
“Ada apa, Bi?” tanya Diska panik.
Melihat ekspresi PRT di rumahnya, Diska merasa ada sesuatu yang terjadi.
“Nona, Bapak dan Ibu,” ujar Bi Mun pada Diska.
“Ada apa sama mama dan Papa?” tanya Diska mulai cemas.
“Bapak dan Ibu sekarang mengalami kecelakaan,” jawab Bi Mun.
“Kecelakaan?” Diska shock mendengar kabar yang menimpa kedua orang tuanya.
“Lalu sekarang mama dan papa di mana?” tanya Diska lagi.
“Bapak dan Ibu di rumah sakit, Nona,” jawab Bi Mun.
“Kita langsung ke rumah sakit aja,” ujar Diska.
Bi bilang sama pak Karto buat keluarkan mobilku,” perintah Diska pada Bi Mun.
“Baik, Nona.” Bi Mun pun bergegas melangkah ke belakang untuk memberitahukan Pak Karto untuk mengeluarkan mobil milik Diska.
“Mbak, Yuyun. Mbak Yuyun di sini aja dulu sama Farel, ya. Aku ke rumah sakit sama Bang Rama aja,” ujar Diska.
Diska takut membawa Farel ke rumah sakit saat ini karena dia tahu pasti pangeran kecilnya sudah kelelahan menempuh perjalanan jauh.
“Iya, Nona.” Mbak Yuyun mengambil Farel dari gendongan Rama.
“Den Farel sama Mbak Yuyun dulu, ya. Bunda sama ayah mau lihat nenek dan kakek di rumah sakit,” bujuk Mbak Yuyun.
Awalnya Farel enggak mau, akhirnya setelah ada drama menangis, Farel pun mau tinggal dengan Mbak Yuyun.
Mbak Yuyun membawa Farel ke dalam rumah, sementara itu Diska meminta Bi Mun untuk membawakan barang-barang mereka masuk setelah pak Karto memarkirkan mobil di depan pintu rumah.
“Bi Mun, barang yang ini simpan di kamar tamu dulu, ya,” ujar Diska menunjuk ke barang-barang milik Rama.
“Baik, Nona.” Bi Mun mengangguk paham.
Setelah itu Diska dan Rama pun naik ke dalam mobil. Diska masuk melalui pintu kemudi sedangkan Rama masuk di pintu bagian depan tepat di samping pengemudi. Awalnya Rama ingin menawarkan diri untuk mengendarai mobil, tapi dia takut salah karena sudah lama tidak membawa mobil.
Diska melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Dek, tenangkan dirimu. Tidak perlu ngebut seperti itu, ingat Farel masih membutuhkan kita,” ujar Rama mengingatkan Diska untuk mengurangi kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rama, Diska pun sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Dia mulai mengurangi kecepatannya.
“Kalau kamu sedang panik seperti itu, biar aku yang bawa mobil,” ujar Rama menawarkan diri.
Seketika Diska teringat bahwa Rama pernah pandai membawa mobil, dia sudah melupakan hal itu.
“Tidak usah, biar aku saja yang bawa mobil, lagian sebentar lagi kita sampai di rumah sakit tempat mama dan papa dirawat.” Diska menolak tawaran Rama.
Memang benar, tak berapa menit setelah itu, Diska membelokkan setir mobilnya ke kawasan rumah sakit tempat Diska bekerja.
Diska memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dokter, setelah itu mereka turun dari mobil. Diska melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit. Rama pun mengiringi langkah Diska,
“Dokter, Diska!” seru salah seorang perawat yang melangkah di lorong rumah sakit.
“Bagaimana keadaan Mama dan papa?” tanya Diska langsung pada perawat yang tadi menyapa Diska.
“Mari, Dokter, ikut saya,” ujar sang perawat .
Perawat itu menuntun Diska menuju ruang rawat kedua orang tua Diska. Tak berapa lama mereka pun sampai di sebuah ruang rawat pasien, di sana terlihat dua brangkar pasien yang berjajar. Terlihat kedua orang tua Diska terbaring lemah di sana.
Mata Diska tertuju pada tubuh ayahnya yang dipasang beberapa alat medis di tubuhnya. Diska juga melihat Rezi yang berada di ruangan tersebut.
“Mama, papa,” lirih Diska.
Rezi yang sedang asyik memegang ponselnya langsung menoleh ke arah asal suara wanita yang dicintainya itu.
Mata Rezi langsung tertuju pada Rama melangkah beriringan dengan Diska.
“Kamu ke mana saja?” tanya Rezi kesal pada Diska yangs elama ini tidak bisa dihubunginya.
“Bagaimana keadaan Papa dan Mama?” tanya Diska.
Diska mengabaikan pertanyaan Rezi.
Rezi pun menoleh ke arah Pak bayu.
“Om Bayu masih dalam keadaan kritis, sedangkan Tante Naina sudah sadar, sekarang beliau sedang istirahat.” Rezi menjelaskan keadaan kedua orang tua Diska saat ini.
“Dis-dis-ka,” lirih bu Naina saat mendengar suara putrinya.
“Mama,” lirih Diska.
Diska langsung menghampiri mamanya.
__ADS_1
“Ma, maafkan Diska yang sudah pergi tanpa izin dari mama dan papa,” ujar Diska merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.
“Diska, ka-pan ka-mu datang?” tanya Bu Naina pada putrinya.
Dia merasa senang akhirnya putri satu-satunya kembali.
Bu Naina sempat berpikir putrinya tidak akan kembali karena ulah sang suami yang sudah berani menampar putrinya hanya karena Diska membantah keinginan mereka.
“Aku baru datang, Ma,” jawab Diska.
Setelah itu tatapan Bu Naina tertuju pada Rama yang berdiri di ujung tempat tidurnya. Pria asing baginya itu berdiri menatapnya dengan tatapan penuh prihatin.
“Si-siapa dia?” tanya Bu Naina penasaran dengan pria asing yang berada di dalam ruang rawatnya.
“Ma, ini Bang Rama. Dia ayahnya Farel,” jawab Diska jujur.
Kedua orang tuanya juga sudah tahu kesalahan yang sudah dilakukannya dengan sang pemuda desa itu.
“A-apa?” lirih Bu Naina tidak percaya.
Rezi kaget mendengar jawaban Diska, dia tak menyangka Diska akan membawa pria yang dicintainya itu ke hadapan kedua orang tuanya meskipun kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungan mereka.
Rezi merasa usahanya selama ini selalu berada mendampingi Diska dan Farel sepanjang waktu akan sia-sia. Seketika harapan yang dipendam Rezi terhadap Diska pupuslah sudah.
“Iya, Ma. Dia ayahnya Farel, dia ke sini ingin bertemu mama dan papa,” jawab Diska.
Rezi hanya diam mendengar ucapan Diska, sedangkan Rama menyapa Bu Naina dengan ramah.
“Salam kenal, tante,” lirih Rama dengan sopan.
Bu Naina belum menanggapi sikap Rama, saat ini dia masih perlu berpikir dengan matang untuk memberi izin atas hubungan putrinya dengan pemuda yang dibawanya.
Bu Naina juga harus berunding dengan suaminya untuk mengambil keputusan itu, Bu Naina tidak ingin di kemudian hari ada penyesalan baginya.
Rama dapat mengerti dengan sikap mama Diska. Dia sudah membayangkan hal ini.
Rama juga sudah menyiapkan mental untuk menerima perlakuan kedua orang tua Diska yang akan menolaknya.
Rama masih tetap mengembangkan senyumannya di hadapan Mama Diska dan Rezi.
"Kelihatannya pria ini memang pria yang baik, wajar saja Diska tidak bisa berpaling darinya. Wajahnya yang teduh membuat hati terasa tenang saat memandangnya," gumam Rezi di dalam hati.
Sebagai sahabat Diska, Rezi dapat melihat aura yang tersimpan pada diri sang pemuda desa itu.
__ADS_1
"Di-dis-ka," lirih Pak Bayu.
Bersambung...