
Rezi menatap iba pada gadis yang kini masih melangkah berjalan menyusuri pantai bersamanya.
Dokter tampan itu dapat merasakan bagaimana perjuangan hidup gadis pesisir yang kini selalu menjadi penghibur baginya di saat pikirannya kacau.
Setelah beberapa lama mereka melangkah, mereka sampai di sebuah batu karang yang indah, Zharin mengajak Rezi untuk menaiki batu karang lalu mengajaknya duduk di sana.
Dari batu karang itu pemandangan laut dan pantai terlihat begitu indah.
Mereka menikmati udara pagi menjelang siang duduk di batu karang itu.
"Setiap kali aku bersedih, atau ingin menyendiri aku akan pergi ke sini. Di sini aku merasa lebih tenang, sehingga tempat ini menjadi tempat favorit aku untuk menenangkan diri," cerita Zharin.
Gadis itu tak hentinya mengoceh sejak awal mereka bersama, tingkah Zharin yang riang membuat Rezi lupa akan hatinya yang baru saja hancur lebur melihat Rama memeluk wanita yang dicintainya.
Saat mereka sudah duduk di atas batu karang itu, Zharin masih saja belum melepaskan tangan dokter tampan itu.
Rezi melirik ke arah tangannya, saat itu Zharin menyadari apa yang telah dilakukannya.
Dia pun melepaskan tangan sang dokter tampan, wajahnya memerah karena gugup.
"Ma-maaf," lirih Zharin menahan malu.
"Tidak apa-apa, lagian aku merasa nyaman. Aku merasakan kamu mengalirkan energi positif pada diriku yang sedang kacau," tutur Rezi jujur.
Mereka pun terdiam sejenak, mereka mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi pada diriku. Di saat aku berada di sampingnya aku merasa nyaman dan melupakan kesedihanku begitu saja. Apakah aku mulai tertarik padanya?" gumam Rezi di dalam hati.
"Ya Allah, mengapa aku jadi begini. Aku selalu saja membuat malu di hadapannya, entah mengapa setiap kali bersamanya hatiku senang dan bahagia. Apakah aku jatuh cinta padanya?" gumam Zharin di dalam hati.
****
Keluarga Pak Bayu sudah sampai di Padang. Mereka langsung mencari hotel tempat menginap sebelum mereka mendapatkan rumah yang cocok untuk mereka tempati.
Mereka memilih menginap di hotel Ibis karena menurut kabar dari temannya Pak Bayu, hotel itu berada tidak jauh dari rumah sakit tempat mereka akan bekerja.
Mereka akan menemui teman Pak Bayu di rumah sakit tersebut nanti siang. Sebelum pergi mereka memilih beristirahat terlebih dahulu di hotel.
Mereka memesan 3 kamar yang berdekatan, 1 kamar untuk Pak Bayu dan Bu Naina, 1 kamar untuk Rama dan Diska, satunya lagi untuk Mbak Yuyun.
__ADS_1
Mereka selalu membawa Mbak Yuyun ke mana pun pergi agar wanita itu tidak merasa tersingkir sejak kehadiran Rama bersama Diska.
Diska selalu menunjukkan bahwa mereka masih sangat membutuhkan sosok Mbak Yuyun bagi mereka untuk menjaga Farel.
"Nona, kalau Farel merepotkan nona biar saya yang jaga," ujar Mbak hendak membawa Farel ke dalam kamarnya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Nanti kalau aku butuh apa-apa aku bilang sama, Mbak," ujar Diska.
Rama dan Diska pun masuk ke dalam kamar mereka.
Saat mereka berada di dalam kamar hotel, Rama mendudukkan putra kecilnya di atas tempat tidur.
"Sayang, kenapa sih, Mbak Yuyun memanggil kamu pake nona segala. Ya enggak masalah kalau dia panggil nama gitu," ujar Rama mengeluarkan pendapatnya.
Sebenarnya hal ini sudah lama dirasakan oleh Rama, tapi dia baru teringat menyampaikan pendapatnya.
"Sudah, Bang. Aku juga menyuruhnya untuk memanggil namaku saja, tapi dia enggak mau. Ya udah, aku biarkan saja," ujar Diska.
"Oh begitu. Tapi, kenapa dia mau saat aku suruh dia panggil Abang bukan tuan?" tanya Rama.
"Ya, mungkin karena sebutan Abang masih mencerminkan menghormati, tapi kalau dia memanggil nama saja dia merasa tidak pantas karena dia bekerja dengan kita," ujar Diska berpendapat.
"Oh." Rama mengangguk.
Pada pukul 13.20. Pak Bayu dan Bu Naina sudah berada di rumah sakit megah yang ada di kota Padang.
Rumah sakit ini terletak di jalan lintas Sumatera. Pak Bayu dan Bu Naina ke sana menggunakan taksi online. Kali ini Rama dan Diska tidak ikut bersama mereka.
Sesampai di rumah sakit tersebut, Bu Naina kagum melihat gedung rumah sakit yang megah kini berdiri di hadapannya.
Bu Naina tidak menyangka di kota Padang terdapat rumah sakit yang besar seperti yang ada di hadapannya saat ini.
Selama ini dia yang dia tahu rumah sakit swasta di kota Padang hanya memiliki gedung yang biasa.
"Papa benar kita akan bekerja di rumah sakit ini?" tanya Bu Naina pada suaminya tak percaya.
"Iya, Sayang. Ayo, masuk. Ferdy sudah menunggu kita di ruangannya," ujar Pak Bayu pada istrinya.
Ferdy merupakan sahabat Pak Bayu saat kuliah di Universitas Indonesia beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Ferdy merupakan putra dari salah satu pebisnis handal di Sumatera barat. Dia langsung menawarkan pekerjaan sebagai dokter bedah dan dokter kandungan untuk sepasang suami istri itu saat dia mengetahui sahabatnya itu diberhentikan bekerja di rumah sakit tempat dirinya mengabdi selama ini.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit itu, mereka masuk ke dalam lift menuju ruangan yang sudah ditunjukkan oleh Ferdy melalu pesan di aplikasi hijau.
"Maaf, Suster. Kami mau bertanya di mana ruangan Dokter Ferdy?" tanya Pak Bayu pada salah satu perawat yang bertugas di lantai tersebut.
"Maatlf, Bapak sudah membuat janji dengan beliau?" tanya si perawat.
"Sudah," jawab Pak Bayu.
"Baiklah, tunggu sebentar," ujar perawat tersebut.
Dia pun menyambungkan telpon ke ruangan Dokter Ferdy.
"Maaf Dokter. Di sini ada 2 orang yang sedang mencari Dokter," ujar si perawat memberitahukan kedatangan tamu sang dokter.
"Suruh mereka masuk," perintah Dokter Ferdy pada si perawat.
"Baiklah, Dok." Si perawat menutup sambungan telponnya.
"Mari, Pak, Buk. Saya antar," ujar si perawat membawa sepasang suami istri itu menuju ruangan Dokter Ferdy.
"Permisi, Dok. Mereka sudah berada di sini," ujar si perawat setelah membuka sedikit pintu ruangan Dokter Ferdy.
"Silakan, masuk!" perintah Ferdy.
"Assalamu'alaikum," ucap Bayu saat dia sudah masuk ke dalam ruangan itu.
Ferdy tersenyum pada sahabatnya, dia langsung merentangkan tangannya, mereka pun saling berpelukan melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Bayu, apa kabarmu?" tanya Ferdy.
"Alhamdulillah, aku baik." Bayu juga senang bisa bertemu dengan sahabat lamanya.
Mereka memang sudah lama tidak bertemu, terakhir pertemuan mereka saat adanya seminar yang diadakan di Bandung sekitar 10 tahun yang lalu.
Waktu 10 tahun merupakan waktu yang panjang, sehingga merasa saling merindukan.
Bu Naina hanya diam, dia menunduk saat melihat sang suami berpelukan dengan sahabatnya.
Di saat mereka masih berpelukan, Ferdy melihat. dengan jelas wanita yang ada di dalam ruangannya, perlahan dia melepaskan pelukan sang sahabat.
__ADS_1
Bersambung...