
Dua minggu berlalu, rumah Rama sudah selesai. Rama sengaja meminta Bang Benyamin untuk mempekerjakan lebih banyak buruh agar rumahnya cepat selesai.
Alhamdulillah, dalam 2 minggu rumah Rama sudah selesai.
Rumah Rama tetap dibangun sesederhana mungkin, Rama tidak mau membuat rumah yang mencolok karena mereka tinggal di desa.
Hari ini Rama dan Diska akan pindah ke rumah baru mereka.
Sebelum mereka menempati rumah tersebut Rama mengadakan acara syukuran 'penempatan rumah'.
Acara syukuran ini diadakan Rama agar rumah baru mereka memberi keberkahan dan kedamaian untuk mereka yang tinggal di rumah tersebut.
Uci Desmi yang mengambil andil dalam acara ini karena Uci Desmi adalah orang yang sudah dianggap Rama sebagai pengganti ibunya.
Rumah baru itu kini banyak didatangi para tamu yang diundang.
Undangan yang paling penting adalah warga desa Tanjung karena tumbuhnya Rama seperti saat ini sangat banyak bantuan dari warga.
"Alhamdulillah, ya. Hidup Rama lebih baik sekarang, apalagi sekarang dia sudah menjadi orang kaya raya," ujar salah satu warga saat mereka memasak gulai ayam bersama.
"Iya, ini mungkin nikmat yang diberikan Allah kepadanya setelah ujian berat yang dilaluinya," ujar ibu lainnya.
"Pantesan Pak Didin ngotot mau nikahin Rama sama mendiang Annisa, taunya dia tahu harta peninggalan kedua orang tuanya," timpal ibu yang kain lagi.
Mereka terus saja membicarakan masalah Rama dan Pak Didin, di mata masyarakat saat ini Pak Didin sudah dipandang buruk, karena aksi bejat yang sudah dilakukannya terhadap kedua orang tua Rama.
Warga kini mulai mengagumi Rama yang sosok ramahnya tidak pernah berubah meskipun saat ini dia sudah bertransformasi menjadi seorang yang kaya raya.
Terlebih Rama menggunakan uangnya bukan untuk foya-foya, Rama menggunakan uangnya untuk modal hidupnya dengan membeli 200 hektar kebun sawit, yang mana kebun sawit itu akan menjadi pendapatan yang terus mengalir untuk hidupnya sepanjang sawitnya berbuah.
Perkebunan sawit yang dimilikinya merupakan aset dalam hidupnya.
Saat ini mesjid desa pun juga tengah dibangun dengan uang bantuan yang diberikan oleh Rama.
Rama juga tidak lupa dengan para anak-anak yatim piatu yang ada di desa Tanjung.
__ADS_1
Dia mensedekahkan penghasilannya dari sawit untuk biaya para anak yatim yang dibantu oleh Rudi menyalurkan uang tersebut.
Rama tidak memberikan uang tersebut pada pengurus mesjid atau pemerintah desa karena Rama ingin uang itu langsung sampai di tangan para anak-anak yatim piatu secara langsung tanpa ada yang memotong.
Rama tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang-orang, dia hanya mempercayai Rudi untuk membantunya atau dia sendiri yang terjun langsung menyalurkan uang tersebut.
Banyak hal tentang Rama dibicarakan oleh ibu-ibu yang kini sedang bergotong royong memasak gulai ayam untuk acara syukuran di rumah Rama.
"Alhamdulillah, Rud. Acara ini dapat dilaksanakan dengan baik." Rama mengungkap rasa bahagianya kepada sang sahabat.
"Alhamdulillah," lirih Rudi.
"Oh iya, ada kabar dari KUA katanya pernikahan kamu bisa diadakan dalam Minggu ini," ujar Rama pada Rudi.
"Benarkah? Menurutmu kapan bagusnya?" tanya Rudi pada sang sahabat.
"Hari Minggu juga bagus, Rud. Sekalian di sini kita adakan syukuran juga," ujar Rama.
"Hah? Syukuran? Biaya dari mana aku dapat, Ram," ujar Rudi kaget mendengar rencana sahabatnya.
Rama merasa bertanggung jawab untuk membantu sahabatnya itu.
Sewaktu kecil Rudi juga sering memberinya makan di saat dia tidak memiliki makanan yang akan dimakan.
Rama tidak bisa melupakan hal itu begitu saja. Dia akan melakukan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
"Ram, aku tidak mau merepotkanmu." Rudi merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu.
"Tenang saja, aku tidak merasa direpotkan olehmu karena selama ini akulah yang merapatkan dirimu," ujar Rama tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu saat ini dengan Mbak Yuyun?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan.
"Mhm, bagaimana ya? Saat ini perlahan aku mulai merasa menyukainya, apalagi sikapnya saat ini sangat perhatian pada," jawab Rudi senang.
Terlihat dari wajah sampai muda Desa itu berseri-seri bagaikan seorang yang tengah di mabuk api asmara.
Rama tersenyum saat mendengar jawaban dari sang sahabat, dia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, Semoga rumah tangga yang akan kalian jalani sakinah mawadah warohmah, langgeng hingga mau memisahkan kalian," ujar Rama.
Setelah shalat Jumat, Rama mengajak jamaah Jumat untuk datang ke rumahnya.
Rama melakukan acara berdo'a bersama setelah itu makan bersama di rumah tersebut.
Dia juga tidak lupa membungkuskan beberapa makanan yang akan dibagikan untuk para anak yatim dan orang miskin yang ada di desa Tanjung.
Saat Rama dan Rudi keluar dari masjid, mereka tidak sengaja melihat Pak Didin melangkah kaki berlawanan arah dengan jamaah lainnya.
Kelihatannya Pak Didin dan untuk menghadiri acara syukuran yang diadakan oleh Rama.
Rama pun mengajar pria paruh baya yang sudah melenyapkan nyawa kedua orang tuanya.
"Pak, Pak Didin." Rama memanggil pria tersebut.
Pak Didin menghentikan langkahnya saat Rama memanggil namanya, dia mengembalikan tubuhnya lalu menatap Rama yang kini tersenyum padanya.
Pria baru banyak itu merasa sangat malu terhadap Rama, karena ambisi dan keinginannya mendapatkan harta yang ditemukan oleh Ayah Rama membuat dirinya gelap mata sehingga menghilangkan nyawa kedua orang tua Rama dan menjadikan Rama sebagai anak yatim piatu di usia yang masih kecil.
"Pak Didin, Bapak mau ke mana?" tanya Rama dengan ramah.
"Mhm, Saya mau pulang, Nak," jawab Pak Didin.
"Kenapa Bapak pulang? Apakah Bapak tidak mau ikut mendoakan rumah yang akan aku tempati?" tanya Rama pada Pak Didin.
"Bukan begitu, Rama. Saya merasa malu kepada kamu, di saat saya sudah melukaimu dan menyakitimu, kamu masih berbuat baik kepadaku." Pak Didin mulai menangis.
Dia kini mulai menyesali apa yang sudah dilakukannya kepada Rama.
Ketamakannya akan harta yang dimiliki oleh orang tua Rama membuat dirinya gelap mata sehingga berani membunuh kedua orang tua Rama, meskipun dia sudah membunuh kedua orang tua Rahma dia sama sekali tidak mendapatkan harta yang dimiliki oleh kedua orang tua Rama karena Ayah Rama menyimpan harta tersebut di tempat yang sangat tersembunyi dan tidak pernah dikira oleh siapapun.
Beruntung harta yang disimpan oleh ayah Rama merupakan rezeki sang Pemuda desa yang hidup sebatang kara itu.
Dengan harta tersebut kini Rama bisa hidup lebih baik dari sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1