Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 70


__ADS_3

"Astaghfirullah," lirih Rudi saat tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa bengong gitu?" tanya Rama pada sahabatnya.


"Eh, sorry aku teringat seseorang," jawab Rudi jujur.


Rama heran mendengar jawaban dari sang sahabat selama ini sahabatnya itu tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukai seseorang.


"Siapa? Kamu tidak menceritakannya padaku," ujar Rama kecewa.


Rudi pun sadar dengan penuturannya barusan, tak sehat dia berkata begitu.


"Ah, masa lalu. Lagian wanita itu sudah pergi jauh," ujar Rudi.


"Apakah aku kenal dengan wanita itu?" tanya Rama pada Rudi.


"Hah? Enggak, kamu tidak pernah kenal dan ketemu wanita itu," jawab Rudi berbohong.


"Oh, iya. Kalau kalian tinggal di sini, apa mau Diska tinggal di rumahmu?" tanya Rudi.


Dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Rama tidak lagi membahas tentang wanita.


"Nah, makanya aku datang ke sini. Aku mau cari tukang untuk merenovasi rumahku. Aku mau pemborong kerjanya yang rapi dan cepat. Soalnya tidak mungkin kami berlama-lama tinggal di rumah Uci Desmi, kami tidak mau merepotkan beliau," ujar Rama pada sahabatnya.


Rama baru teringat tentang tujuannya mencari Rudi sejak tadi.


"Mhm, sepertinya bang Benyamin yang cocok untuk mengerjakan rumahmu," usul Rudi.


Rudi menyebutkan seorang tukang bangunan yang paling terkenal di desanya.


Benyamin itu merupakan tukang senior yang handal di desa Tanjung.


Hampir semua rumah beton yang bagus-bagusnya di desa Tanjung dia yang mengerjakannya.


Rama mengangguk setuju dengan usul yang diberikan oleh sahabatnya.


"Lalu kapan kita menemui Bang Benyamin?" tanya Rama pada Rudi.


Rama ingin pekerjaan rumah itu dikerjakan secepatnya agar istrinya bisa tenang tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya.


"Kalau kamu mau sekarang, ayo saja. Aku temani," tawar Rudi.

__ADS_1


"Ya udah, ayo," ajak Rama.


Rama dan Rudi pun melangkah menuju rumah Bang Benyamin untuk menanyakan bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan.


Mereka pun melangkah keluar lalu langsung menaiki sepeda motor milik Rudi menuju rumah Bang benyamin.


Sementara itu di rumah Uci Desmi, Diska, Mbak Yuyun dan Uci Desmi masih asyik saja bercerita.


Uci Desmi senang, Mbak Yuyun mau ikut tinggal di desanya yang sangat terpencil jauh dari keramaian.


"Aku aslinya juga dari desa Uci, aku kabur ke kota Bandung dan ketemu sama Nona Diska. Saat kami bertemu, Nona Diska melahirkan Farel, di saat itu Nona butuh aku dan aku juga butuh tempat untuk tinggal akhirnya aku ikut sama nona Diska," cerita Mbak Yuyun panjang lebar.


"Memangnya, Mbak Yuyun tidak punya keluarga di desa?" tanya Uci Desmi penasaran dengan sosok wanita yang umurnya tak terpaut jauh dari Diska.


"Kedua orang tuaku sudah meninggal, Uci. Aku hanya punya paman dan Bibi, tapi hubungan darah kami sangat jauh, jadi aku lebih sering tinggal sendiri waktu di desa," jawab Mbak Yuyun.


"Lalu, paman dan Bibi kamu tahu tinggal bersama Diska?" tanya Uci Desmi.


Entah mengapa Uci Desmi tertarik dengan kehidupan wanita yang terlihat sangat setia dengan wanita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya.


"Aku sudah mengabari mereka, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya aku yang bisa memutuskan hal apa pun dalam hidupku," ujar Uci Desmi.


"Ternyata perjalanan hidup setiap orang itu berbeda-beda, Rama lain jalan hidupnya. Lalu Rudi juga diberi cobaan dengan ibunya buang sudah bertahun-tahun sakit terbaring di atas


"Hanya satu yang harus kita lakukan dalam mengahadapi ujian yang diberikan oleh Allah, yaitu sabar dan berserah diri kepada Tuhan," tambah Uci Desmi menasehati Diska dan Mbak Yuyun.


Mereka pun menghentikan obrolan mereka saat azan maghrib berkumandang.


"Sudah maghrib, kita shalat dulu, yuk," ajak Uci Desmi.


Uci Desmi yang biasa shalat maghrib di mesjid kali ini memilih untuk shalat maghrib di rumah bersama Diska dan Mbak Yuyun.


"Iya, Ci." Diska pun berdiri lalu menutup pintu rumah yang masih terbuka.


Dia pun masuk ke dalam kamar yang biasa ditempatinya, kini rumah Uci Desmi sudah seperti rumahnya sendiri baginya.


Diska tak lagi sungkan berada di rumah itu, karena Uci Desmi selalu meminta dia menganggap rumah itu rumahnya juga.


Uci Desmi terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan shalat maghrib.


Sedangkan Diska melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu, Mbak Yuyun menjaga Farel yang kini tertidur di kursi ruang tamu karena kelelahan telah menempuh perjalanan yang jauh.

__ADS_1


"Bang Rama ke mana, ya?" tanya Diska pada Mbak Yuyun saat dia sudah keluar dari kamar mandi.


Seingat Diska, tadi suaminya pamit pergi hanya sebentar, tapi saat waktu maghrib sudah masuk sang suami juga belum datang.


"Aku juga enggak tahu, Nona," jawab Mbak Yuyun harus menjawab apa karena dia sendiri juga tidak tahu.


"Ya udah, Mbak. Aku shalat duluan, ya. Setelah aku shalat baru Mbak Yuyun shalat," ujar Diska.


"Aman, Nona." Mbak Yuyun mengacungkan jempolnya.


Diska pun masuk ke dalam kamar, lalu dia pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah di sana.


Setelah shalat maghrib, Diska keluar dari kamar lalu menghampiri Mbak Yuyun yang kini masih duduk di kursi ruang tamu sambil mengipas-ngipas Farel yang masih tidur dengan lelapnya.


"Mbak, aku udah selesai. Mbak shalat dulu, gih," ujar Diska pada Mbak Yuyun.


Mbak Yuyun pun berdiri lalu dia melangkah menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berwudhu.


Kini Diska pun duduk di tempat Mbak Yuyun yang tadi, sesekali Diska memanjangkan lehernya melihat jendela, dia sudah tidak sabar menunggu suaminya yang sejak tadi belum pulang.


"Rama ke mana, Diska?" tanya Uci Desmi yang baru saja keluar dari kamarnya setelah selesai shalat maghrib.


"Aku juga tidak tahu di mana dia saat ini, Uci," jawab Diska.


"Apakah kamu sudah mencoba menghubungi ponselnya?" tanya Uci Desmi mengingatkan Diska untuk menelpon suaminya.


"Astagfirullah, aku lupa untuk menghubunginya kenapa nggak kepikiran dari tadi, ya?" ujar Diska sambil menepuk jidatnya.


Diska pun mengambil ponsel miliknya lalu dia langsung menghubungi nomor kontak sang suami.


Berkali-kali di menghubungi nomor tersebut tapi Rama tidak mengangkatnya sama sekali.


"Bagaimana, apakah panggilannya tersambung?" tanya Uci Desmi pada Diska.


"Panggilannya tersambung, Ci, tapi Bang Rama tidak menjawab panggilan dariku," jawab Diska.


Uci Desmi pun duduk di samping Diska, dia juga ikut mencemaskan keadaan Rama yang sejak tadi belum juga pulang.


"Apa aku perlu lihat Bang Rama ke rumahnya?" tanya Diska pada Uci desmi meminta pendapat.


"Jangan, ini sudah malam. Uci takut ada apa-apa nanti kamu di jalan," ujar Uci Desmi melarang.

__ADS_1


Diska mulai merasa khawatir dengan keadaan sang suami yang sejak tadi sore belum juga pulang.


Bersambung...


__ADS_2