Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 49


__ADS_3

"Jadi saat ini benda itu masih tersimpan, tapi Uci tidak tahu di mana benda tersebut disimpan ayahmu," ujar Uci Desmi menutup ceritanya.


Rama terdiam mendengar ucapan Uci Desmi, dia yakin ayah Rama tidak mungkin menyimpan benda itu di rumahnya.


"Sejak hari itu, aku bertekad menetap di kebun ini, sambil mencari benda yang disimpan oleh ayah." Rama menutup ceritanya.


"Lalu bagaimana kamu bisa menemukan benda ini?" tanya Diska penasaran.


"Waktu itu, aku mulai membersihkan pondok ini. Perlahan aku perbaiki. Di saat aku kehabisan kayu bakar, aku melihat sebuah kain putih yang menyembul di tempat kayu bakar itu, entah mengapa aku menarik kain itu, maka aku menemukan yang aku cari selama ini," jawab Rama.


"Apakah kebun sawit itu kamu beli dari menjual emas itu?" tanya Diska penasaran.


"Waktu itu ada yang menjual kebun sawit mereka secara mendadak, jadi aku jual satu bongkah batu emas ini, dan langsung beli kebun itu. Hitung-hitung investasi, Alhamdulillah hasil dari kebun sawit bisa dipakai untuk beli rumah yang kemarin," ujar Rama lagi.


"Berarti kamu sekarang udah kaya raya, dong?" tanya Diska pada sang suami.


"Jadi, kalau aku masih seorang pemuda yang miskin kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Rama.


Diska menghela napas panjang, dia tersenyum. Diska menatap dalam pada wajah tampan sang suami.


"Apakah aku tahu kamu memiliki ini semua saat aku mau dinikahi olehmu?" tanya Diska pada sang suami.


"Hehehe, iya juga, ya," lirih Rama sambil tersenyum.


"Lalu apa rencanamu dengan 3 bongkah emas ini?" tanya Diska.


"Mhm, aku akan menjual emas ini dan membeli lahan sawit lagi, aku akan percayakan semua pada Rudi dan bang Husein," ujar Rama.


"Bang Husein?" tanya Diska.


Diska teringat pada sosok pria yang sudah membantunya saat dia nyasar di hutan waktu itu.


"Iya, selama aku berada di hutan ini, aku sering berkunjung ke kebunnya, sekarang dia sudah membeli kebun tak jauh dari sini dan dia tinggal di kebunnya, jadi aku mempercayakan Bang Husein untuk mengelola kebun yang tadi kamu lihat," jelas Rama.


"Aku baru saja mendapat informasi ada lagi yang menjual kebun sawitnya seluas 100 hektar tidak jauh dari sini, sawit itu milik PT yang sedang mengalami kebangkrutan, maka aku akan membeli perkebunan sawit itu dan meminta Rudi mengelolanya. Hanya mereka berdua yang bisa aku percaya," ujar Rama.


Diska terdiam mendengar ucapan dari sang suami. Saat ini perasaan sangat senang tapi ada sedikit rasa cemas menggelayuti hatinya.


"Dengan 200 hektar sawit yang kita miliki kita akan tetap menghasilkan uang dalam 15 tahun ke depan," jelas Rama lagi.


"Sayang, aku tidak menyangka, Tuhan akan memberikan semua ini padaku. Dapat hidup bersama denganmu saja merupakan nikmat terindah yang aku rasakan," ujar Diska sambil mengelus lembut pipi sang suami.


"Mungkin Tuhan sudah merencanakan hal ini pada kita, saat ini kita tinggal menjalani saja. Semoga benda ini memberi keberkahan dalam hidup kita nanti," ujar Rama pada Diska.

__ADS_1


"Aamiin," lirih Diska.


Diska memeluk erat tubuh sang suami dengan erat.


Dia semakin bersyukur dapat memiliki pria yang dicintainya dan pria itu kini memiliki ekonomi yang sudah mapan.


Meskipun cinta Diska tanpa memandang harta, tapi sebagai seorang insan, dia juga butuh ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya ke depan.


Tanpa mereka sadari, matahari mulai berada sejajar di atas kepala mereka.


"Sudah siang, sebentar lagi azan dzuhur. Kita harus pulang, kasihan Farel di tinggal," ujar Rama.


Setiap kali dia pergi dengan istrinya, Rama tidak pernah lupa dengan keadaan putranya, dia selalu tidak ingin meninggalkan Farel seorang diri di rumah, meskipun bersama Mbak Yuyun.


Diska mengangguk, Rama membawa semua emas itu pulang.


Dia berencana akan menjual satu bongkah emas itu untuk membeli kebun sawit lagi, sisanya akan diolah menjadi perhiasan untuk Diska.


Jika mereka akan menetap di Bandung, maka Rama tidak akan bisa tenang meninggalkan harta peninggalan kedua orang tuanya.


Rama akan membawa harta itu ke Bandung dengan bentuk perhiasan.


Rama menutup pintu pondoknya, lalu dia pun meraih tangan sang istri. Dia melangkah menggenggam erat tangan Diska.


"Aku harap kamu tetap melangkah di sampingku. Kita akan besarkan anak-anak kita," ujar Rama memulai langkah mereka.


"Tidak hanya sebagai istri, Sayang. Kamu harus menjadi ibu terbaik untuk anak-anak kita nanti," ujar Rama.


"Iya," lirih Diska mengangguk.


"Oh, iya. Kamu mau punya anak berapa?" tanya Rama pada istrinya.


Sambil melangkah mereka terus mengobrol.


"Mhm, aku maunya cukup 2. atau paling banyak 4," jawab Diska.


"Hah, dikit sekali," bantah Rama.


"Aku mau punya anak paling sedikit 12 orang," ujar Rama sambil tersenyum.


Diska menatap Rama tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang suami.


"Boleh, tapi kalau kamu yang mengandung dan melahirkannya," ujar Diska kesal.

__ADS_1


"Emangnya kamu pikir mengandung dan melahirkan itu hal yang mudah? Hah?" ujar Diska lagi.


Diska kembali memasang wajah cemberut ulah sang suami.


Entah mengapa sang suami kini suka sekali menjahili sang istri.


"Hahahaha." Rama tertawa melihat wajah sang istri.


Rama menarik tangan sang istri hingga tubuh mereka menempel.


Rama merangkul sang istri, lalu melangkah berdampingan.


"Kalau kamu cemberut seperti itu, cantiknya hilang," bisik Ra di telinga sang istri.


"Biarin," ketus Diska.


Dia memasang aksi merajuk.


"Mhm," gumam Rama menggoda sang istri.


"Ya udah, aku ngalah. Kamu mau punya berapa anak pun akan aku terima," ujar Rama mengalah.


Tadinya dia memang berniat ingin menggoda sang istri.


Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol dan bercanda sehingga tanpa mereka sadari mereka pun sampai di depan rumah Uci Desmi.


Sesampai rumah Uci Desmi, si kecil Farel langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


"Ayah, mana?" tanya Farel yang penasaran ayah dan bundanya dari mana.


"Mhm, ayah dari tempat nenek sama kakek. Nanti kalau Farel udah besar, ayah akan mengajak Farel ke tempat nenek dan kakek. Farel mau?" Rama menjawab pertanyaan putranya.


"Mau," sahut Farel.


Rama dan Diska tersenyum melihat Farel yang riang, meskipun dia baru saja melewati perjalanan yang jauh.


"Uci Desmi mana, Mbak?" tanya Diska pada Mbak Yuyun saat dia menyadari wanita paruh baya itu tidak berada di rumah.


"Mhm, Uci Desmi katanya mau jalan keliling kampung, dia mau memberitahukan acara pernikahan yang akan dilaksanakan satu Minggu lagi, Nona," jawab Mbak Yuyun.


"Oh, begitu." Diska mengangguk.


"Ya udah, aku shalat dzuhur dulu. Setelah itu kita makan siang bareng, aku udah lapar," ujar Diska.

__ADS_1


"Siap, Sayang," sahut Rama.


Bersambung...


__ADS_2