Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 40


__ADS_3

"Kamu tidak perlu memikirkan bayaran semua ini," jawab Rezi.


"Hah?" Zharin kaget mendengar ucapan Rezi.


"Kamu tidak usah memikirkan biaya ini semua. Saat ini yang harus kamu pikirkan bagaimana ibumu bisa cepat sembuh, " ujar Rezi.


Zharin hanya diam, dia tidak menyangka akan ada seorang malaikat yang membantunya dalam keadaan susah seperti ini.


Walaupun seperti itu, Zharin masih tidak bisa terima bantuan dari Rezi begitu saja, dia tidak ingin berhutang Budi pada siapa pun termasuk Rezi.


"Tidak bisa, aku akan membayar ini semua. Apa pun akan aku lakukan untuk membayar semuanya," ujar Zharin.


Rezi menautkan kedua alisnya melihat keteguhan hati wanita yang kini ada di hadapannya.


Menurut Rezi, Zharin merupakan wanita yang unik berbeda dengan wanita lainnya.


Biasanya para perempuan akan memanfaatkan kondisi ini untuk menghasilkan uang baginya.


"Kamu benar-benar wanita yang berbeda," gumam Rezi di dalam hati.


“Mhm, udah sore aku harus pulang,” ujar Rezi pada Zharin.


Dia melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 17.40.


“Baiklah, tapi kamu datang lagi ke sini, ‘kan? Aku ingin memperhitungkan hutang piutangku padamu,” ujar Zharin.


Terlihat gadis itu masih teguh ingin membayar biaya operasi dan biaya rawat ibunya pada Rezi meskipun dia sendiri tidak tahu harus membayarnya pakai apa.


Sedangkan gajinya menjemur ikan asin satu hari saja hanya 30 ribu rupiah.


“Aku harus mencari pekerjaan yang lain agar aku bisa membayar hutangku pada pria ini, aku harus berusaha lebih giat lagi agar aku tidak berhutang Budi dengan pria ini,” gumam Zharin di dalam hati.


“Baiklah, aku pergi dulu,” ujar Rezi tanpa menjawab pertanyaan Zharin.


Rezi keluar dari ruang rawat ibu Zharin lalu melangkah pulang.


Tiga hari berlalu, Ibu Zharin sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah mulai fit.


Zharin masih diam di ruangan tersebut, suster sudah membersihkan ruangan tersebut, tapi mereka masih berada di ruang rawat itu. Zharin tengah menunggu seseorang datang.


“Di mana dia? Kenapa belum datang juga?” gumam Zharin.


“Rin, kapan kita pulang? Kamu kenapa malah bengong begitu?” tanya Ibu Zharin bingung.


Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar lagi untuk pulang ke rumahnya, dia sudah bosan dengan ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan.


“Iya, Bu. Tapi, aku masih menunggu pria Rezi, tidak mungkin kita pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih padanya,” ujar Zharin.


Setelah Zharin menunggu sekitar satu jam, pria itu datang.


“Kamu dari mana saja?” tanya Zharin menyerang Rezi dengan pertanyaan di saat dia baru saja masuk ruang rawat itu.


Rezi menghela napas panjang.


“Aku baru saja datang, kamu sudah menyerbuku dengan berbagai pertanyaan,” keluh Rezi.

__ADS_1


“Itu karena kami sudah menunggumu selama satu jam,” ujar Zharin.


Rezi tersenyum mendengar jawaban Zharin.


Gadis yang kini dihadapannya itu selalu saja berbicara ceplas-ceplos, dia selalu bersikap apa adanya.


“Ya udah, maaf, tadi aku masih ada pekerjaan,” ujar Rezi meminta maaf pada Rezi.


“Oh, begitu. Ya sudah, berikan nomor hp mu supaya nanti aku bisa menghubungimu,” ujar Zharin.


“Untuk apa?” tanya Rezi heran.


“Supaya aku bisa mencarimu untuk membayar semua hutangku padamu, aku tidak mau berhutang Budi pada orang yang baru saja aku kenal,” jawab Zharin jujur.


“Ayo, aku antar pulang,” ujar Rezi.


Rezi mengabaikan ucapan Zharin. Dia pun mengambil tas yang berusia perlengkapan Ibu Zharin.


Zharin ingin protes tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sendiri masih butuh bantuan Rezi.


Mau tak mau mereka mengikuti langkah Rezi keluar dari rumah sakit.


Rezi memasukkan tas milik yang dibawanya ke dalam mobil.


Zharin terpukau dengan mobil milik Rezi, dari situ dia menyadari bahwa Rezi bukanlah sembarang orang.


"Dia pasti orang kaya," gumam Zharin yang kini mematung di samping mobil.


"Hei, ayo masuk!" ajak Rezi.


Ibu Zharin merasa heran dengan sikap baik Rezi pada mereka. Padahal mereka tidak mengenal sosok pria yang sudah membantunya.


"Hei, ayo!" ujar Rezi.


Rezi menjentikkan jarinya di depan wajah gadis itu.


"Eh, iya." Zharin pun membantu ibunya masuk ke dalam mobil Rezi.


Setelah itu dia duduk di samping ibunya.


"Hei, aku ini bukan sopirmu, pindah ke depan!" perintah Rezi pada Zharin.


"Hah? Duduk di depan?" tanya Zharin bingung.


Dia merasa tidak enak duduk di depan, karena dia tidak pernah naik mobil mewah.


"Iya, duduk di depan." Rezi menarik tangan Zharin lalu meminta gadis itu untuk duduk di bangku d Pat tepat di sampingnya.


Setelah memastikan Zharin dan ibunya duduk aman di dalam mobilnya, Rezi pun mulai melajukan mobilnya mengantarkan Zharin dan ibunya ke rumah mereka.


Sepanjang perjalanan tak seorang pun yang bersuara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Satu jam perjalanan mereka sampai di kawasan pesisir pantai. Rezi belum pernah ke rumah Zharin, jadi dia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Zharin.


"Mobil cuma bisa sampai sini," ujar Zharin.

__ADS_1


"Lalu rumahnya di mana?" tanya Rezi pada Zharin.


"Itu, masih masuk gang lagu," jawab Zharin.


"Ayo, mampir dulu, Nak," lirih Ibu Zharin menawarkan Rezi datang ke rumahnya.


"Iya, Bu," sahut Rezi ramah.


Mereka pun turun dari mobil, Rezi membantu Zharin membawakan tas kecil yang berisi pakaian mereka sat berada di rumah sakit.


Tak berapa lama mereka berjalan kaki, mereka sampai di sebuah rumah kecil terbuat dari papan.


"Maaf ya, Nak. Rumah kami jelek," ujar Ibu Zharin.


"Ah, tidak apa-apa, Bu." Rezi tersenyum.


Rezi merasa prihatin saat melihat kehidupan ini dan anak itu, ada rasa kasihan yang menyelinap di hatinya.


Dia tidak menyangka, gadis yang penampilannya yang selalu acak-acakan itu memiliki kehidupan yang amat sulit.


Tanpa di sadari ya, air mata menggenang di pelupuk matanya. Rezi masih berusaha menahan air matanya agar Zharin dan ibunya tidak menyadari kalau dia menangis.


"Ayo, masuk," ajak Ibu Zharin.


Ibu Zharin bergegas mengambil sebuah tikar anyam yang ada di belakang pintu.


"Nak Rezi duduk dulu, ya," ujar Ibu Zharin setelah menggelar tikar yang lusuh itu di lantai.


Rezi tersenyum lalu duduk di tikar tersebut.


"Rin, pergi beli teh dan buatkan air teh untuk Nak Rezi." Ibu Zharin menyuruh putrinya untuk pergi ke warung.


"Iya, Bu." Zharin pun hendak melangkah.


"Rin," panggil Rezi.


"Kalian tidak usah repot-repot. Aku tidak lama," ujar Rezi pada Zharin.


Dia tidak mau merepotkan ibu dan anak itu.


"Tapi," lirih Zharin.


"Tidak apa-apa, mungkin aku harus pergi dulu," ujar Rezi.


Rezi takut kedatangannya di rumah Zharin akan merepotkan ibu dan anak itu.


"Tidak, kamu jangan pergi dulu. Beritahu aku nomor ponselmu. Aku akan tetap membayar uangmu yang sudah terpakai untuk perawatan ibu," ujar Zharin.


"Baiklah, kalau begitu." Rezi pun mengambil pulpen di saku bajunya.


Dia menuliskan beberapa angka di tangan gadis itu.


"Aku akan tunggu kedatanganmu," ujar Rezi.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2