
Rama memberhentikan sepeda motornya saat berada di depan sebuah rumah sederhana.
Dia turun dari sepeda motor, lalu masuk ke dalam pekarangan rumah kecil itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Rama saat dia sudah berada di depan pintu rumah itu.
"Wa'alaikummussalam," jawab seorang pria dari dalam rumah itu.
"Eh, Bang Rama. Ayo, masuk," ajak si pria itu.
Rama pun masuk ke dalam rumah si pria tersebut, dia duduk di atas kursi kayu yang sudah terlihat lapuk.
"Ada apa, Bang?" tanya Si pria setelah mereka duduk berhadapan.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ujar Rama.
Si pria pun diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Rama.
Dia terlihat menganggukkan kepalanya memahami setiap kata yang diucapkan oleh Rama.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu," ujar Rama setelah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya pada pria itu.
"Siap, Bang." Si pria tersenyum pada Rama.
Setelah itu Rama keluar dari rumah tersebut lalu dia pulang ke rumah Uci Desmi.
Saat itu dia melintasi rumahnya yang kini sudah mulai direnovasi.
Pekerjaan rumahnya baru saja dimulai, dia berhenti sejenak memandangi rumah itu.
Semua barang-barang yang ada di rumah itu dititipkan Rama di rumah Rudi.
"Maafkan Rama, Yah, Bu. Aku harus membongkar rumah peninggalan kalian agar istriku betah tinggal di rumah kita," lirih Rama sambil mengusap buliran bening yang membasahi pipinya.
Setelah itu Rama pun pergi, dia kembali melajukan sepeda motornya menuju rumah Uci Desmi.
Dia sampai di rumah saat azan maghrib berkumandang.
Uci Desmi keluar dari rumah, wanita paruh baya itu hendak melangkah menuju masjid untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah di masjid desa.
"Kamu sudah pulang?" tanya Uci Desmi saat berpapasan dengan Rama di pekarangan rumah.
"Iya, Ci." Rama pun masuk ke dalam rumah, sedangkan wanita paruh baya itu pun melangkah keluar pekarangan menuju masjid.
Di dalam rumah Rama mendapati Diska hendak melaksanakan salat magrib tapi masih terhalang karena Farel yang rewel.
"Anak ayah." Rama memanggil Putra kesayangannya.
__ADS_1
"Kamu udah pulang, Sayang?" ujar Diska.
"Mhm," gumam Rama.
Dia langsung menggendong putranya tanpa menghiraukan keberadaan Diska di sana.
Diska menautkan kedua alisnya heran melihat sikap sang suami.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Diska di dalam hati.
Rama melangkah keluar kamar sambil menggendong Farel, akhirnya Diska pun membiarkan Rama yang mungkin sedang marah padanya.
Ibu satu anak itu pun mulai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Dia menunaikan ibadah shalat maghrib seorang diri di dalam kamar.
"Sayang, shalatlah dulu. Aku sudah selesai shalat," ujar Diska pada Rama Setelah dia selesai menunaikan kewajibannya.
Rama yang tadi sedang asyik bermain dengan Farel, dia langsung berdiri lalu meninggalkan Diska bersama putranya.
"Aku yakin kamu pasti marah gara-gara tadi," lirih Diska.
Diska pun masih diam, dia tidak ingin membahas hal itu untuk saat ini.
Dia membiarkan Rama menenangkan diri terlebih dahulu, menyelesaikan masalah lebih baik dengan kepala dingin.
"Kamu makanlah terlebih dahulu jika merasa lapar," ujar Rama.
Hati Rama masih panas mengingat kejadian tadi sore.
Akhirnya Diska pun meletakkan Farel di atas tempat tidur lalu memberikan putranya sebuah mainan.
Diska menarik lengan sang suami yang masih duduk di atas sajadah, dia membawa sang suami untuk duduk di pinggir tempat tidur.
"Kamu marah sama aku?" tanya Diska pelan.
Diska berusaha berbicara dengan lembut pada suaminya.
Rama menoleh ke arah sang istri lalu dia menatap Diska sekilas, Dia memalingkan wajahnya memperlihatkan kekesalannya pada sang istri.
"Abang kenapa marah sama aku? Apakah aku ada melakukan salah menurut Abang?" tanya Diska hati-hati.
"Menurut kamu kamu ngelakuin kesalahan, enggak?" Rama membalikkan pertanyaan itu kepada sang istri.
Dia enggan untuk menjawab dan memberitahu kekesalannya pada sang istri.
Diska menghela napas panjang.
__ADS_1
"Bang, kamu masih ingat nggak dengan janji kita sebelum kita menikah?" tanya Diska kepada sang suami.
Diska berusaha mengingatkan perjanjian mereka sebelum menikah yaitu saling terbuka dalam masalah apapun tidak ada hal yang disembunyikan sedikitpun.
Rama terdiam, lalu dia menoleh ke arah sang istri dia menatap dalam pada wajah cantik istrinya yang terlihat kini lebih sabar dan lebih tenang daripada sebelumnya.
Seketika Rama teringat dengan masa lalu mereka yang membuat mereka tersiksa.
"Astagfirullah, apa yang sudah aku lakukan? Tak seharusnya aku bersikap seperti ini pada istriku," gumam Rama di dalam hati.
Dia menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya.
"Apakah ada hal yang bisa kamu jelaskan dengan apa yang aku lihat tadi?" tanya Rama sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Abang marah gara-gara Pak Miko memegang tangan aku tadi?" tanya Diska balik kepada suaminya.
"Mhm," gumam Rama mengiyakan pertanyaan dari sang istri.
Diska merebahkan kepalanya di atas pundak sang suami.
"Bang, seandainya tadi kamu datang terlambat menjemputku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku," tutur Diska jujur kepada sang suami.
Rama kaget mendengar ucapan sang istri. Dia berdiri tegak meminta penjelasan dari istrinya.
"Apa maksudmu?" tanya Rama.
"Bang, Miko atau kepala klinik desa Silaping merupakan salah satu senior aku sewaktu kuliah,-" Diska mulai menceritakan siapa sosok Miko.
Diska juga tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pria brengsek yang waktu itu sempat ingin melecehkan dirinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kamu tidak bisa pergi kerja seorang diri harus ada yang menjagamu selama di klinik," ujar Rama mulai mencemaskan keadaan sang istri.
Rama tidak mungkin menjaga istrinya selama 24 jam karena dia juga memiliki berbagai pekerjaan yang harus diselesaikannya selama berada di desa.
"Selama aku berada di klinik, dia tidak akan berani mendekatiku karena Kak Gina selalu berada di sampingku," ujar Diska.
Rama terdiam sejenak, dia akan memikirkan solusi dari masalah ini.
Rama pun memeluk tubuh sang istri dengan erat, dia merasa menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya sore ini.
Rama sudah berprasangka buruk terhadap istrinya yang mana hal itulah yang membuat istrinya terluka.
"Sayang, maafkan Aku sudah memikirkan yang aneh-aneh tentang dirimu," lirih Rama.
Diska tersenyum lalu dia mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan sang suami.
"Sayang, sampai kapanpun aku tidak akan berpaling darimu. 3 tahun sudah aku lewati menantimu, mungkinkah aku akan menghianati cintamu yang kini sudah aku dapatkan sepenuhnya?" ujar Diska meyakinkan Rama akan cintanya pada sang kamu udah bisa itu.
__ADS_1
Bersambung...