Cinta Sang Pemuda Desa 2

Cinta Sang Pemuda Desa 2
Bab 62


__ADS_3

Pagi ini, semua keluarga Diska sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Kota Padang.


Pak Bayu dan Bu Naina sudah memutuskan akan pindah tugas ke Padang.


Sementara itu Diska akan tetap menetap di Bandung bersama keluarga kecilnya.


Mereka sengaja berangkat hari Sabtu karena Diska libur bekerja di rumah sakit.


Diska dan Rama ingin memastikan tempat tinggal pak Bayu dan Bu Naina nyaman dan aman.


Saat mereka sudah siap untuk menaiki mobil, sebuah mobil Mercedes Benz masuk ke pekarangan kediaman keluarga Pak Bayu.


Semua orang yang hendak masuk ke dalam mobil menatapi mobil mewah yang baru saja datang.


Rezi turun dari mobil mewah itu, dia memperhatikan keluarga Pak Bayu yang sudah siap untuk berangkat.


"Assalamu'alaikum," ucap Rezi menghampiri Pak Bayu dan Bu Naina.


Dia menyalami kedua orang tua Diska dengan sopan.


"Wa'alaikummussalam," jawab mereka serentak.


Rezi memandangi heran orang-orang yang sudah berdiri di teras rumah satu per satu.


"Om Bayu dan keluarga mau ke mana?" tanya Rezi pada Pak Bayu.


"Mhm, kami mau ke Padang," jawab Pak Bayu jujur.


"Ke Padang? Ngapain?" tanya Rezi pada Pak Bayu heran.


"Mhm, begini, Kak. Mama dan papa dapat tawaran bekerja di salah satu rumah sakit milik temannya yang ada di kota Padang. Awalnya mama dan papa sudah mencari lowongan di Bandung dan pulau Jawa tapi tidak ada yang mau menerima mereka," jelas Diska pada Rezi.


Rezi semakin merasa bersalah dengan apa yang kini terjadi pada kedua orang tua Diska.


Rezi terdiam mendengar penjelasan dari Diska, dia belum sanggup memberitahukan dalang di balik semua ini.


"Lalu kami juga ikut ke Padang?" tanya Rezi pada Diska.


Dia merasa takut, Diska akan ikut pindah ke Padang karena kedua orang tua Diska yang kini akan menetap di kota Padang.


"Iya, Kak. Aku ikut ke kota Padang untuk mengantarkan mama dan papa, mumpung hari Sabtu aku masih libur," jawab Diska.

__ADS_1


"Kamu tidak akan pindah ke Padang juga, kan?" tanya Rezi terus terang.


Rama menatap Rezi yang takut akan berpisah dengan istrinya, masih terlihat jelas di mata pria itu masih ada seberkas cinta untuk istrinya.


Rama langsung meraih tangan istrinya, dia menggenggam erat tangan wanitanya, dia memperlihatkan bahwa Diska adalah miliknya seorang. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil wanitanya dari sisinya.


Rezi melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Rama, hatinya mulai Mama's terbakar api cemburu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini Diska sudah menjadi milik Rama seutuhnya.


"Nak Rezi, maafkan kami. Kami harus berangkat sekarang juga," ujar Pak Bayu.


Pak Bayu melihat dengan jelas bahwa menantunya tengah cemburu melihat putrinya berbicara dengan Rezi, lagian mereka memang harus berangkat saat itu juga agar mereka tidak ketinggalan pesawat nantinya.


"Oh, iya, Om. Hati-hati ya, Om, Tante. Semoga kalian betah di sana," ujar Rezi.


Setelah itu seluruh keluarga Pak Bayu pun masuk ke dalam mobil, mereka akan diantarkan oleh sopir pribadi keluarga Pak Bayu.


Sang sopir mulai mengajarkan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bayu, Rezi masih terpaku di tempatnya, dia menatapi mobil yang membawa keluarga Pak Bayu keluar dari kawasan kediamannya.


"Diska begitu mudah kamu melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita, aku kini mulai menyadari bahwa Tak sedikitpun ada cinta di hatimu untukku," gumam Rezi di dalam hati.


Sang dokter tampan itu mulai merenungi takdir yang ada dihadapannya.


Dia kini melangkah menuju mobilnya, dia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bayu.


Pemandangan pantai yang indah membuat hatinya merasa tenang, rasa sakit melihat wanita yang dicintainya bersama sang suami perlahan mulai hilang.


Udara pantai di pagi hari terasa begitu segar, angin laut mulai menerpa wajah tampan sang dokter.


"Hei, Pak Dokter di sini," sapa seorang wanita yang tidak asing baginya.


Wanita itu langsung duduk tepat di samping Rezi tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Rezi.


Rezi menoleh ke arah Zharin, dia tersenyum pada gadis yang selalu memperlihatkan wajah riangnya.


"Ada masalah lagi, ya?" tanya Zharin pada Rezi.


Rezi tidak menjawab pertanyaan Zharin dia hanya mengembangkan senyuman manis untuk gadis pesisir itu.


Zharin baru saja membantu ibunya menjemur ikan asin di pantai, saat dia meletakkan keranjang ikan di tempat biasanya, Zharin tak sengaja melihat sosok Rezi duduk di pinggir pantai seperti biasanya di saat sang dokter tampan memiliki masalah.


Zharin tersenyum.

__ADS_1


"Oh, iya, Pak Dokter mau ikut aku, enggak?" tanya Zharin.


Rezi menautkan kedua alisnya.


"Ke mana?" tanya Rezi mulai penasaran.


"Mau ikut, enggak?" tanya Zharin.


"Mhm," gumam Rezi masih ragu.


"Ya sudah ikut saja," ujar Zharin.


Zharin pun meraih tangan Rezi, lalu dia menarik tangan kekar itu melangkah menyusuri pantai.


Mereka melangkah menapaki pasir putih sambil bergandengan tangan, sekilas mereka terlihat bagaikan sepasang kekasih.


Zharin sama sekali tidak melepaskan tangan Rezi dari genggaman tangannya.


Awalnya Rezi melirik tangannya yang digenggam oleh Zharin, di saat dia ingin melepaskan tangan tersebut entah mengapa dia enggan melakukan hal itu sehingga akhirnya dia membiarkan zarin terus menggenggam tangannya dengan erat.


Rezi muka nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Zharin terhadap dirinya.


Sepanjang jalan Zharin terus mengoceh, berbagai hal mulai diceritakannya, berbagai kenangan indah di masa kecilnya pun diceritakannya.


Zharin sudah hidup di pinggir pantai ini sejak dia berumur 5 tahun, ibu Zharin membawa Zharin ke kampung halamannya yang berada di pinggir pantai, keluarga ibu Zharin yang hidup pas-pasan membuat mereka perlahan terusir dari rumah orang tua Ibu Zharin.


Dengan susah payah Ibu Zharin berjuang membesarkan Zharin dengan kemampuannya. Ibu Zharin melakukan berbagai hal agar dia dapat menghasilkan uang.


"Ibu memang wanita yang kuat yang pernah aku tahu," lirih Zharin mengakhiri ceritanya.


"Mhm, maaf kalau aku lancang, ada hal yang membuatku penasaran," lirih Rezi penasaran.


"Apakah ayah kamu masih hidup?" tanya Rezi penasaran.


Zharin mengangkat bahunya.


"Saat ini, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," jawab Zharin.


"Apakah kamu tidak pernah menanyakan hal ini pada ibumu?" tanya Rezi lagi.


Sang dokter tampan semakin tertarik mendengarkan cerita tentang kehidupan gadis pesisir itu.

__ADS_1


"Dulu aku pernah mempertanyakan hal ini pada ibu, saat itu Ibu tidak menjawab apa-apa. dia hanya menangis tanpa menjelaskan apapun padaku, sejak itu aku mengurungkan niatku untuk mengetahui sosok ayah dalam hidupku," jawab Zharin.


Bersambung...


__ADS_2