mereka pun saling menukar surat yang ada di tangan mereka.


Mereka kaget saat mendapatkan surat pemberhentian secara bersamaan.


Mereka pun bertanya-tanya alasan pemecatan mereka di rumah sakit tersebut, padahal mereka sudah bertahun-tahun mengabdi di rumah sakit itu.


"Maaf, Pak, kalau kami boleh tahu apa alasan pihak rumah sakit memberhentikan kami secara mendadak seperti ini?" Pak Bayu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik pemecatan tersebut.


"Pak Bayu dan Bu Naina sudah meminta cuti secara bersamaan dalam waktu dekat secara berturut-turut, pihak rumah sakit merasa dirugikan dengan apa yang sudah Pak Bayu dan Bu Naina lakukan," jawab Pak Budiman.


Pak Bayu dan Bu Naina kembali saling berpandangan, mereka merasa ada yang tidak beres dengan hal ini.


"Baiklah, kalau begitu, Pak. Terima kasih atas kerjasama selama ini, Saya harap ya rumah sakit tidak merasa rugi dengan memberhentikan kami berdua," ujar Pak Bayu tegas.

__ADS_1


Pak Bayu berdiri lalu menarik tangan istrinya untuk mengikuti langkahnya.


Meskipun Bu Naina menolak akan hal yang sudah dilakukan oleh suaminya tapi dia memilih untuk tetap mengikuti sang suami yang keluar dari ruangan direktur rumah sakit.


Dengan penuh amarah Pak Bayu keluar dari ruangan direktur rumah sakit, lalu dia terus melangkah keluar dari kawasan Rumah sakit tersebut.


Sesampai di parkiran, Bu Naina menghentikan langkah suaminya.


"Pa, apa yang kamu lakukan?" tanya Bu Naina protes.


"Seharusnya kita membantah surat pemberhentian tersebut, menurut aku cuti yang kita ambil sudah wajar tidak berlebihan, Mengapa mereka sampai hati memberhentikan kita seperti ini? Ini semua tidak masuk akal, Pa." Bu Naina protes dengan keputusan pihak rumah sakit.


Selama ini mereka selalu berbuat dan bertindak sesuai dengan peraturan yang di terapkan di rumah sakit.


"Sayang, ayo kita pulang, saat ini tidak perlu kita berbuat apapun yang penting bagi kita saat ini adalah mencari lowongan pekerjaan," ujar Pak Bayu.


Pak Bayu meminta istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Mereka sudah keterlaluan, Pa." Bu Naina masih saja tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh pihak rumah sakit terhadap mereka.


"Kamu tenang saja, suatu hari nanti mereka akan menyesal telah melakukan hal ini terhadap kita," ujar Pak Bayu menenangkan istrinya.


"Sayang, kita ini dokter senior. Pak Budiman bisa saja memecat kita dari rumah sakit miliknya, tapi mereka tidak bisa menutup lowongan pekerjaan untuk kita." Pak Bayu merasa hal ini adalah ulah seseorang yang sudah meracuni pikiran Pak Budiman sehingga berani memberhentikan kita sebagai dokter profesional di rumah sakit itu.


"Jika memang kita tidak mendapatkan rumah sakit untuk kita bekerja, kita masih bisa buka praktek," ujar Pak Bayu.


Selama ini Pak Bayu dan Bu Naina hanya bekerja di rumah sakit, mereka sama sekali tidak berminat untuk membuka klinik karena mereka tidak ingin lagi menyibukkan diri setelah kesibukan di rumah sakit.


Bu Naina pun terdiam, dia tidak lagi membantah ucapan sang suami.


Di sepanjang perjalanan Pak Bayu terus berpikir tentang apa sebenarnya yang terjadi di balik peristiwa hari ini.


"ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga kami diberhentikan secara bersamaan? Apakah ada orang yang membenci kami?" gumam Pak Bayu di dalam hati.


Meskipun dia risau tapi dia memperlihatkan ketegarannya di hadapan sang istri agar istrinya tidak cemas.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, Pak Bayu dan Bu Naina tidak bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


Mereka terlihat santai, hal itu membuat Diska bertanya-tanya apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya.


"Ma, Pa, kalian tidak pergi ke rumah sakit?" tanya Diska pada kedua orang tuanya saat mereka sedang berada di ruang makan hendak menyantap sarapan pagi.


Perbedaan tempat bekerja membuat Diska tidak mengetahui berita pemberhentian kedua orang tuanya dari rumah sakit tempat mereka bekerja.


Pak Bayu dan Bu Naina saling melempar pandangan, mereka terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan putrinya.


"Mhm," gumam Bu Naina.


"Kami sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit," jawab Pak Bayu jujur.


Awalnya Pak Bayu ingin menyembunyikan hal ini dari putrinya, tapi setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya dia menyembunyikan hal ini kepada sang putri, lambat laun Diska akan mengetahui pemberhentiannya dengan sendirinya karena dia juga seorang dokter yang bergaul di rumah sakit.


"Apa?" Diska tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh papanya.


"Iya, Sayang. pihak rumah sakit memberhentikan kami secara bersamaan," jelas Bu Naina mengungkapkan kekesalannya pada pihak rumah sakit.


"Ini tidak mungkin, Pa, Ma. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam masalah ini," ujar Diska.


"Entahlah hingga saat ini papa belum dapat mengetahui alasan yang pasti pihak rumah sakit, tapi papa akan berusaha untuk menyelidiki masalah ini," ujar Pak Bayu.


"Aku juga akan menyelidiki masalah ini, semoga mereka malu dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Papa dan Mama," ujar Diska kesal.


Rama yang juga ikut di ruang makan itu hanya bisa diam, karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua mertuanya dan istrinya.


"Terus, Papa ada rencana apa setelah ini?" tanya Diska pada papanya.


"Papa belum tahu akan melakukan apa setelah ini, hanya saja semalam papa sudah berkomunikasi dengan teman lama Papa, dia mengajak Papa bergabung dengannya di rumah sakit miliknya," ujar Pak Bayu.


"Lalu? Apakah Papa menerima tawaran tersebut?" tanya Diska.


"Belum tahu, Papa masih ragu untuk menerima tawaran itu karena lokasi teman Papa jauh dari kota Bandung," jawab Pak Bayu.


"Di mana, Pa?" tanya Diska penasaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2