Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 8


__ADS_3

"Iya, Zi. Om tidak tahu Diska pergi ke mana. Makanya Om tanya sama kamu," ujar Pak Bayu semakin khawatir karena Rezi tidak tahu keberadaan putrinya.


"Om sudah coba hubungi ponsel Diska?" tanya Rezi pada papa wanita yang dicintainya.


"Sudah, Zi. Nomornya enggak aktif," jawab Pak Bayu.


"Nomor mbak Yuyun gimana, Om?" tanya Rezi lagi.


"Eh, iya. Om sampai lupa mau hubungi Mbak Yuyun. Ya udah, om coba lagi hubungi Mbak Yuyun," ujar Pak Bayu.


"Ya udah, Om. Kalau ada apa-apa, Om hubungi aku lagi aja," ujar Rezi dengan senang hati ingin membantu Pak Bayu.


"Iya, Zi. Nanti om hubungi kami lagi, ya," ujar Pak Bayu.


Pak Bayu langsung memutuskan panggilan tersebut.


Dia langsung mencari kontak Mbak Yuyun lalu menekan tombol dial, untuk menelpon pengasuh cucunya.


Namun, usaha yang dilakukannya sia-sia, nomor ponsel Mbak Yuyun juga tidak aktif. Sama dengan Diska.


"Bagaimana, Pa?" tanya Bu Naina mulai mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Ini semua salah papa, coba Papa tadi bisa menahan diri untuk tidak menampar Diska, saat ini Putri kita pasti merasa sedih mendapat tamparan dari ayah yang disayanginya," ujar Bu Naina menyalahkan suaminya yang sudah berbuat kasar kepada putrinya tadi pagi.


"Tapi, dia juga harus nurut perkataan kita. Diska sudah salah tidak mau menerima pria yang kita pilihkan untuk dia, padahal pria itu adalah pria yang selalu mendampinginya mulai dari hancurnya kehidupan dia hingga saat ini," ujar Pak Bayu kecewa dengan sikap putrinya.


"Tapi, Pa. seharusnya kita berbicara baik-baik dengannya, agar dia bisa menerima saran atau nasehat dari kita bukan menggunakan kekerasan seperti tadi, Pa," ujar Naina lagi menasehati sang suami dapat menyadari kesalahannya.


"Sama saja, Ma. Dia sudah bikin malu papa di depan teman papa," bantah Pak Bayu.


"Papa, kalau dibilangin itu jangan ngebantah. Mama sebagai seorang ibu tidak terima putri mama dipukul, meskipun ayahnya yang melakukan hal itu," ujar Bu Naina kesal pada suaminya.


Bu Naina pun melangkah meninggalkan suami yang masih panik mencari tahu keberadaan sang putri.


Pak Bayu kembali menghubungi Rezi, dia meminta bantuan Rezi untuk mencari tahu keberadaan Diska.


Pak Bayu sangat percaya pada putra temannya itu karena selama ini Rezi selalu menjadi orang terdekat bagi Diska.


"Om, tenang dulu, ya, aku akan coba cari tahu keberadaan Diska dari teman-teman terdekatnya. Mana tahu Diska bersama tamannya," ujar Rezi menyanggupi permintaan Pak Bayu untuk mencari keberadaan Diska saat ini.


"Terima kasih, Zi. Hanya kamu yang bisa om harapkan untuk mencari Diska, karena om yakin kamu pasti bisa menemukan Diska secepatnya." Pak Bayu memberi kepercayaan pada Rezi.

__ADS_1


Setelah itu panggilan terputus, Rezi membuka media sosial Diska, dia akan mencari tahu keberadaan Diska melalu media sosial karena Rezi tidak dapat menghubungi Diska melalui nomor ponselnya.


Rezi terus berusaha mencari tahu keberadaan Diska, mulai dari face*ook, Insta*ram, atau media sosial lainnya. Namun, semua usaha yang dilakukan Rezi nihil.


"Kamu ke mana sih, Dis? Kalau ada masalah kamu kan bisa cerita sama aku, apakah kamu sekarang sudah mulai membenciku?" gumam Rezi putus asa.


Malam semakin larut, Rezi masih saja sibuk menghubungi teman-teman Diska, satu per satu ditanyai Rezi tentang keberadaan Diska, tapi tak seorang pun yang memberikan jawaban yang memuaskan.


Keesokan harinya.


Diska bangun saat terdengar suara azan pertama, dia turun dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Kamu udah bangun, Dis? tanya kak Gina yang sudah berada di dapur sedang memasak.


Malam tadi Diska menginap di rumah Gina, dan paginya dia akan berangkat ke desa Tanjung dengan diantarkan oleh suami Gina.


"Iya, Kak. Ini azan pertama atau azan kedua, Kak?" tanya Diska.


Diska teringat bahwa di desa Ranah batahan itu azan Subuh nya dikumandangkan sebanyak 2 kali. Yang mana azan pertama berfungsi untuk membangunkan masyarakat, sedangkan azan kedua menandakan waktu subuh sudah masuk.


"Azan pertama, Dis," jawab Gina.


"Iya," lirih Gina.


Gina sangat senang bisa bertemu kembali dengan Diska, 3 tahun tak berjumpa membuat dia merindukan wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya.


Setelah shalat subuh, Diska melihat Farel masih terlelap, dia pun memilih keluar dari kamar, dia hendak membantu Gina di dapur.


"Mau masak apa, Kak?" tanya Diska pada Gina yang sibuk memotong-motong sayuran.


"Mhm, mau bikin sayur lodeh sama ikan bakar kunyit," jawab Gina.


"Wah enak, dong. Sini aku bantuin, Kak," ujar Diska.


"Eh, enggak usah repot-repot. Kamu pasti masih capek perjalanan jauh," ujar Gina melarang Diska untuk membantunya.


"Tapi, Kak." Diska mengotot untuk membantu Gina.


"Kamu duduk saja di sini," ujar Gina sambil menyuruh Diska duduk di kursi meja makan.


"Jadi kamu sudah berpisah dengan ayahnya Farel?" tanya Gina penasaran dengan kehidupan rumah tangga Diska.

__ADS_1


"Iya, Kak." Diska hanya mengangguk.


"Kok, bisa?" tanya Gina lagi.


"Ya, jodohnya hanya sampai di situ, Kak," jawab Diska.


Diska tidak memberitahukan apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya, karena baginya itu merupakan aib dirinya dan aib keluarganya.


Selama ini mereka selalu mengatakan sudah menikahkan Diska secara diam-diam karena sesuatu hal, tapi satu bulan pernikahan suami Diska pergi begitu saja.


Begitulah alasan yang diberikan keluarga Bayu pada rekan-rekan satu profesi dengannya, agar mereka tidak menanggung malu atas perbuatan dosa yang sudah dilakukan oleh Diska.


"Nona, Farel sudah bangun," ujar Mbak Yuyun memanggil Diska.


"Oh, iya, Mbak. Farelnya bawa ke sini aja," perintah Diska pada Mbak Yuyun.


****


Usai sarapan, Gina dan suaminya sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Diska ke desa Tanjung.


Mereka sengaja berangkat agak pagi karena suami Gina akan berangkat bekerja.


Gina sengaja menawarkan diri untuk mengantarkan Diska karena dia tahu Diska pasti kebingungan mencari ojek yang bisa menjemputnya ke desa Silaping.


Di sepanjang perjalanan jantung Diska berdegup dengan kencang. Saat ini hatinya senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Uci Desmi.


Di samping itu hatinya juga terluka membayangkan Rama sudah hidup bahagia dengan Annisa lalu sudah memiliki anak. Hatinya akan hancur berkeping-keping saat melihat langsung Rama bersama keluarganya.


"Kamu mau ketemu sama Rama juga, Dis?" tanya Gina.


Gina sengaja mengajak bicara Diska agar perjalanan tak terasa lama.


"Mhm, entahlah kak. Sepertinya aku tidak sanggup untuk bertemu dengan Rama," jawab Diska.


"Kamu belum tahu,--"


"Sayang tolong tutup jendelanya kasihan farel kedinginan," ujar suami Gina mengalihkan pembicaraan.


Suami Gina tidak ingin istrinya memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada Rama. Dia ingin Diska mengetahui hal itu dengan sendirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2