Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 39


__ADS_3

Rezi menautkan kedua alisnya.


"Kenapa kamu mempertanyakan siapa diriku?" tanya Rezi pada Zharin.


"Mhm, aku cuma bingung." Zharin bingung harus berkata apa.


"Bingung kenapa?" tanya Rezi heran.


"Sudahlah, lupakan pertanyaanku," ujar Zharin.


Tak berapa lama dokter yang menangani ibu Zharin keluar dari ruang operasi, mereka berdiri lalu menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Zharin.


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat," jawab Sang Dokter.


"Terima kasih, Dok." Rezi menjabat tangan dokter yang baru saja menangani ibu Zharin.


Sang dokter tersenyum.


"Siapa ini, Dok?" bisik Sang Dokter di telinga Rezi.


"Teman, Dok," jawab Rezi.


Dokter yang menangani ibu Zharin mulai mencurigai hubungan Zharin dengan rekan kerjanya itu.


"Calon istri juga boleh," bisik si dokter lagi sambil tersenyum.


"Ah, tidak, Dok." Rezi menggelengkan kepalanya.


Zharin bingung melihat si dokter yang berbisik dengan Rezi.


Dia semakin penasaran dengan sosok pria yang sudah dua kali meminjamkan dada bidangnya pada Zharin untuk menangis.


"Ya, sudah. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Sang Dokter.


Dia pun meninggalkan Rezi dan Zharin karena masih memiliki pekerjaan lainnya.


Tak berapa lama, perawat membawa ibu Zharin menuju ruang rawat. Mereka pun melangkah mengikuti ke mana ibu Zharin dibawa.


Saat mereka baru saja berada di sebuah ruang rawat yang sangat nyaman, ponsel Rezi berdering pertanda panggilan masuk.


Rezi langsung menekan tombol hijau di layar ponselnya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Bulan," ujar Rezi saat panggilan sudah tersambung.


"Dok, ada pasien mendadak masuk. Harus ditangani secepatnya," ujar Bulan memberi tahu Rezi bahwa ada pasien darurat.


"Baiklah, saya segera ke sana," ujar Rezi.


"Zharin, kamu tunggu di sini. Aku ada urusan sebentar. Setelah semua urusanku selesai aku akan kembali ke sini." Rezi pamit pada Zharin untuk pergi sebentar.


"Ke mana?" Belum sempat Zharin bertanya Rezi sudah keluar dari ruang rawat itu.


"Dasar pria aneh," lirih Zharin.

__ADS_1


"Oh, iya. Kenapa cowok itu baik banget sama aku? Sudah 2 kali dia meminjamkan pundaknya padaku," lirih Zharin tersenyum.


Entah mengapa Zharin merasa senang mengingat pertemuan mereka yang tanpa disengaja.


Usai melakukan operasi, Rezi merasa perutnya terasa lapar.


"Bulan, tolong pesankan makanan buat aku," pinta Rezi pada si perawat yang selalu mendampingi pekerjaan Rezi.


"Hah? Dokter belum makan?" tanya Bulan heran.


Setahu Bulan, Rezi keluar ruangan menuju kantin untuk makan siang.


"Tidak jadi, tadi ada urusan mendadak," jawab Rezi.


"Oh, begitu. Dokter mau makan apa?" tanya Bulan.


"Seperti biasa, mie kwetiau yang biasa kamu pesankan," jawab Rezi.


"Baiklah, Dok." Bulan pun mulai membuka ponselnya lalu mencari aplikasi go food.


Dia memesan makanan untuk Rezi. Hubungan Rezi dan Bulan sangat dekat dalam dunia pekerjaan.


Bahkan Rezi sudah menganggap Bulan sebagai adiknya, dia juga menjadikan gadis itu sebagai tempat curhat di saat dia butuh teman berbagi, begitu juga sebaliknya dengan Bulan.


"Kayaknya dokter lapar banget," ujar Bukan saat melihat Rezi menyantap mie kwetiau yang dipesankannya tadi.


"Iya, lapar." Bahkan Rezi lupa menawari Bulan untuk makan.


Sambil menunggu Rezi menghabiskan makanannya, Bulan menyusun beberapa berkas laporan yang harus dimasukkannya ke dalam data tugas mereka ke dalam komputer.


"Yuk, pulang," ajak Rezi setelah dia menghabiskan makanannya.


Rezi keluar dari ruangannya diikuti oleh Bulan.


Saat Bulan melangkah keluar rumah sakit, Rezi malah melangkah menuju gedung rawat inap.


"Dokter mau ke mana?" tanya Bulan pada Rezi.


"Mhm, ada urusan," jawab Rezi.


Akhirnya mereka pun berpisah di sana. Rezi melangkah menuju ruang rawat ibu Zharin.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Rezi saat dia sudah berada di ruang rawat ibu Zharin.


"Mhm, udah mendingan. Tadi ibu udah sadarkan diri, sekarang tidur lagi," jawab Zharin.


"Oh, baguslah kalau begitu. Semoga ibu kamu cepat sembuh," ujar Rezi.


"Oh, iya. Kamu sudah makan?" tanya Rezi pada Zharin.


"Mhm," gumam Zharin.


Gadis itu bingung harus menjawab apa, saat dia merasa sangat lapar. Saat dia ingin makan, dia melihat uang di sakunya sisa 5 ribu lagi, akhirnya dia pun mengurungkan diri untuk membeli makanan.


Akhirnya dia pun minum air pengganjal perutnya yang kosong.

__ADS_1


Bersyukur air minum di ruang rawat itu sudah tersedia secara gratis.


Zharin merupakan seorang gadis yang tinggal di pesisir pantai, kehidupan sehari-harinya diisi dengan menjemur ikan asin yang mana gajinya sehari paling banyak hanya sebesar 30 ribu rupiah.


Uang segitu hanya habis untuk kehidupan sehari-hari. Dia hanya hidup berdua dengan ibunya di desa pesisir pantai.


Zharin tidak tahu ayahnya di mana, karena ibu Zharin tidak pernah menceritakan tentang ayahnya padanya.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Rezi lagi pada Zharin.


Gadis itu masih bingung harus menjawab apa, dia ragu untuk berkata jujur karena dia tidak ingin memberatkan beban Rezi.


Baginya sudah dapat menolong ibunya yang sedang sakit saja sudah bersyukur, dia sudah merasa berhutang banyak pada Rezi. Dia tidak berani berkata belum makan karena dia tidak ingin berhutang lebih banyak lagi pada Rezi.


"Mhm, sudah. Aku baru saja makan," jawab Zharin.


Tak berapa lama terdengar suara dari perut Zharin yang menandakan bahwa dia tengah kelaparan.


"Kau berbohong padaku," ujar Rezi.


Rezi pun menghubungi Bukan lalu meminta bantuan gadis itu untuk memesankan makanan untuk mereka.


Rezi tidak memiliki aplikasi pesan makanan, karena selama ini dia selalu menyuruh Bulan untuk memesankan makanan untuknya.


Setelah itu Rezi duduk di sofa yang ada di ruang rawat ibu Zharin.


Tak berapa lama makanan pun datang, Rezi menyuruh Zharin untuk makan makanan yang sudah dipesannya.


"Wah, makanannya banyak sekali, ini pasti mahal semua. Aku tidak mungkin bisa membayar semua ini," ujar Zharin enggan untuk memakan makanan yang sudah dipesan oleh Rezi


"Makanlah, kamu juga butuh tenaga untuk menjaga ibumu," ujar Rezi.


Akhirnya Zharin pun memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap.


Rezi menatap Zharin yang sedang makan, dia merasa kasihan dengan apa yang dihadapi oleh gadis itu.


Zharin menyadari tatapan Rezi, sejenak dia menghentikan kegiatan makannya.


"Ayo, kita makan bareng," ajak Zharin.


"Makanlah, aku baru saja makan," ujar Zharin.


Setelah merasa kenyang, Zharin menghentikan makannya.


"Masih ada yang tersisa, aku sudah kenyang," lirih Zharin.


"Kalau memang tidak habis, kamu bisa makan nanti malam," ujar Rezi pada Zharin.


"Mhm," gumam Zharin.


Seketika Zharin terdiam, dia teringat akan hutangnya yang banyak pada Rezi.


"Kenapa?" tanya Rezi heran melihat Zharin terdiam.


"Aku bingung harus membayar ini semua dengan apa?" tanya Zharin bingung.

__ADS_1


Rezi hanya tersenyum. Hal ini membuat Zharin semakin bingung.


Bersambung...


__ADS_2