Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 108


__ADS_3

"Sudahlah, jangan dibahas lagi, aku akan ikuti kemauanmu," ujar Rama.


Rama tidak ingin memaksakan kehendaknya pada sang istri, menurutnya biarlah Diska yang memilih karena dia juga yang akan menjalaninya nanti.


"Kamu jadi mau berangkat kerja?" tanya Rama pada sang istri.


Rama mengingatkan Diska sudah waktunya mereka berangkat bekerja.


"Eh, iya. Aku lupa," lirih Diska mulai tersenyum.


Perang dingin pun usai, kini Rama menatap dalam wajah sang istri. Matanya kini sudah tertuju pada bibir seksi sang istri.


Tanpa menunggu lama Rama pun mulai mengecup dalam bibir sang istri.


Mereka pun hanyut dalam ci****n hangat di pagi hari.


"Aaaaaaaa, astaghfirullah," pekik Yuyun saat melihat Diska dan Rama.


Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya, lalu dia pun berniat ingin melihat Farel.


Sontak Rama dan Diska tersadar dari apa yang baru saja mereka lakukan di ruang tamu itu dengan pintu rumah masih terbuka.


Wajah Rama berubah menjadi merah karena malu. dia tidak tahu di mana akan menyimpan wajah tampannya.


"Ya ampun, Diska. kalau mau ngapa-ngapain pintunya ditutup dulu, syukur yang lihat cuman aku kalau ada yang lain gimana kan malu," ujar Mbak Yuyun baru dia pun masuk ke dalam rumah menuju kamar Farel.


"Kamu sih genit banget," gerutu Diska sambil mencubit pinggang sang suami.


Diska pun mengikuti langkah Mbak Yuyun menuju kamar Farel.


"Mbak, aku berangkat dulu, ya." Diska berpamitan pada Mbak Yuyun.


"Iya, Dis. Kalian hati-hati, ya," ujar Mbak Yuyun.


Mbak Yuyun sekarang memanggil Diska dengan sebutan nama karena Mbak Yuyun sudah menikah dengan Rudi.


Diska tidak mau Mbak Yuyun memanggilnya Nona lagi karena dia sudah menganggap Rudi seperti abangnya sendiri.


"Ayo, kita berangkat!" ajak Diska pada sang suami.


Amarahnya pada sang suami hilang begitu saja. Lalu mereka pun berangkat ke desa Silaping tempat Diska bertugas.


Di tempat lain, Rezi dan Zharin tengah menunggu ibu Sarah yang kini masih terbaring lemah di rumah sakit, begitu juga dengan Pak Bayu.


Pak Bayu yang berencana hanya 2 hari ke Bandung, kini dia sudah 3 hari di Bandung menunggui Ibu Sarah yang masih lemah belum sadarkan diri.


"Ri-rin," lirih Ibu Sarah saat matanya perlahan mulai terbuka.

__ADS_1


Dia berusaha mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Semua mata tertuju pada Ibu Sarah, Zharin dan Pak Bayu saling berpandangan.


Pak Bayu menyuruh Zharin terlebih dahulu untuk mendekati ibunya.


"Rin," lirihnya lagi memanggil putrinya.


"I-iya, Bu. Aku di sini," ujar Zharin pada ibunya.


Zharin melangkah mendekati tubuh ibunya yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Dia dengan setia menunggui wanita yang telah melahirkannya itu.


Zharin tidak mau meninggalkan ibunya walau hanya sedetik.


"Rin, di mana ibu?" tanya Ibu Sarah.


"Ibu sekarang sedang di rumah sakit," jawab Zharin jujur.


"Kenapa ke rumah sakit, Rin? Kita dapat uang dari mana?" tanya ibu Zharin khawatir dengan biaya rumah sakit.


"Ibu tenang saja, jangan terlalu banyak berpikir," ujar Zharin berusaha menenangkan sang ibu agar tidak mencemaskan masalah biaya rumah sakit.


Terlihat dari wajah ibu Zharin saat ini mulai sehat. Obat yang diberikan padanya mulai bereaksi.


Meskipun hatinya kini sudah terisi penuh oleh sosok sang istri yang sangat setia menemani dirinya puluhan tahun ini.


Ibu Sarah melihat sosok pria yang hingga saat ini masih sangat dibencinya.


"Rin," lirih ibu Sarah sambil menatap pria yang kini melangkah mendekati dirinya.


Hati Pak Bayu terasa hancur saat melihat Sarah yang kini kurus dan tidak terurus sama sekali.


Pahitnya kehidupan membuat dia terlihat lebih tua dari umurnya saat ini, jauh berbeda dengan Ibu Naina yang masih terlihat muda di usianya yang sudah menginjak angka 50 tahun.


Pak Bayu merasa sedih dan kasihan melihat Ibu Sarah, dia mulai menyalahkan dirinya yang tidak jujur dari awal tentang pernikahan paksa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan orang tua Bu Naina.


Ibu Sarah telah salah paham pada dirinya yang memiliki anak dan istri tanpa sepengetahuan dirinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ibu Zharin datar pada pria yang hingga saat ini masih berstatus sebagai suaminya karena Pak Bayu tidak pernah menceraikan ibu Sarah dan ibu Sarah juga tidak pernah mengadukan hal ini pada pengadilan agama sehingga mereka masih sah sebagai suami istri di mata hukum dan agama.


"Sa-sarah," lirih Bayu.


Bayu tak sanggup menahan air mata yang kini mulai jatuh membasahi pipinya.


Bayu ingin sekali memeluk sang istri, tapi ibu Sarah memalingkan wajahnya dari sang suami.

__ADS_1


Bayu melirik tangan Sarah, lalu dia meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Sa-sa-rah, aku mohon maafkan aku," lirih Bayu pada istri pertamanya.


"Le-lepaskan a-aku," lirih Sarah tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Bayu.


Bayu masih saja menggenggam erat tangan Sarah, lalu dia pun menyentakkan tangan Sarah dan langsung memeluk tubuh wanita yang dulu berisi, kini telah kurus karena pahitnya kehidupan yang dihadapinya.


Bayu memeluk erat tubuh ringkih itu lama, dia meluapkan rasa rindu yang selama ini masih terpendam di hatinya.


"Maafkan aku, Sarah. Kamu menderita karena ulahku," lirih Bayu berbisik di telinga Sarah.


Awalnya Sarah ingin mengelak pelukan itu, tapi dia tidak sanggup melakukan hal itu karena sejujurnya dia juga merindukan sosok Bayu yang merupakan cinta pertamanya.


Akhirnya Sarah pun membiarkan Bayu memeluknya dengan erat, air mata Sarah tak dapat dibendung lagi, karena sekian tahun tak bertemu dengan Bayu membuat dirinya rapuh dan sedih.


Sekilas pahitnya kehidupan yang selama ini dijalaninya kembali melintas di benaknya.


Seketika kebencian pada Bayu kembali membuncah di hatinya.


Sarah mendorong tubuh Bayu agar pria itu melepaskan dirinya.


Bayu pun terjatuh ke lantai karena dia tak berdiri dengan kokoh.


"Pergi! Tinggalkan aku!" bentak Ibu Sarah pada Pak Bayu.


Bayu pun perlahan berdiri.


"Sarah, seharusnya kamu dengarkan dulu penjelasan dariku," ujar Bayu memohon pada Sarah.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan karena semua telah jelas bagiku, kamu telah mengkhianati cintaku padamu," ujar Sarah mengungkapkan sakit hatinya.


"Sarah, kamu salah! Kamu belum dengarkan penjelasan dariku, kamu tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya," ujar Bayu dengan nada mulai meninggi.


Bayu ingin Sarah mengerti posisinya saat itu, saat itu dia berada di posisi terjepit.


Dengan meminta pengertian dari Naina, akhirnya Bayu berani menikahi wanita yang juga terpaksa menikah dengannya.


"Aku tidak butuh penjelasan dariku," ujar Sarah lagi.


"Bu, aku mohon!" ujar Zharin ikut membantu ayahnya.


"Rin?" lirih Sarah.


Sarah menatap tajam pada putrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2