
Sepanjang perjalanan Diska mengenang masa-masa indah yang dilaluinya bersama Rama.
Tanpa disadarinya, mobil yang dikendarai oleh suami Gina pun berhenti di depan rumah Uci Desmi.
Gina dan suaminya juga sudah pernah ke rumah Uci Desmi sehingga mereka sudah tahu rumah yang menjadi tempat tinggal Diska selama dia berada di desa Tanjung sekitar 3 tahun yang lalu.
"Kak, udah sampai, ya?" lirih Diska tak percaya kini dia sudah berada di depan rumah Uci Desmi.
Mereka turun dari mobil, suami Gina membantu Mbak Yuyun mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam mobil.
Seorang tetangga Uci Desmi melihat kedatangan Diska dari kejauhan, dia penasaran dengan siapa yang datang mengunjungi rumah Uci Desmi. Terlebih melihat mereka menurunkan barang-barang bawaan yang banyak.
"Siapa yang datang mengunjungi Uci Desmi, ya?" gumam si tetangga penasaran.
Uci Desmi yang sedang asyik menjahit di depan TV mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Dia pun mulai penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya, pasalnya beberapa tahun ini tak ada yang berkunjung ke rumahnya.
Wanita paruh baya itu tinggal seorang diri sejak ditinggal oleh Diska 3 tahun yang lalu.
Uci Desmi membuka pintu, dia melihat tamu yang datang.
Samar-samar Uci Desmi melihat Diska yang melangkah menghampiri dirinya sambil menggendong Farel.
"Di-dis-ka," lirih Uci Desmi surprise saat melihat Diska kini berada di hadapannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Diska.
Dia langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang kini sedang menangis. Uci Desmi menangis bahagia karena bisa bertemu kembali dengan gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Wa'alaikummussalam," lirih Uci Desmi dalam pelukan Diska.
Farel melihat heran pada wanita paruh baya yang baru saja dilihatnya.
"Ya ampun, Nak. Uci kangen sekali sama kamu," ujar Uci Desmi pada Diska.
Dia mengurai pelukannya dari Diska lalu menatap ke arah Farel.
"Kamu sudah menikah? Ini anakmu?" tanya Uci Desmi menatap Farel.
Uci Desmi pun mengambil Farel dari gendongan Uci Desmi.
"Bun-nda," lirih Farel cemas.
__ADS_1
Dia masih merasa asing dengan wanita yang seumuran dengan neneknya itu.
"Cup, cup. Sama nenek ya, Nak," bujuk Uci Desmi.
Gina dan suaminya serta Mbak Yuyun menatap terharu dengan pertemuan antara Uci Desmi dan Diska.
"Ayo masuk," ajak Uci Desmi mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumahnya.
"Uci, aku sama Gina langsung balik, ya. Kami masih ada pekerjaan, kami ke sini cuma mengantarkan Diska saja," ujar suami Gina, Faisal.
Faisal masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Uci Desmi jadi mereka sudah sangat akrab.
"Lho, kok gitu. Ayolah masuk dulu," ajak Uci Desmi.
"Hari Minggu kami datang ke sini lagi, hari ini banyak pekerjaan yang harus Kamis selesaikan," ujar Faisal.
"Ya udah, kalau begitu. Tapi beneran, ya. Hari Minggu Uci tunggu, kita makan bersama di sini," ujar Uci Desmi tidak bisa menahan kepergian Gina dan suaminya.
Mereka pun melepas kepergian Gina dan Faisal, setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah Uci Desmi.
Di ruang tamu, Uci Desmi melihat ke arah wanita yang berumur lebih tua dari Diska, tapi masih terlihat muda.
"Oh, iya, Uci. Kenalkan ini Mbak Yuyun, Mbak Yuyun teman aku yang selalu bantuin aku merawat Farel," ujar Diska memperkenalkan Mbak Yuyun pada Uci Desmi.
"Salam kenal, Uci." Mbak Yuyun mengulurkan tangannya ke arah Uci Desmi.
Mereka pun mengobrol sejenak melepas rasa rindu yang telah memuncak setelah 3 tahun berpisah.
Uci Desmi enggan memberitahukan ke adaan Rama pada Diska karena Uci Desmi tidak ingin merusak rumah tangga Diska karena dia mengira Diska sudah menikah dan memiliki seorang anak dari pernikahan itu.
"Eh, iya. Kamu istirahat dulu di kamar, Dis. Biar Uci masak dulu buat makan kalian," ujar Uci Desmi.
"Jangan repot-repot, Ci. Kami udah makan di tempat kak Gina tadi," ujar Diska.
"Ya, walaupun begitu, nanti siang kita juga harus makan," ujar Uci Desmi.
"Ya udah, kalau begitu. Mbak Yuyun, ayo kita masuk ke kamar. Sepertinya Farel masih lelah karena perjalanan kemarin." Fiska mengajak Mbak Yuyun untuk masuk ke dalam kamar yang biasanya ditempati oleh Diska selama dia berada di rumah Uci Desmi.
Mbak Yuyun membawa barang-barang mereka masuk ke dalam kamar.
Sementara itu uji desmi melangkah menuju dapur, dia mulai memeriksa persediaan bahan masak yang ada di dalam kulkas.
Di dalam kamar, Diska membaringkan Farel di atas tempat tidur, setelah itu dia pun membuat sebotol susu untuk putranya. Berharap Farel bisa tidur agar dia beristirahat.
__ADS_1
"Mbak Yuyun kalau mbak Yuyun mau tidur, tidur aja dulu, Mbak Yuyun pasti juga capek, kan?" ujar Diska pada Mbak Yuyun.
Diska merasa kasihan pada Mbak Yuyun yang sudah melewati perjalanan jauh karena ulahnya.
"Iya, Nona. Mbak Yuyun capek banget," ujar Mbak Yuyun jujur.
"Ya udah, Mbak Yuyun jagain Farel dulu, ya. Aku mau bantuin Uci Desmi masak dulu," ujar Diska.
"Tapi, Nona. Kalau tidak Nona saja yang istirahat," ujar Mbak Yuyun tidak enak hati.
"Enggak apa-apa, Mbak. Tugas mbak Yuyun cuma jagain Farel, sepertinya Farel udah ngantuk," ujar Diska.
"Oh, ya udah kalau gitu," lirih Mbak Yuyun.
Setelah itu, Mbak Yuyun membaringkan tubuhnya di samping Farel. Sedangkan Diska keluar dari kamar menghampiri Uci Desmi di dapur.
"Mau masak apa, Ci?" tanya Diska saat dia sudah berada di dapur.
"Eh, kamu enggak jadi istirahat?" tanya Uci Desmi mengabaikan pertanyaan dari Diska.
"Enggak, Ci. Aku masih segar, kok." Diska tersenyum melihat Uci Desmi yang masih terlihat sehat dan bugar meskipun usianya mulai senja.
"Mau masak apa, Ci?" tanya Diska mengulangi pertanyaannya.
"Mhm, ini ada ikan laut yang sudah disale (ikan yang dikeringkan dengan cara di bakar dengan bara api tanpa di beri bumbu apa pun). Kamu mau kan ikan itu digulai?" jawab Uci Desmi.
"Mau, ci. Udah lama aku enggak makan gulai seperti itu," jawab Diska.
"Nanti kita campur dengan daun singkong," ujar Uci Desmi lagi.
"Wah pasti enak, aku kangen masakan sini, Ci." Diska sudah tak sabar menikmati gulai khas penduduk Pasaman Barat itu.
"Ya udah, kamu tunggu di sini, Uci mau beli cabe dulu, ya. Kebetulan persediaan cabe Uci sudah habis," ujar Uci Desmi.
"Aku aja yang belinya, Ci. Di warung Bu Soimah, kan," ujar Diska.
"Enggak usah, Uci saja." Uci Desmi merasa tidak enak menyuruh Diska karena wanita kota itu baru saja sampai.
"Aku aja, deh. Aku kangen lihat suasana desa," ujar Diska.
Setelah itu Diska pun melangkah menuju warung Bu Soimah, warung itu merupakan warung terdekat dari rumah Uci Desmi.
Saat di perjalanan menuju warung Bu Soimah, Diska berpapasan dengan seorang pria yang berpenampilan lusuh dan acak-acakan.
__ADS_1
Bersambung...