Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 75


__ADS_3

"Rudi," panggil Uci Desmi.


Dua insan yang kini terpaku saling menatap tersadar dari pikiran panjang mereka.


"Eh, iya, Ci." Rudi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Yuyun tertunduk karena malu kedapatan saling bertatapan dengan pria yang masih berdiri di hadapannya.


"Kenapa cuma berdiri di situ, ayo masuk!" ajak Uci Desmi.


Yuyun pun melangkah mundur, membiarkan Rudi masuk ke dalam rumah Uci Desmi.


Yuyun melihat mereka duduk di kursi tamu, dia masih diam bingung harus bagaimana.


Dia ragu antara ikut duduk atau pergi dari sana.


"Mhm, aku ke belakang dulu," lirih Yuyun.


Wanita itu hendak melangkah meninggalkan Uci Desmi bersama Rudi.


"Yun," panggil Rudi.


Seketika Yuyun menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya, dan menatap Rudi.


"Mhm," gumam Yuyun.


"Aku mau ajak kamu jalan, kamu bisa ikut?" tanya Rudi pada Yuyun.


"Hah?" lirih Yuyun bingung harus menjawab apa.


Saat ini dia masih memiliki tugas menjaga Farel, karena Diska dan Rama belum pulang.


Meskipun Rama sudah kembali tadi sebentar, kini dia sedang menjemput Diska ke Silaping.


"Pergilah, Farrel biar Uci yang jaga," ujar Uci Desmi.


Wanita paruh baya itu tahu, saat ini Rudi dan Yuyun butuh waktu berdua untuk membahas kelanjutan ucapan Rudi semalam.


"Mhm," gumam Yuyun lagi bingung.


"Pergilah, jangan khawatirkan Farel, lagian sebentar lagi Diska dan Rama juga pulang," ujar Uci Desmi lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku ganti pakaian terlebih dahulu," ujar Yuyun.


"Baiklah, aku akan menunggumu," ujar Rudi.


Rudi pun tersenyum pada Yuyun, saat itu Yuyun merasa senyuman Rudi jauh berbeda dari sebelumnya, senyuman Rudi membuat hati Yuyun bergetar.

__ADS_1


Yuyun melangkah masuk ke dalam kamar, lalu dia mengganti baju tidurnya dengan sebuah blouse dan rok crinkle, stylish Mbak Yuyun terlihat biasa saja, karena dia jauh berbeda dengan Diska.


Yuyun yang hanya seorang gadis kampung hanya bisa berpenampilan sederhana, dia tidak biasa mengikuti model anak muda saat ini.


Mbak Yuyun juga tidak lupa dengan hijab segiempat. Dia membalut kepalanya dengan hijab segi empat itu dengan sederhana tanpa digaya.


Yuyun tidak percaya diri dengan gaya anak muda saat ini, dia lebih nyaman berpenampilan apa adanya.


Yuyun melangkah keluar dan menemui Rudi, pria muda itu senang melihat Yuyun dengan pakaiannya yang tertutup,


"Udah, siap? Ayo, berangkat!" ajak Rudi.


Rudi pun berdiri dari duduknya, setelah itu mereka minta izin pada Uci Desmi untuk berangkat.


Mereka melangkah keluar rumah, Rudi berjalan di depan dan Yuyun melangkah dibelakangnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Yuyun saat dia sudah duduk di boncengan


Dia penasaran sang pemuda desa itu akan membawa dirinya ke mana.


"Kamu tenang saja, yang penting aku enggak culik kamu kok," ujar Rudi sebelum melajukan sepeda motornya.


Setelah itu Rudi pun melajukan sepeda motornya, dia membawa Yuyun ke sebuah cafe yang terletak di daerah Silaping.


Di sepanjang perjalanan, Yuyun hanya diam sibuk dengan pikirannya yang kini tengah berkecamuk.


"Kita sampai," ujar Rudi saat menghentikan sepeda motornya di depan sebuah cafe yang terletak di puncak patung kuda daerah desa Silaping.


Mereka turun dari sepeda motor, lalu melangkah masuk ke dalam kafe itu.


Mereka memilih duduk di sebuah gazebo yang terletak di bagian puncak sisi cafe itu.


Dari gazebo tersebut mereka dapat melihat pemandangan yang sangat indah.


Terlihat pemandangan hutan belantara yang mana Di sana mengalir aliran sungai yang jernih.


Tempat itu mereka juga dapat melihat beberapa rumah penduduk.


"Pemandangan di sini memang sangat indah," ujar Rudi saat melihat Yuyun terpesona dengan keindahan yang ada di hadapannya.


Mereka duduk di bangku yang terdapat di gazebo tersebut.


Tempat ini juga pernah dikunjungi oleh Rama dan Diska, saat Diska masih mengabdi di Desa Tanjung.


"Iya, Indah sekali. Pemandangan alam memang sangat indah untuk dinikmati," ujar Yuyun.


Tak berapa lama mereka duduk di gazebo itu, seorang pelayan datang menghampiri mereka sambil membawakan sebuah list menu makanan yang tersedia di cafe itu.

__ADS_1


"Permisi, Kak, Bang. Mau pesan apa?" tanya si pelayan sambil mengulurkan list menu kepada mereka.


Rudi menerima list menu yang diberikan oleh pelayan tersebut.


Dia memberikan Krishna itu kepada Yuyun.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Rudi kepada Yuyun.


Yuyun melihat beberapa menu yang terpapar di list tersebut.


"Aku pesan mie rebus aja sama es teh," jawab Yuyun.


"Oh, ya udah, Bang. Pesan mie rebusnya 2 dan es tehnya 2," ujar Rudi kepada pelayan.


"Baiklah, tunggu sebentar ya Bang, Kak." Si pelayan itu pun meninggalkan mereka berdua.


"Yun," lirih Rudi memanggil Yuyun mati keindahan alam yang ada di hadapannya.


Yuyun menoleh ke arah Rudi. Dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang kini ada di hadapannya.


"Aku ingin membahas apa yang sudah aku bicarakan kemarin malam," ujar Rudi langsung.


Yuyun masih diam, dia terus menunggu kata-kata yang akan dilontarkan oleh Rudi.


"Kita bukanlah anak muda lagi, kita berdua sama-sama sudah berumur. Tidak ada waktu untuk berpacaran atau apalah namanya." Rudi menghela napas panjang.


Dia menjeda ucapannya sejenak, sambil memperhatikan reaksi dari wanita yang kini masih saja diam di hadapannya.


"Jika kamu menerima lamaranku yang secara mendadak itu, aku akan langsung menikahi dirimu," ujar Rudi mantap.


Rudi terlihat benar-benar serius dengan ucapannya kemarin malam. Tidak ada sedikitpun keraguan lagi baginya dalam meminang wanita yang sudah 3 tahun mengabdi dengan Diska sebagai pengasuh putranya.


Rudi berani meminang Yuyun karena dia juga sudah tahu bagaimana kondisi Yuyun, wanita yang hidup sebatang kara, hal ini akan mempermudah dirinya untuk menikahi gadis itu.


Dia tidak perlu repot-repot mencari kedua orang tua Yuyun ke desanya karena orang tua Yuyun sudah meninggal dunia.


Yuyun menatap dalam wajah pria yang tidak kalah tampan dari Rama, dia mencoba mencari keseriusan di mata Rudi.


"Baiklah, kalau kamu memang ingin menikahiku. Aku akan menerima lamaranmu, walaupun saat ini hatiku belum merasakan apa-apa terhadapmu, tidak ada salahnya kita saling belajar untuk mencintai," ujar Yuyun.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku akan mengurus berbagai hal mengenai pernikahan kita secepatnya, tapi mungkin aku tidak bisa mengadakan pernikahan yang mewah seperti pernikahan Rama dan Diska," ujar Rudi berharap Yuyun menerima kekurangannya.


"Aku mengerti hal itu, yang penting bukanlah resepsinya tapi, akad nikahnya." Yuyun menjawab dengan bijak ucapan dari Rudi.


Akhirnya mereka pun sepakat untuk menikah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2