
"Apa?" lirih Yoland bingung.
Yoland merasa pria yang ada di sampingnya sudah memata-matai dirinya dan sang suami.
Dia juga merasa bahwa pria yang kini duduk di sampingnya juga mengetahui apa yang sudah terjadi dalam hidup mereka.
"Tinggalkan suamimu dan raihlah kebahagiaanmu," ujar si pria lagi.
Yoland menatap heran pada pria yang meminta dirinya meninggalkan sang suami.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yoland pada pria yang kini berada di sampingnya.
"Hahaha, kamu tak harus tahu siapa aku. Aku hanya ingin memberimu pilihan. Tinggalkan suamimu atau kamu akan menderita bersamanya," ujar Si pria lagi.
Yoland masih saja belum mengerti dengan maksud si pria itu.
Si pria berdiri, lalu melangkah meninggalkan Yoland yang masih kebingungan.
"Hei, tunggu!" teriak Yoland.
Dia mencoba menghentikan langkah pria yang baru saja berbicara dengannya, tapi si pria tidak menggubris sama sekali panggilan dari Yoland.
"Siapa pria itu? Ada hubungan apa dia dengan suamiku? Mengapa dia menyuruhku untuk menjauhi dan meninggalkan suamiku di saat dia tengah terpuruk?"
Berbagai pertanyaan muncul di benak Yoland.
Yoland menghela napas panjang. dia kembali duduk di tempatnya, dia mulai berpikir langkah apa saat ini yang bisa dilakukannya.
Setelah makan malam di rumah kontrakan kedua orang tua Diska, semua orang berkumpul di ruang keluarga.
"Ehem." Pak Bayu berdehem.
Dia sengaja meminta perhatian semua anggota keluarga yang ada di sana.
Semua mata kini tertuju pada Pak Bayu. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang sangat dihormati di dalam rumah itu.
"Diska," lirih Pak Bayu.
Pak Bayu memanggil putrinya. Diska pun menoleh ke arah papanya.
"Sayang, Papa tahu kamu pasti kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Mungkin semua sudah dijelaskan oleh Mama, tapi Papa ingin meminta maaf kepadamu karena selama ini papa menyembunyikan sosok Zharin dari kehidupanmu," ujar Pak Bayu.
__ADS_1
"Setiap kali papa ingin menyampaikan masalah ini kepadamu, Papa tidak memiliki kekuatan karena dengan susah payah Papa mencari Zharin selama ini, papa tidak pernah menemukannya." Pak Bayu pun menghela napas sejenak.
"Sebenarnya papa kaget saat melihat Rezi membawa Zharin bertemu dengan papa, Papa bersyukur kembali bisa bertemu dengan putri sulung papa. Saat ini Papa haram Riska bisa menerima sosok Zharin sebagai kakakmu," ujar Pak Bayu penuh harap pada putrinya.
"Papa tenang saja, aku sudah menerima sosok kak Zharin dalam hidupku, ternyata memiliki seorang saudara perempuan itu sangat menyenangkan," ujar Diska dengan senyuman yang melebar di wajahnya.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan kakakmu?" tanya Bayu penasaran.
"Iya, Pa. Kemarin sore aku bertemu dia dan saling bercerita tentang kisah kami sejak kecil, aku senang bisa memiliki seorang kakak," ujar Diska.
Bayu menoleh ke arah sang istri, dia melihat Bu Naina yang terlihat tidak suka dengan kebahagiaan Diska yang menerima begitu saja sosok Zharin.
Meskipun Naina selalu bersikap menerima apa pun yang terjadi, tapi hatinya masih terluka.
Dalam benak Bu Naina saat ini adalah ketakutan akan sang suami berpaling pada istri pertamanya.
Dia takut Sarah akan merebut kembali yang sudah dimiliki oleh Naina.
"Sayang, apakah kamu tidak suka dengan kedekatan Zharin dan Diska?" tanya Bayu pada istrinya saat melihat raut wajah istrinya yang terlihat murung.
"Eh," lirih Bu Naina.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Pak Bayu pada istrinya.
"Enggak ada, sepertinya aku kecapekan," ujar Naina berkilah.
Pak Bayu pun mendekati istrinya, dia menggenggam erat tangan wanita yang selama ini menjadi tempat dirinya berkeluh kesah, pendamping dalam setiap cobaan dan ujian yang mereka hadapi.
Pak Bayu sengaja melakukan hal itu sebagai wujud meyakinkan sang istri bahwa dia akan selalu menjadi Bu Naina prioritas pertama dalam hidupnya.
Bu Naina dengan susah payah mengangkat bibirnya, dia tersenyum sekilas.
"Papa minta izin sama kalian untuk menyelesaikan urusan pernikahan Zharin, saat Rezi dan Zharin kembali ke Bandung, papa mau ikut dengan mereka. Apakah kalian mengizinkan papa pergi?" tanya pak Bayu pada istri dan putrinya.
Diska menoleh ke arah wanita yang sudah melahirkannya, dia ingin meminta pendapat dari mamanya.
"Bagaimana, Ma?" tanya Pak Bayu pada istrinya.
Bu Naina ragu mengizinkan sang suami pergi menemui Sarah, dia takut sang suami kembali jatuh cinta pada istri pertamanya itu, sebagaimana diketahui bahwasanya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.
Meskipun mereka sudah tak memiliki hubungan lagi, tapi mereka bisa kembali merajut kasih di belakang Bu Naina.
__ADS_1
Bayu mengerti situasi sang istri saat ini, dia pun terdiam sejenak sambil memikirkan cara agar Bu Naina mengizinkan dirinya pergi.
"Baiklah, Ma. Kalau mama memang tidak mengizinkan papa pergi, aku tidak akan pergi," lirih Pak Bayu.
Pak Bayu pun berdiri, dia melangkah menuju kamar. Menurutnya percuma meminta izin pada sang istri, sepertinya saat ini istrinya masih belum bisa menerima kehadiran masa lalunya.
Bayu juga mengerti, sikap Bu Naina beberapa hari ini pura-pura tegar.
"Tidak, Pa. Jika Papa memang mau pergi, silakan." Naina memberi izin pada sang suami.
Naina tidak mungkin menghalangi keinginan sang suami di saat Diska menerima Zharin dengan senang hati.
"Benarkah? Apakah kamu benar-benar mengizinkan Aku pergi?" tanya Bayu memastikan.
"Iya, Pa. Aku mengizinkan," lirih Bu Naina.
Dengan susah payah Naina menyembunyikan raut ketidakrelaannya di hadapan sang suami dan putrinya.
****
Satu Minggu sudah berlalu, Riska dan keluarganya kembali ke desa, sementara itu Pak Bayu ikut ke Bandung dengan Rezi dan Zharin.
"Ma, kalau tidak Mama ikut papa saja ke Bandung," ajak Pak Bayu kepada istrinya.
Sebenarnya Pak Bayu tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri di Kota Padang.
"Tidak usah, Pa. Lagian besok aku ada beberapa jadwal operasi," kejar Bu Naina.
Sebagai seorang dokter kandungan, dokter Naina sudah sangat terkenal di Kota Padang. Banyak pasien memilih dia sebagai dokter yang dipercaya untuk melakukan operasi caesar karena dia merupakan salah satu dokter terbaik di rumah sakit tersebut.
"Kamu yakin akan tinggal sendiri di sini?" tanya Pak Bayu mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Iya, Pa. Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja di sini," ujar bu nina menolak tawaran dari sang suami.
Setelah itu Pak Bayu pun berpamitan kepada istrinya, dia akan berangkat ke bandara menggunakan taksi online. Pak Bayu akan bertemu dengan Rezi dan Zharin langsung di bandara.
Sesampai bandara Rezi sudah memesankan tiket untuk calon Ayah mertuanya.
Zharin sangat senang ayahnya ikut dengannya untuk menemui sang ibu yang dingin tinggal seorang diri di pesisir laut, di gubuk kecil mereka.
Bersambung...
__ADS_1