Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 72


__ADS_3

"Mbak Yuyun, kamu tenang saja. ucapan Rama dan Rudi itu hanya gurauan saja, tidak usah diambil hati," nasehat Uci Desmi.


"Iya, Uci. aku juga sadar diri tidak mungkin Anda pria yang menyukai diriku," lirih Mbak Yuyun sendu.


Tak berapa lama Rudi dan Rama selesai makan, mereka pun ikut bergabung dengan para perempuan.


"Yuyun," lirih Rudi dengan serius.


Yuyun mengangkat wajahnya lalu menatap pria yang tadi sempat menyatakan ingin menikahi dirinya.


"Aku serius dengan apa yang baru saja aku ucapkan, sekarang bagaimana pendapatmu?" tanya Rudi pada Yuyun secara langsung.


Rama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keberanian sang sahabat. Dia tidak menyangka akan menanggapi gurauannya dengan serius.


Kini semua mata tertuju pada Mbak Yuyun, mereka menunggu jawaban dari pengasuh Farel itu.


"Maaf untuk saat ini aku harus menimbang dan memikirkan ucapan dari Bang Rudi," jawab Mbak Yuyun.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu jawaban dari kamu," ujar Rudi dengan penuh keyakinan.


Tak ada sedikitpun keraguan di mata pria itu dengan apa yang sudah dikatakannya kepada Mbak Yuyun.


"Sudah malam aku pulang dulu, ya," ujar Rudi berpamitan kepada semua orang yang ada di sana.


Rama pun berdiri lalu mengantarkan sang sahabat menuju teras rumah Uci dasmi.


"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" tanya Rama pada sahabatnya itu tidak percaya.


"Serius, Ram. Aku yakin Yuyun berjodoh denganku," jawab Rudi dengan serius.


"Hehehe, baguslah kalau begitu, mana tahu kalian memang berjodoh," ujar Rama.


"Ya sudah, aku pulang dulu, ya. lagian udah malam nih kalian juga harus istirahat, kan baru menempuh perjalanan jauh pasti lelah," ujar Rudi.


Setelah itu Rudi pun melangkah keluar menuju sepeda motornya yang terparkir di depan rumah Uci Desmi.


Rama pun masuk ke dalam rumah setelah Rudi benar-benar pergi meninggalkan rumah Uci Desmi.


"Uci perhatikan, Rudi itu serius dengan apa yang diucapkannya, kini tinggal kamu yang menentukan pilihan. Jika kamu yakin dia menjadi imam untukmu tidak masalah kalian mencoba menjalani hubungan terlebih dahulu," nasehat uji desmi pada Mbak Yuyun.

__ADS_1


"Iya, Ci. Aku akan mempertimbangkan apa yang sudah dikatakan oleh Rudi padaku," ujar Mbak Yuyun.


"Oh, iya, Rama. apa yang kamu lakukan di rumah Bany?" tanya Uci Desmi esmi mengalihkan topik pembicaraan.


Wanita paruh baya itu penasaran dengan apa yang dibicarakan drama dengan tukang handal yang ada di Desa Tanjung.


"Begini, Ci. aku berniat untuk merenovasi rumah peninggalan kedua orang tuaku, karena kami akan tinggal di sana," jawab Rama.


Wanita paruh baya itu mengangguk paham, bagi Rama yang kini sudah memiliki uang dan kekayaan yang berlimpah, sangat mudah baginya untuk membangun rumah kedua orang tuanya itu.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Uci ikut senang dengan apa yang sudah kamu dapatkan saat ini, semoga Diska Farel dan Mbak Yuyun betah tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuamu itu," ujar Uci Desmi.


"Aamiin," sahut Rama, Diska dan Mbak Yuyun bersamaan.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing, Diska dan Rama berada di kamar yang biasa digunakan oleh Diska, sedangkan Mbak Yuyun tidur bersama Uci Desmi di kamarnya.


Uci Desmi mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, diikuti oleh Mbak Yuyun.


Kini wanita yang berumur tidak jadi tidak jauh di atas Diska itu pun menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Pikirannya kini melayang-layang ke mana-mana. dia mengingat beberapa hal yang telah mereka lakukan berdua dengan Rudi.


Pada hari Senin, Diska bangun pagi-pagi sekali, dia bersiap-siap untuk berangkat ke desa Silaping.


Bangun tidur dia langsung turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu dia pun menunaikan shalat sunat tahajud sebelum waktu subuh masuk.


Rama terbangun saat azan subuh berkumandang, dia melihat istrinya tengah melaksanakan kini tengah bersimpuh di hadapan sang Khalik meminta segala hal yang baik untuk keluarganya dan karirnya.


Rama bangkit dan duduk memandangi istrinya yang kini sangat ta'at dalam beribadah, sangat jauh berubah sosok Diska yang dulu dengan yang sekarang.


Rama mengenang masa-masa pertama kali bertemu dengan istrinya itu, dia teringat dengan rambut indah diska yang tergerai saat pertama kali bertemu, pakaian yang dikenakannya pun sama sekali tidak menutup aurat.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau telah memberi petunjuk pada wanita yang aku cintai, tak ada nikmat yang lebih indah selain istri yang Sholehah," lirih Rama bersyukur.


"Sayang, tunggu aku sebentar, ya. Kita salat jamaah." Rama meminta diskon untuk menunggu.


Dia pun berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu dia siap-siap untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan sang istri.

__ADS_1


Setelah salat subuh Diska langsung menuju dapur untuk membantu Uci Desmi menyiapkan sarapan pagi.


Di dapur Uci Desmi dan Mbak Yuyun sudah mulai memasak.


"Apa yang bisa aku bantu saat ini?" tanya Diska pada dua orang wanita yang sudah berperang dengan alat-alat dapur.


"Kamu siap-siap saja untuk berangkat ke klinik, biar kami yang menyiapkan sarapan. supaya kamu tidak terlambat," jawab Uci Desmi.


Uci Desmi sudah merasa terbantu dengan adanya Mbak Yuyun yang kini sedang membantunya.


Diska pun tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu aku siap-siap dulu," ujar Diska.


Diska kembali ke kamar untuk bersiap-siap menggunakan pakaian dinasnya sebagai seorang dokter.


"Sayang, sepertinya aku harus jemput sepeda motor milik Rudi untuk mengantarkanmu ke klinik Silaping," ujar Rama saat Diska sudah berada di dalam kamar.


"Oh, Ya sudah, kalau begitu. Sepertinya kamu harus membeli sepeda motor untuk mengantarkanku ke klinik setiap hari," ujar Diska.


"Tidak hanya sepeda motor, Sayang. Aku juga akan membeli mobil agar kamu tidak perlu kepanasan," ujar Rama dengan penuh kasih sayang.


"Hari ini aku akan mencari sepeda motor, kalau mobil kita belinya saat pergi ke Padang saja," ujar Rama pada istrinya.


"Terserah kamu saja, Sayang. Aku ikut apa yang kamu bilang saja," ujar Diska.


Rama pun keluar dari kamar lalu dia pun melangkah berjalan menuju rumah Rudi, sedangkan Diska bersiap-siap untuk berangkat bekerja seperti biasanya.


Diska dan Rama makan terlebih dahulu sebelum mereka berangkat.


Setelah Diska dan Uci Desmi, Mbak Yuyun dan Uci Desmi pun membersihkan bekas piring kotor yang ada di atas meja.


Mbak Yuyun membantu pekerjaan Uci Desmi, setelah mereka selesai membersihkan meja makan dan dapur, Mbak Yuyun duduk di kursi meja makan.


"Uci," panggil Mbak Yuyun.


Uci Desmi pun menoleh ke arah Mbak Yuyun, lalu dia pun duduk di hadapan Mbak Yuyun.


"Bagaimana, Mbak. Apakah Mbak Yuyun sudah mengambil keputusan?" tanya Uci Desmi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2