
Rezi keluar dari ruang prakteknya setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter.
Dia membuka ponselnya lalu menghubungi temannya yang sudah dipercayakannya untuk mencari tahu keberadaan Diska saat ini.
"Halo," ujar Rezi saat panggilan sudah tersambung.
"Halo, Zi." Seorang pria membalas ucapan Rezi.
"Bagaimana hasil pencarianmu? Apakah sudah ada hasilnya?" tanya Rezi pada temannya tersebut.
"Mhm, aku dapat informasi. Kemarin pukul 10.15 dia berada di bandara," ujar Panji.
"Diska berada di Bandara? Mau ke mana dia?" tanya Rezi pada Panji.
"Untuk tujuannya, aku belum dapat informasi karena aku sedang berusaha mencari Link untuk bisa mengetahui data penumpang pesawat," ujar Panji.
"Panji, tolongin aku ya cari informasi secepatnya. Aku takut terjadi apa-apa padanya," ujar Rezi pada temannya itu.
"Oke, aku akan coba cari informasi itu secepatnya," sahut Panji.
"Terima kasih, kamu sudah membantuku," ucap Rezi.
Setelah itu, Rezi pun melangkah keluar rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit, saat ini pikiran Rezi selalu tertuju pada Diska.
Dia tidak fokus melakukan apa pun, hingga akhirnya Rezi memilih membelokkan stir mobilnya ke sebuah taman.
Dia memarkirkan mobilnya di parkiran taman, lalu melangkah menuju sebuah bangku panjang yang menghadap ke sebuah danau buatan.
"Diska, ke mana aku harus mencarimu?" gumam Rezi.
Sebenarnya Rezi sangat mengkhawatirkan Diska, pikirannya selalu tertuju dengan keadaan Diska dan Farel saat ini, tapi sebagai dokter profesional dia tidak mau meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.
Rezi menatap kosong pada danau yang ada di hadapannya, seketika dia teringat kenangannya bersama Diska di taman itu.
Flash back on.
"Hiks hiks," isak tangis Diska masih saja terdengar di telinga Rezi.
"Sudahlah, setiap masalah pasti ada hikmahnya," ujar Rezi merangkul pundak Diska.
"Tidak, Kak. Bagaimana aku akan memberitahukan hal ini pada kedua orang tuaku?" Diska masih saja menangis.
__ADS_1
Dia masih shock dengan berita yang diberikan oleh dokter tentang kehamilan dirinya. Dia tidak menyangka perbuatan dosa besar yang dilakukannya dengan Rama menyisakan bukti cinta mereka di dalam rahimnya.
"Jika memang kamu tidak sanggup memberitahukan masalah ini pada kedua orang tuamu, aku bersedia untuk membantumu," ujar Rezi menawarkan diri untuk bertanggung jawab atas janin yang kini di dalam kandungan Diska.
"Tidak, Kak." Diska menolak tawaran Rezi mentah-mentah.
Di dalam pikiran Diska, tidak akan ada orang yang akan mau menerima anak orang lain dalam hidupnya, Diska tidak mau anaknya diperlakukan tidak baik oleh Rezi nantinya.
Meskipun saat ini dia baik, belum tentu setelah anaknya lahir dia akan berlaku baik pada anaknya nanti.
"Ya sudah, kalau memang itu yang kamu mau, tapi apa pun masalahmu, aku akan selalu siap membantu," ujar Rezi.
Flash back off.
"Harusnya dari awal aku sudah bisa mengambil kesimpulan, bahwa Diska tidak pernah menyukaiku. Dia hanya menganggap diriku sebagai seorang kakak." Rezi menyadari bahwa wanita yang selalu bersikap manja padanya tidak pernah menaruh hati padanya.
"Diska, kamu pergi ke mana? Apakah saat ini kamu berada di desa itu?" gumam Rezi.
Rezi merasa saat ini, Diska tengah berada di desa tempat kekasihnya tinggal.
****
Semua orang sudah berkumpul di pondok sederhana milik Rama yang ada di kebun.
Mereka berencana hendak memburu durian yang ada di kebun Rama, selama ini selalu ada yang datang langsung membeli durian milik Rama, jadi Rama tidak perlu susah-susah menjualkannya ke desa.
Jarang ke kebun bukan berarti Uci Desmi tidak memiliki kebun. Uci Desmi menyerahkan pengelolaan kebun sawit miliknya pada salah satu keluarga jauh yang dipercayainya sehingga dia tinggal menerima hasil saja dari sawit itu setiap bulannya.
Meskipun dia hanya diam di rumah, dia masih mendapatkan uang dari hasil kebun yang dimilikinya.
"Mbak, lotion nyamuk untuk Farel dibawa, kan?" tanya Diska pada Mbak Yuyun.
Diska melihat banyak nyamuk yang beterbangan, dia khawatir pangeran kecilnya digigit nyamuk.
"Iya, bentar aku ambil dulu," ujar Mbak Yuyun sambil membawa tas berisi perlengkapan Farel.
"Ini, Nona," ujar Mbak Diska sambil menyodorkan lotion anti nyamuk pada Diska.
"Pakai lotion dulu ya, Sayang," ujar Diska menghampiri Farel yang kini sudah anteng berada di pangkuan Rama.
Diska mengolesi Farel dengan lotion yang ada di tangannya di tubuh Farel.
"Maaf ya, Farel malah bikin kamu repot," lirih Diska pada Rama.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, aku senang sama anak ini. Dia lucu dan tampan," ujar Rama.
"Iya, Dis. Sepertinya ketampanan yang dimiliki Farel turunan dari ayahnya yang juga tampan," ujar Rudi.
Seketika wajah Diska memerah, dia merasa perkataan yang dilontarkan Rudi seolah menyindir dirinya.
"Mu-mungkin," lirih Diska sambil menunduk.
Jantung ibu satu anak itu berdegup dengan kencang, dia takut Rudi mengetahui apa yang sudah dilakukannya dengan Rama.
Rudi tersenyum mendengar jawaban Diska, apalagi melihat ekspresi Diska, dia semakin yakin ada hal yang sudah terjadi antara Diska dan Rama yang tidak diketahuinya.
Bugh.
Terdengar suara durian jatuh.
"Ada yang jatuh, Rud." Rama menyuruh Rudi untuk mengambil durian yang jatuh itu.
Tak berapa lama terdengar kembali beberapa durian yang jatuh kembali.
Rudi pun melangkah menuju empat batang durian yang ada di kebun Rama.
Di sana sudah terlihat beberapa buah yang jatuh tergeletak di tanah.
Menurut pendapat penduduk desa, durian yang jatuh langsung dari batangnya lebih enak dari pada durian yang dipetik, kebanyakan penduduk menunggui durian jatuh siang dan malam, tapi ada juga sebagian penduduk yang memilih buah durian miliknya dipetik langsung dengan menyuruh orang untuk memanjat pohon durian tersebut.
Rudi bergegas mengumpulkan durian itu lalu memasukkannya ke dalam karung yang sudah dibawanya tadi.
"Wah, kalau begini si Rama jadi orang kaya, nih. Durian yang jatuh saja banyaknya minta ampun," ujar Rudi.
"Ke mana coba uangnya dihabiskan anak itu, padahal biaya hidupnya di kebun ini enggak akan banyak. Rumahnya juga terbengkalai," ujar Rudi.
Rudi penasaran dengan penghasilan yang di dapat sahabatnya selama ini, karena dia tahu sahabatnya itu tidak pernah pergi ke pasar. Bahkan pakaian untuk dirinya sendiri tidak pernah dipikirkannya.
Rudi membawa karung berisi durian itu dengan sebuah gerobak dorong.
"Wah banyak banget," seru Mbak Yuyun takjub.
Dia merupakan seorang pecinta durian tak menyangka akan bisa memakan buah durian hari ini dengan sepuasnya.
"Mbak, sepertinya kali ini Mbak Yuyun tidak harus mengeluarkan uang untuk dapat makan duren," ujar Diska.
"Iya, Nona. Hari ini, Mbak Yuyun merasakan surga dunia," seru Mbak Yuyun gembira.
__ADS_1
Semua orang di sana pun tertawa melihat ekspresi mbak Yuyun.
Bersambung...